Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #17

Titik Pecah

Ada bau yang spesifik dari keputusasaan sebuah keluarga kelas menengah ke bawah yang berusaha keras menutupi kebangkrutannya. Di rumah KPR kami di Pulau Belitong kala itu, Agustus 2022, baunya adalah racikan menjijikkan dari kapur barus murahan yang dijejalkan di lemari jati tiruan untuk mengusir kecoak, bercampur dengan uap air hujan yang merembes pelan-pelan dari dinding retak di dekat wastafel dapur.

Aku membenci bau itu. Bau itu adalah bau kegagalan. Dan malam itu, baunya terasa jauh lebih pekat dan mencekik dari biasanya.

Suara ritsleting koper berderit keras, suaranya kasar dan mengancam, memecah keheningan ruang tengah yang hanya diterangi satu lampu neon bulat sepuluh watt. Koper merah marun yang sedang kupaksa tutup itu sudah usang, salah satu rodanya macet karena terlalu sering ditarik melewati aspal kasar, tapi volumenya cukup besar untuk menelan semua sisa-sisa kehidupanku yang berharga dari pulau terpencil ini. Pakaian, tas rias, dan beberapa dokumen penting masuk tanpa susunan yang rapi. Aku sedang mengemasi hidupku.

Di seberang ruangan, berjarak sekitar empat meter dari tempatku berlutut di depan koper, Zarimuddin duduk mematung.

Dia duduk di atas kursi plastik hijau pudar yang salah satu kaki belakangnya sudah diselotip tebal berulang kali karena pernah patah. Posturnya membungkuk. Dia mengenakan kaus putih oblong yang kerahnya sudah melar dan celana pendek kain berwarna gelap yang pinggangnya kebesaran. Laki-laki itu, suamiku selama belasan tahun, tidak terlihat sedang marah. Dia juga tidak terlihat sedang bersedih. Wajahnya hanya kosong. Teramat kosong. Seperti melihat sebuah gedung tua yang fondasinya baru saja diledakkan dengan dinamit, namun bangunannya belum sempat rubuh dan hanya menunggu dorongan angin kecil untuk runtuh rata dengan tanah.

"Kamu pikir aku bercanda malam ini, Mas?" Suaraku melengking tinggi, memantul di dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas, memecah kebisuan apatis laki-laki itu. "Kamu pikir ini cuma ancaman kosong kayak bulan-bulan sebelumnya?! Aku jurnalis, Mas! Aku lulusan universitas bagus! Aku dulu punya karier yang jelas sebelum aku ketemu kamu. Aku lepaskan itu semua, aku buang identitasku buat ngurus rumah reyot ini dan ngurus anak-anakmu. Dan apa balasannya sekarang? Minta uang lima ratus ribu buat tambahan bimbelnya Sari aja kamu harus diam mikir dua hari!"

Aku mengutip skrip sebagai korban yang selalu kuucapkan dengan sangat fasih. Skrip yang sudah kulatih bertahun-tahun. Tentu saja, aku tidak menyebutkan bahwa uang bimbel "tambahan" itu sebenarnya satu paket dengan rencana pembelian sepatu kets putih branded keluaran terbaru yang kuinginkan agar Sari, dan tentu saja aku sebagai ibunya, tidak terlihat gembel saat menjemput anak-anak di depan gerbang sekolah yang dipenuhi deretan mobil para istri pejabat lainnya.

Di dalam kepalaku yang beracun saat itu, aku adalah seorang martir. Korban patriarki. Istri brilian yang sayapnya dipotong oleh suami tidak kompeten.

Zarimuddin masih menatap ke arah ubin lantai yang motifnya sudah pudar. Jari-jarinya yang kasar bertaut di antara kedua lututnya.

"Bimbelnya Sari bisa ditunda bulan depan, Tik." Suaranya keluar akhirnya. Sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. Datar, tanpa intonasi perlawanan. "Bulan ini bener-bener nggak ada sisa. SK-ku udah mentok limitnya di bank. Koperasi kantor juga belum bisa cairin pinjaman baru karena tunggakan cicilan yang kemarin belum lunas."

Itu adalah suara keputusasaan yang riil. Tapi telingaku sudah kebal. Aku hanya mendengar "tidak ada uang".

"Alasan!" teriakku sambil membanting setumpuk kemeja ke dalam koper, tak peduli kemeja itu akan kusut. "Kamu aja yang nggak mau usaha! Kamu aja yang sok suci, merasa paling bersih se-Bappeda! Kamu pikir aku nggak malu tiap kumpul acara Dharma Wanita, istri-istri eselon III yang lain tangannya penuh emas, pamer liburan, sementara aku cuma duduk di pojokan sambil bawa bekal di Tupperware kosong biar nggak kelihatan rakus pas jamuan makan?!"

Dia tidak merespons. Zarimuddin hanya menyerap makianku seperti selembar karpet tua yang menyerap tumpahan kopi hitam. Tidak ada perlawanan, tidak ada usaha untuk membersihkan diri, hanya membiarkan noda kotor itu meresap ke dalam pori-porinya.

Itu yang paling kubenci darinya. Kepatuhannya pada kesedihan. Kalau saja dia berteriak balik, kalau saja dia memukulku atau melempar barang, aku punya alasan kuat untuk melaporkannya atau membencinya secara rasional. Tapi dia hanya diam, membiarkan aku terlihat seperti perempuan gila yang sedang berteriak pada tembok kosong.

"Sudah cukup. Aku sudah muak." Aku berdiri tegak, napasku terengah-engah. Mataku menatap liar ke arah pintu kamar yang tertutup.

"Fariz! Sari! Keluar bawa tas kalian sekarang juga!" teriakku menggelegar ke seluruh penjuru rumah kecil itu. "Bunda bilang sekarang!"

Lihat selengkapnya