Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #8

Hak Veto Sang Suami

Itu naluri lama. Kau bergantung pada kekuatan fisik atau finansial seorang pria, kau butuh celah, sedikit cacat dalam karakternya, sebagai amunisi jika suatu hari kau harus meninggalkannya, atau sebagai pembenaran untuk sekadar mendiamkannya selama dua hari penuh.

Dulu di Pulau Belitong, aku tidak pernah kehabisan amunisi.

Kemeja Zarimuddin yang agak lusuh karena disetrika asal-asalan. Bau rokok kretek dari bibirnya setelah makan siang. Pilihan kata-katanya yang terlalu kaku untuk anak-anak. Caranya menolak ikut campur ketika ibu-ibu Dharma Wanita menyindir tas tanganku yang bukan merek asli. Semuanya adalah bahan bakar yang membakar hari-hariku, membuatku merasa berhak menjadi korban yang selalu menderita.

Lalu aku pindah ke Jakarta. Aku menikah dengan Baskoro. Dan tangki amunisiku mendadak kosong melompong.

Pagi ini, desainer interior dari Kemang datang untuk kedua kalinya minggu ini. Tujuannya adalah membahas perombakan kamar mandi tamu di penthouse kami.

"Kamar mandi yang sekarang terasa terlalu cold, Bu Tika," kata desainer bernama Kevin itu, menyebarkan tiga palet sampel marmer di atas meja kaca. "Bapak Baskoro pesan agar vibes-nya diubah jadi lebih hangat, lebih spa-like, karena Ibu sering kedatangan tamu dari circle arisan Ibu."

Aku menyilangkan kaki. Mengamati marmer Calacatta Gold yang dibanderol sembilan juta per meter persegi.

"Mas Baskoro pesan itu?" tanyaku.

"Iya, Bu. Kemarin lewat asistennya."

"Dan anggarannya?"

Kevin tersenyum profesional. "Bapak bilang tidak ada batas anggaran open budget. Yang penting Ibu Tika suka. Nah, kalau kita pakai Calacatta dipadu dengan perlengkapan rose gold dari Kohler..," kata-kata Kevin mulai terdengar seperti dengung lebah di telingaku.

Dua hari yang lalu, aku hanya menyebut sepintas saat mengeringkan rambut bahwa kamar mandi tamu terasa agak temaram dan kacanya tidak cocok dipakai mirror selfie jika teman-temanku datang. Cuma itu. Sedikit keluhan manja kelas menengah atas yang tak butuh solusi seketika.

Hari ini, tukang rombak elit ibu kota sudah ada di ruang tamuku dengan penawaran ratusan juta yang telah di-approve nol Rupiah-nya oleh pria yang sedang sibuk rapat dewan direksi di gedung menara miliknya.

Aku menatap Kevin. "Saya butuh persetujuan suami saya dulu soal warna motif rose gold ini."

"Oh, tidak usah repot-repot, Bu," Kevin terkekeh pelan. "Pak Baskoro sudah memberikan pesan tertulis. Beliau bilang, 'Hak veto sepenuhnya ada di tangan istri saya. Apa pun yang dipilih Ibu Tika, itu jawaban final'."

Hak veto sepenuhnya ada di tangan istri saya.

Lihat selengkapnya