Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #14

Parfum Asing

Jakarta, Lima Tahun Kemudian.

Aroma adalah mesin waktu paling kejam yang pernah diciptakan Tuhan.

Kau bisa mengunci kenanganmu di dalam peti besi terdalam di otakmu, menumpuknya dengan memori-memori baru dari liburan ke Eropa atau tagihan tas desainer. Tapi satu persekian detik kau mencium sillage parfum tertentu, atau bau hujan di aspal, atau aroma sabun mandi bayi, seluruh pertahanan itu hancur. Kau akan langsung ditarik mundur, terkapar di titik koordinat waktu di mana kenangan itu diciptakan bertahun-tahun yang lalu.

Siang ini di Senopati, mesin waktu itu berwujud parfum Baccarat Rouge 540.

Aku sedang duduk di Anomali Coffee menunggu Baskoro menyelesaikan urusannya di sebuah hedge fund lokal di lantai atas. Di sebelah mejaku, dua perempuan muda, yang kutebak berumur awal dua puluhan dengan tas Balenciaga menjuntai dari kursi, sedang membicarakan saham dan perjalanan dinas ke Singapura.

Salah satu dari mereka mengibaskan rambutnya ke belakang. Dan angin pendingin ruangan membawa semerbak wangi manis, agak saffron, dan sedikit wangi cedarwood langsung ke lubang hidungku. Baccarat.

Tanganku yang sedang memegang cangkir americano mendadak kaku.

Sebuah pita kaset usang mulai diputar berulang-ulang di kepalaku. Tahun 2021, tak lama setelah pandemi mereda. Masa-masa akhir pernikahan kami di Belitung Utara.

Zarimuddin memang sering lembur. Bappeda adalah jantung penyusunan kebijakan kabupaten untuk memulihkan ekonomi pasca-Covid, dan saat ia menjabat sebagai Eselon III, Kepala Bidang Perencanaan Makro, pulang pukul delapan malam adalah hal yang lumrah.

Awalnya, lembur baginya berarti membawa pulang gumpalan stres. Dia akan tiba di rumah dengan kemeja kusut yang basah peluh dan disinfektan, melepaskan sepatunya nyaris dengan putus asa, dan makan malam dalam diam sebelum langsung tidur.

Tapi memasuki pengujung tahun 2021, ritmenya berubah. Pulang malamnya tetap sama, terkadang hingga pukul sembilan atau sepuluh. Namun... bau keputusasaannya menghilang.

Suatu malam, ketika aku belum tidur karena memandu Fariz menempel kliping geografi, pintu depan terbuka. Zarimuddin masuk.

Dia terlihat lelah secara fisik, tapi tidak secara mental. Matanya jernih. Ada percikan kecil di manik matanya, percikan yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak kulihat sejak ia berhenti membaca teori Amartya Sen di warkop KV Senang.

"Baru pulang, Mas?" tanyaku.

Zarimuddin tersenyum, meletakkan tas kerjanya di atas kursi. "Iya. Rapat finalisasi APBD-P memanjang. Banyak pointer pak bupati yang harus disesuaikan ulang sebelum masuk paripurna DPRD."

Aku berdiri untuk mengambil piring dari rak atas. Saat aku melewatkan badanku di dekatnya, sebuah aroma asing merayap perlahan dan menusuk indra penciumanku.

Lihat selengkapnya