Secara biologis, Sari tumbuh di dalam rahimku selama sembilan bulan. Secara anatomis, genetikanya adalah paruhan dari DNA-ku. Dia mewarisi bentuk hidungku dan kecenderunganku untuk gelisah saat sedang banyak pikiran.
Tapi secara mental dan spiritual, Sari adalah Zarimuddin yang dilahirkan kembali.
Aku baru menyadari mutasi itu ketika Sari duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Saat itu, aku sedang sibuk-sibuknya menekan Fariz di klub sepak bolanya, sehingga pengawasanku pada Sari sedikit melonggar. Kelonggaran itu menjadi celah yang dipakai Zarimuddin untuk "merebut" anak gadisnya kembali dariku.
Zarimuddin tidak pernah secara lisan menentang instruksiku agar Sari rutin mengikuti les bahasa Inggris atau bimbel matematika demi menjaga nilai rapor. Tapi dia mulai menyusup ke sela-sela waktu istirahat putrinya.
Awalnya hanya rutinitas sepele. Zarimuddin akan memanggil Sari ke teras belakang setelah Isya.
"Sari, ke sini sebentar. Coba Ayah dengerin, ini kalimatnya udah gampang dicerna buat sosialisasi besok belum?"
Dan Sari, yang biasanya murung setelah pulang les Kumon yang kubayar dengan darah, akan langsung berlari ke luar. Matanya berbinar. Ia akan duduk bersila di depan Zarimuddin yang memangku setumpuk draf materi presentasi Bappeda.
"Ini yang bagian 'optimalisasi alokasi bantuan langsung' susah banget, Yah," kata Sari, jari kecilnya menunjuk kertas HVS yang penuh coretan pena. "Kayak bahasa koran lama. Mending diganti pembagian duit dari pusat turunnya ke mana aja."
Zarimuddin tertawa kecil, sedikit dari tawa tulusnya yang tersisa. "Gitu ya? Kalau Ayah ngomong gitu di depan bupati, bisa ditegur Ayah."
"Biarin. Bupati kan melayani rakyat, bukan melayani kamus bahasa," balas Sari dengan polos tapi tajam. Tepat sasaran.
Zarimuddin menatap putrinya, lalu mencungkil sebuah spidol merah dan merevisi kalimatnya sesuai saran Sari.
Aku berdiri di balik jendela kaca ruang tengah, memandangi mereka.
Setiap kali Zarimuddin menulis kebijakan publik, menyusun sambutan untuk kepala dinas, atau merombak naskah usulan proyek daerah, Sari selalu menjadi beta tester-nya. Zarimuddin secara tidak langsung sedang mengkader anak perempuannya menjadi mesin birokrasi dan analitis yang menakutkan sedari kecil. Tidak ada bahasa bayi. Tidak ada dongeng putri raja. Yang didiskusikan ayah dan anak itu adalah inflasi, kemiskinan, dan betapa kacaunya kebijakan tambang di Belitung Utara.
Ada sebuah ikatan "Kita Berdua" yang tak terlihat tapi nyata. Kita berdua melawan kebodohan. Kita berdua bertahan dari sistem.
Dan celakanya: Kita berdua bertahan dari Ibu.