Ada aturan tidak tertulis di lingkaran sosialita istri-istri pengusaha Jakarta: kekuasaan suami diukur dari seberapa santai istrinya meletakkan tas di atas lantai restoran.
Jika kau memangku tasmu, kau masih menghitung cicilannya. Jika kau meletakkannya di bangku kosong di sebelahmu, kau punya uang, tapi kau masih takut rusak. Namun jika kau menjatuhkannya begitu saja di atas karpet lounge hotel tanpa melihat ke bawah, suamimu adalah orang yang bisa membeli hotel itu jika dia mau.
Siang ini, di lounge hotel The Langham, aku menjatuhkan tas Chanel Boy berbahan calfskin hitam milikku ke lantai karpet bermotif geometris. Aku bahkan tidak berkedip.
Di seberang mejaku duduk Nyonya Hermawan. Suaminya sedang dalam masa negosiasi lelang logistik tambang dengan perusahaan Baskoro. Ia menatap tasku yang tergeletak di lantai selama dua detik terlalu lama, sebelum dengan canggung meletakkan tas Celine miliknya di pangkuan. Nyonya Hermawan kalah dalam hitungan pertama.
Aku tersenyum manis, menyesap Earl Grey hangat. Posisi tawar. Itulah kegunaan barang bermerek di dunia ini. Bukan untuk fungsionalitas, tapi sebagai seragam zirah berlapis emas yang menangkis cibiran sebelum mulut mereka sempat terbuka.
"Ngomong-ngomong, ini ada sedikit suvenir," kataku, menggeser sebuah paper bag besar berwarna krem dari kursi kosong ke arahnya. "Kemarin saya mampir ke butik di Plaza Senayan. Pas lihat scarf sutra Hermes ini, saya langsung kepikiran sama tone kulit Ibu yang cerah. Pasti cocok kalau dipadukan dengan gaun sore."
Nyonya Hermawan terkesiap. Tangannya yang dipenuhi berlian mungil menerima tas itu dengan gembira yang berusaha ia tahan agar tetap terlihat elegan. "Aduh, Bu Tika... repot-repot sekali. Ini kan season terbaru."
"Sama sekali nggak repot. Cuma hadiah kecil untuk persahabatan kita."
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari lidahku. Begitu otomatis. Di bawah meja, ponselku bergetar. Satu notifikasi dari asisten pribadiku mengonfirmasi bahwa tagihan dua puluh lima juta rupiah dari butik itu sudah didebit sempurna dari rekening operasional yang diberikan Baskoro.
Hadiah kecil.
Dua puluh lima juta rupiah untuk sebuah scarf yang mungkin hanya akan dipakai satu kali di acara wine tasting. Aku membelinya semudah membeli permen di minimarket.
Aku terus tersenyum sambil mendengarkan Nyonya Hermawan bercerita soal rencana liburan keluarganya ke Swiss. Tapi pandanganku secara perlahan terpaku pada logo H emas di kotak oranye di dalam paper bag itu.
Mataku menangkap pantulan cahaya dari logo itu, dan dalam sepersekian detik, dinding kaca The Langham mencair. Karpet tebal di bawah kakiku berubah kembali menjadi aspal retak. Aroma truffle fries tergantikan oleh bau terik matahari Pulau Belitong.
Di dalam kepalaku, sebuah saku ingatan yang kututup rapat-rapat mendadak robek.
Ini bukan pertama kalinya aku berurusan dengan "hadiah kecil" berupa barang bermerek impor. Hanya saja, belasan tahun yang lalu... posisiku bukan di kursi Nyonya Hermawan, dan juga bukan di kursiku saat ini. Posisiku jauh, jauh lebih rendah dari itu.
Pulau Belitong, sekitar tahun 2013.
Kawasan perumahan KPR kelas menengah yang mayoritas dihuni oleh sesama abdi negara. Zarimuddin baru saja dilantik menjadi pejabat Eselon IV, menjabat sebagai Kepala Seksi. Di tahun itulah, ia mengambil keputusan berani pertamanya: menandatangani akad KPR untuk rumah ini. Bersamaan dengan promosi itu, lingkaran pergaulanku melonjak. Dari sekadar perkumpulan ibu-ibu staf biasa, kini aku masuk ke pusaran pergaulan istri-istri pejabat struktural.
Ajang pamer naik level. Tidak ada lagi pamer piala lomba mewarnai anak. Kini perlombaannya adalah mobil cicilan jenis apa yang terparkir di carport, dan tas desainer mana yang dicangklong istri saat arisan Korpri.
Dan di arena itu, aku kalah telak.
Zarimuddin memang naik pangkat, tapi gajinya habis dipotong cicilan bank KPR 15 tahun dan utang-utang yang terus kuperpanjang untuk membayar les mahal anak-anak kami. Dia tidak punya bisnis sampingan. Dia menolak memegang proyek. Di saat istri-istri pejabat lain memamerkan kain sutra Makassar dan tas Furla hasil kickback proyek APBD, aku masih memakai baju dari butik lokal di jalan KV Senang yang sudah kucuci puluhan kali.
Tiga tahun berlalu sejak akad kredit itu, membawa kami ke tahun 2016. Suatu sore di bulan November, sebuah mobil sedan Eropa hitam, pemandangan langka di jalanan Pulau Belitong, parkir manis di depan rumah KPR kami.