Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #11

Buku Tabungan Biru

Empat tahun lalu, saat persidangan perceraianku di Pengadilan Agama Pulau Belitong akhirnya diketuk palu, aku memberikan sebuah buku tabungan berwarna biru cerah kepada Hakim Ketua.

Buku tegak lurus itu.

Sebagai ASN laki-laki, Zarimuddin tunduk pada PP No. 10 Tahun 1983 yang kejam namun tertib. Sesuai aturan, gajinya yang sudah pas-pasan itu harus dipotong sepertiga untuk mantan istri selama masa idah, sepertiga untuk anak, dan sisa sepertiganya baru untuk ia bertahan hidup. Tapi setelah dipotong utang bank cicilan masa lalu, sepertiganya itu menguap entah ke mana. Yang paling mengiris ego prianya? Secara de jure, jatah sepertiga gaji untuk anak itu otomatis dipotong bendahara kantor dan ditransfer ke rekeningku setiap bulan sebagai hak asuh Fariz di Jakarta.

Zarimuddin hidup membesarkan Sari di Pulau Belitong nyaris dengan sisa-sisa recehan gaji.

Maka, sebagai "sistem kompensasi silang", untuk Sari, aku membuat tabungan biru khusus itu.

Aku bukan perempuan murahan yang kabur dari pulau tambang karena pria idaman lain. Aku pergi murni untuk menyelamatkan kewarasanku sendiri. Menggandeng tangan Fariz, aku merintis kembali jalur karier dari nol di ibu kota. Selama setahun pertama yang brutal sebelum aku bertemu kembali dengan Baskoro, aku memeras keringat bekerja mati-matian sebagai jurnalis lepas. Fariz terpaksa kumasukkan ke sekolah swasta murah di pinggiran Jakarta, dipaksa menelan kesombongan ibunya, hingga akhirnya pernikahan keduaku setahun kemudian mengangkat kembali derajat kami. Kartu ATM tabungan biru itu kuserahkan kepada Zarimuddin di depan panitera sebagai komitmen tertulisku: aku akan menyubsidi kehidupan Sari dari jarak jauh agar aku tidak merasa berdosa menyedot sisa gaji Zarimuddin untuk Fariz.

Dua juta rupiah.

Bagiku yang saat itu baru kembali merintis agency kecil-kecilan di Jakarta, dua juta adalah sharing cost yang berat. Namun angka itu mengikat egoku. Angka itu menjamin bahwa Sari tidak akan kekurangan, dan Zarimuddin tidak akan pernah bisa melabeliku ibu yang egois.

Semuanya berjalan mulus. Setahun kemudian, saat aku akhirnya kembali bertemu dan dinikahi secara resmi oleh Baskoro, nominal autodebit di sistem perbankan kuubah. Dari dua juta per bulan, kutarik gas secara sepihak menjadi enam juta rupiah per bulan. Uang pindah dari rekening mapanku di Jakarta mengepak ke perut mesin ATM di Pulau Belitong tanpa perlu campur tangan emosional sama sekali.

Hingga malam ini. Malam di mana semua ilusi itu terbongkar oleh satu swipe jari di layar ponsel.

Jam di atas nakas menunjukkan pukul tiga pagi. Hujan mulai turun di luar jendela penthouse, mengaburkan lampu-lampu Jakarta menjadi bercak kuning yang suram.

Baskoro bernapas teratur di sampingku. Aku meraih ponsel dari nakas karena tidak bisa tidur setelah sore tadi terjebak nostalgia saat memberikan tas mahal kepada Nyonya Hermawan. Pikiranku terus kembali ke Pulau Belitong. Kembali ke Zarimuddin. Kembali ke Dinda.

Kembali ke Sari.

Sudah empat tahun lamanya aku tidak pernah mengecek mutasi rekening penampung berwarna biru yang kugunakan untuk mentransfer uang ke Sari itu. Empat tahun aku mempercayakan kewajiban keibuanku pada fitur autodebit.

Dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan bersuhu 19 derajat, tanganku membuka aplikasi m-banking. Cahaya biru dari layar ponsel memantul di wajahku.

Lihat selengkapnya