Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #9

Spatula Pertama

Setiap orang yang kehilangan sesuatu selalu mengingat persis kapan dan di mana barang itu terakhir kali diletakkan. Kunci mobil di atas meja foyer. Dompet di saku jaket belakang. Cincin kawin di wastafel.

Tapi kehilangan identitas tidak pernah punya titik koordinat yang pasti. Ia tidak dirampas darimu dalam satu malam dengan todongan pistol. Ia dikikis pelan-pelan. Dimakan karat yang kau beri nama kesabaran. Dibungkus dalam paket-paket logis bernama pengorbanan, kodrat, dan cinta.

Bagi kebanyakan perempuan ibu kota dengan tas desainer di sebelah kiriku saat ini, kehilangan identitas mungkin dimulai ketika mereka menandatangani perjanjian pranikah. Bagiku, di Pulau Belitong enam belas tahun lalu, semuanya dimulai oleh sebuah kalkulator merek Casio yang tombol angkanya sudah pudar.

Awal 2007. Belitung Utara.

Aku sedang hamil lima bulan, mengandung Sari. Napasku mulai pendek-pendek, kakiku sedikit bengkak, tapi tanganku masih lincah mengetik di atas tuts keyboard komputer tabung biro redaksi kami. Aku baru saja menyelesaikan liputan investigasi tentang konflik lahan tambang rakyat versus korporasi.

Malam itu, aku pulang ke rumah kontrakan kami yang atapnya asbes dan dindingnya masih setengah diplester kasar. Zarimuddin sudah pulang lebih dulu. Dia duduk bersila di atas karpet plastik ruang tengah. Di depannya berserakan buku rekening bank, struk belanja pasar, dan kalkulator Casio kesayangannya.

"Baru pulang, Tik?" tanyanya. Wajahnya kelelahan, tapi ia tetap tersenyum kepadaku. Zarimuddin selalu berusaha tersenyum kepadaku di tahun-tahun awal itu.

"Iya. Naskahku baru lolos editing pusat." Aku mengempaskan tubuh di sofa busa yang pernya sudah jebol. "Deadline bikin pinggang rasanya mau putus, Mas."

Zarimuddin bangkit, menuangkan segelas air putih hangat dari termos, dan memberikannya padaku. Tangannya yang kasar membelai rambutku. "Anak Ayah sehat-sehat aja kan di dalam sana dibawa ngebut deadline?"

Aku terkekeh. "Sehat dong. Dia udah biasa diajak ke lapangan aspal dari umur satu bulan."

Tapi Zarimuddin tidak ikut tertawa. Dia kembali duduk di karpet plastiknya. Tangannya mengambil kalkulator, menekan beberapa angka dengan lambat, sebelum akhirnya menatapku.

"Tik," panggilnya pelan. "Pak Lurah baru aja datang. Harga sewa kontrakan kita naik mulai bulan depan."

Aku diam. Meneguk sisa air di gelasku. "Pindah?"

"Nyari yang lebih murah susah. Apalagi kamu lagi hamil gini, nggak mungkin kita pindahan angkat-angkat barang." Zarimuddin mengembuskan napas panjang. "Tadi aku udah hitung ulang semuanya."

Dia memutar kalkulator itu ke arahku.

Lihat selengkapnya