Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #15

Misi Penyelidikan Flashback

Jakarta, Lima Tahun Kemudian.

Setiap perempuan memiliki insting purba, sebuah radar tak kasat mata yang mendeteksi ancaman terhadap teritorinya jauh sebelum ada bukti fisik yang mengotori sprei kasurnya.

Radar itu menyala kencang saat Zarimuddin mulai memakai parfum ke kantor, saat ia pulang lebih malam namun matanya justru terlihat lebih hidup, dan yang paling fatal: saat ia berhenti berdebat denganku soal anggaran rumah tangga. Ketika seorang pria membiarkan istrinya menang adu mulut tanpa perlawanan, itu bukan karena ia mengalah. Itu karena ia telah menemukan tempat lain di mana suaranya lebih dihargai.

Dan dari semua nama yang meluncur tanpa sengaja dari celotehan Zarimuddin tentang 'dinamika kantor', ada satu nama yang terlalu sering dieja. Rania. Si CPNS Analis Kebijakan yang baru lulus Latsar.

Hari itu, di tahun terakhir pernikahanku yang mulai sedingin ubin kuburan, aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi istri bodoh yang menangis di dapur. Aku akan merangsek masuk ke akuarium birokrasinya di Bappeda. Aku akan melihat langsung secantik apa pelakor rendahan yang berani bermain-main dengan Zarimuddin.

Aku mempersiapkan 'seranganku' dengan sangat teliti. Ini bukan sekadar sidak. Ini adalah eksekusi teritorial.

Aku merebus rendang daging sapi sejak subuh sampai warnanya cokelat pekat kehitaman dan minyak kemirinya keluar sempurna. Aku menatanya di rantang susun stainless steel. Lalu, aku menyisihkan beberapa potong ke dalam sebuah Tupperware kecil. Hadiah khusus. Kuda Troya-ku.

Setelah urusan dapur selesai, aku berganti ke medan perang visual. Aku mengenakan tunik sage green dengan potongan modern dari butik termahal di Pangkalpinang. Bahannya jatuh sempurna membalut tubuhku, menyembunyikan sisa-sisa lemak kehamilan. Jilbab paris berwarna cream kulapis dan kubentuk setajam mungkin di dahi. Aku memakai parfum LancĂ´me, yang harganya setara sepertiga gaji pokok Zarimuddin, dan sepatu hak tinggi Charles & Keith.

Aku ingin saat aku melangkah masuk ke aula Bappeda nanti, setiap pegawai honorer dan CPNS rendahan di sana menelan ludah menyadari strata sosial yang membedakan kami.

Matahari sedang memanggang aspal Tanjung Pandan saat aku mendorong pintu kaca gedung peninggalan Belanda itu.

Udara di dalam seketika terasa pengap oleh bau kertas, kopi saset, dan keputusasaan birokrat kelas menengah. Suara hak sepatuku beradu nyaring dengan lantai tegel bermotif kembang: Tak. Tak. Tak. Ketukan teratur seorang algojo.

Seketika, mesin ketik dan keyboard berhenti berbunyi. Kepala-kepala menyembul dari balik partisi kubikel yang kusam. Aku tersenyum ramah, senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun di Dharma Wanita.

"Siang, Bapak Ibu, maaf mengganggu jam kerjanya." Suaraku mengalun sopan dan wibawa. "Saya bawa rendang agak banyak, silakan nanti dicicipi ya."

Lihat selengkapnya