Layar iPad Pro M4 di pangkuanku memantulkan cahaya putih yang steril, mengukir bayangan tajam di wajahku. Cahaya itu sangat kontras dengan temaram kuning keemasan dari lampu gantung Baccarat yang menaungi meja makan marmer Italia tempatku duduk. Di sebelah kananku, secangkir earl grey dari TWG, dengan wangi bergamot yang dulu tak pernah kukenal sebelum menikah dengan Baskoro, sudah mulai mendingin, uapnya tak lagi mengepul ke udara apartemen Senopati yang selalu disetel di suhu stabil 20 derajat Celcius.
Apartemen ini sunyi. Ini bukan jenis sunyi yang mencekam, melainkan sunyi milik kekayaan. Sunyi yang dibeli dengan harga puluhan miliar rupiah untuk memastikan kebisingan lalu lintas Sudirman-Thamrin tidak berani menembus kaca antipeluru berlapis ganda di balkon sana.
Namun, malam ini, telapak tanganku berkeringat dingin menempel di pinggiran aluminium iPad.
Aku membuka aplikasi Numbers. Sudah empat tahun sejak aku resmi meninggalkan kehidupan lamaku di Pulau Belitong, empat tahun aku belajar melupakan bagaimana rasanya menghitung uang receh, empat tahun aku mendidik otakku untuk terbiasa melihat tagihan kartu kredit dengan limit tanpa batas. Baskoro tidak pernah menanyakan untuk apa aku menggesek black card-nya. Beli tas Hermès Birkin bekas karena yang baru harus masuk daftar tunggu berbulan-bulan, bayar perawatan klinik kecantikan setara harga mobil bekas, atau tagihan keanggotaan klub ekuestrian Fariz yang nilainya seratus dua puluh juta per tahun. Semua berlalu begitu saja, dibayar lunas oleh asisten keuangan suamiku tanpa ada pertanyaan kedua.
Tapi malam ini, entah setan atau malaikat apa yang merasukiku, sebuah lipatan kertas kusam yang kutemukan di dasar map dokumen lama milik Fariz telah menghancurkan dinding pertahananku.
Itu adalah slip gaji dan cetakan rekening koran TPP Zarimuddin dari empat tahun yang lalu, tepat beberapa bulan sebelum aku memutuskan kabur.
Kertas itu sudah kusam. Di sudut kiri atas, tertera jelas: Zarimuddin. Pangkat/Golongan: Penata Tingkat I / III/d. Jabatan: Kepala Bidang. Dan di bawahnya, rincian angka-angka yang dulu selalu memicu jeritan histerisku karena tak pernah cukup.
Gaji Pokok & Tunjangan: Rp 4.200.000.
TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) Eselon III: Rp 8.000.000.
Total Hak Pendapatan: Rp 12.200.000.
Di atas kertas, angka dua belas juta lebih itu seharusnya sangat melimpah untuk standar hidup di Pulau Belitong. Tapi masalahnya, ada deretan panjang angka merah di kolom potongan utang yang menelan habis hak suamiku sebelum uang itu bahkan sempat kami sentuh.
Potongan Kredit SK Bank Sumsel Babel: Rp 4.100.000.
Potongan KPR Perumahan 15 Tahun: Rp 3.500.000.
Potongan Koperasi KPRI Daerah: Rp 1.000.000.
Sisa Take Home Pay yang benar-benar bisa ditarik dari ATM: Rp 3.600.000.
Angka tiga juta enam ratus ribu itu berdengung di kepalaku. Aku meletakkan kertas itu di sebelah iPad-ku. Tekstur kasarnya sangat tidak pada tempatnya berada di atas meja marmer halus ini.
Jari telunjukku, dengan nail art seharga lima ratus ribu, mulai mengetik di layar tablet. Aku membuat dua kolom yang dulu tak pernah berani kubuat secara tertulis.
Kolom kiri: Sisa Gaji & TPP Suami.
Kolom kanan: Pengeluaran Status Istri.
Aku mengetik angka Rp 3.600.000 di kolom kiri. Sebuah jumlah sisa gaji dan TPP seorang pejabat eselon tiga yang di Jakarta saat ini bahkan tidak cukup untuk membayar jasa supir pribadiku selama sebulan penuh.
Lalu, mataku beralih ke kolom kanan. Angka-angka ini tidak pernah kutulis di buku kas rumah tangga mana pun dulu. Aku selalu menyembunyikannya, mencampuradukkannya dengan biaya beras dan listrik agar terlihat seperti "kebutuhan pokok". Tapi anehnya, setelah sekian tahun, otakku mampu merekamnya dengan akurasi presisi seorang kasir bank sentral yang dicurigai menggelapkan dana.
Aku mulai mengetik baris pertama.
Les Bahasa Inggris Cambridge Sari: Rp 850.000/bulan.
Dulu aku berkeras Sari tidak boleh les di tempat biasa bersama anak-anak tetangga kompleks yang orang tuanya hanya honorer. Sari harus di tempat yang direkomendasikan istri Sekretaris Daerah. "Anak kita harus pintar, Mas. Bahasa Inggris itu gerbang dunia," kataku pada Zarimuddin saat itu. Padahal, alasan sebenarnya adalah agar aku bisa mengangguk bangga saat arisan DWP Dharma Wanita Persatuan dan berkata, "Iya, Sari les sama native speaker."