Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #12

Piala Plastik dan Luka Nyata

Hanya dua belas jam setelah deretan angka nol di buku tabungan biru itu menjatuhkan vonis mati di dalam kepalaku, aku dipaksa kembali memakai topeng Stepford Wife milikku.

Siang itu, aula Jakarta Intercultural School disulap menjadi arena pertarungan teknologi paling bergengsi se-Jabodetabek. Puluhan robot hasil rakitan remaja-remaja belasan tahun berdengung dan bermanuver di atas karpet sirkuit buatan. Udara dipenuhi bau ozon tipis dan keringat cemas para orang tua elite yang duduk di tribun VIP. Semalam aku tidak tidur sama sekali, menatap langit-langit apartemen membayangkan kelaparan yang ditanggung Sari di Pulau Belitong. Namun siang ini, aku harus duduk tegak dengan sunglasses Tom Ford menutupi kantung mataku yang menghitam.

Fariz dan timnya baru saja memenangkan posisi juara pertama kategori Robotic Sumo.

Anak laki-lakiku mengangkat tinggi-tinggi piala kaca dan akrilik itu di atas podium. Kilatan blitz kamera fotografer kampus menyilaukan mata. Di sampingku, Baskoro bertepuk tangan bangga, bahkan sempat mengangkat tangan membentuk kepalan kemenangan saat Fariz menatap lurus ke arah tribun kami. Kontras antara kemewahan selebrasi ini dan sunyinya penderitaan di Pulau Belitong membuat perutku mual.

"Keren banget anak lo, Tik," kata salah satu ibu teman setim Fariz, menyodorkan bahunya mendekat. "Otaknya Fariz itu kayaknya jalan terus ya. Pantesan Pak Baskoro rela nebus komponen servo dari Jepang bulan lalu. Tiga puluh juta cuma buat motor penggerak robotnya, gila kan dedikasi suami lo?"

Aku tersenyum tipis. "Fariz memang agak ambisius."

"Bagus dong! Namanya juga anak cowok. Kalau budget-nya ada, gas terus."

Kalimat itu terdengar begitu ringan. Kalau budget-nya ada, gas terus.

Aku menatap Fariz yang sedang tertawa lebar bersama teman-temannya. Ia memakai jaket varsity kampus swasta elite-nya, sepatunya bersih, wajahnya tidak memancarkan kecemasan selain apakah robotnya bisa menjatuhkan lawan di sirkuit atau tidak.

Dia tidak perlu memikirkan dari mana tiga puluh juta rupiah itu berasal. Dia tidak perlu tahu bagaimana Baskoro mentransfer uang itu ke rekening guru pembimbingnya. Di dunianya saat ini, uang adalah sumber daya tak terbatas yang turun dari langit untuk mengamankan ambisinya.

Tapi melihat piala akrilik megah di tangan Fariz, pandanganku mendadak disabotase oleh bayangan yang lebih pudar. Pemandangan piala-piala lain. Bukan akrilik atau kaca, melainkan piala plastik murahan bercat emas yang mudah luntur jika digosok terlalu keras.

Piala-piala dari Belitung Utara.

Belasan tahun lalu, ketika Fariz masih SD dan Sari baru masuk TK, ruang tamu rumah KPR kami adalah etalase trofi milikku. Rak buku kayu jati Belanda, satu-satunya perabotan layak di ruang depan, kugunakan untuk memajang setiap pencapaian anak-anak.

Juara Harapan II Mewarnai Tingkat Kecamatan.

Juara III Lomba Mengeja Bahasa Inggris.

Juara I Lari Estafet Antar SD.

Bagi tamu yang datang, rak itu adalah bukti bahwa Bu Tika adalah ibu yang luar biasa gigih mendidik anaknya. Tapi bagi Zarimuddin, rak itu adalah invoice yang tak pernah lunas.

Lihat selengkapnya