Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #18

Pelindung Terakhir

Taksi yang kami tumpangi melaju membelah kelamnya Jalan Jenderal Sudirman menuju arah Bandara HAS Hanandjoeddin. Hujan turun rintik-rintik, menciptakan jalinan air yang berkelok-kelok di kaca jendela, mengaburkan cahaya dari deretan lampu jalanan yang sudah menguning tua dan beberapa neon minimarket yang masih buka di pinggir kota Tanjungpandan. Wiper taksi bergerak monoton, berdecit memecah keheningan di dalam kabin.

Bau di dalam mobil ini khas taksi luar daerah: campuran pengharum ruangan beraroma jeruk sintetis yang terlalu menyengat, debu dari karpet lantai, dan sisa bau asap rokok dari penumpang sebelumnya yang menempel di jok kain usang.

Aku duduk di kursi belakang dengan punggung tegak lurus, dalam diam yang sangat tegang. Koper merah marunku bersandar kaku di bagasi belakang, seolah menjadi jangkar yang baru saja kupotong dari dermaga.

Di sebelah kiriku, Fariz meringkuk di sudut jok. Ransel hitamnya diletakkan di bawah kaki, sementara tangannya menggenggam ponsel cerdas yang layarnya redup. Ibu jarinya bergerak secara mekanis, menggeser-geser menu layar tanpa tujuan jelas. Matanya kosong menatap layar. Dia tidak benar-benar bermain game. Anak itu sedang menjadikan persegi panjang bercahaya itu sebagai tameng untuk bersembunyi dari realitas mengerikan yang baru saja ia saksikan.

Aku menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme detak jantungku yang masih berpacu liar sejak adegan perpisahan di ruang tamu tadi. Sengatan rasa malu akibat penolakan Sari yang memilih memeluk kaki ayahnya ketimbang ikut denganku masih terasa panas menyengat di kedua pipiku. Namun, dengan segala kekuatan manipulasiku, aku menekannya kuat-kuat ke dasar lambung, membungkusnya dengan label "anak kecil yang belum mengerti kerasnya dunia".

Perlahan, aku menoleh ke arah Fariz. Anak laki-lakiku. Satu-satunya pialaku malam ini. Pihak yang memilihku di atas segalanya.

"Kamu lapar, Riz?" tanyaku memecah keheningan. Aku sengaja mencoba melembutkan suaraku, merendahkan intonasinya untuk menciptakan ilusi normalitas di tengah pelarian kami yang berantakan. "Nanti sebelum ke penginapan, kita cari makan dulu ya. Mau pecel lele?"

Dia tidak menoleh sedikit pun dari layar ponselnya. "Nggak, Nda."

Hanya dua kata. Datar. Kering. Tidak ada getaran ketakutan anak kecil di sana, tapi juga sama sekali tidak ada antusiasme tentang "kehidupan baru di Jakarta" yang terus-menerus kupropagandakan padanya.

Dulu, saat duduk di taksi malam itu, egoku menafsirkan keheningan dan keputusannya untuk ikut bersamaku sebagai sebuah kemenangan mutlak. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa Fariz, sebagai anak sulung laki-laki yang sudah masuk SMA dan cerdas, bisa melihat logika dengan lebih jernih daripada adiknya. Di kepalaku, Fariz bisa melihat bahwa Zarimuddin tidak punya masa depan. Bahwa tetap tinggal di Pulau Belitong bersama seorang pegawai negeri rendahan yang keras kepala dan menolak rezeki" abu-abu" itu sama saja dengan bunuh diri secara sosial dan finansial.

Aku percaya, Fariz memilihku karena aku menjanjikan kemajuan. Karena aku adalah ibu yang ambisius, yang akan bertarung di ibu kota demi memastikan dia masuk universitas terbaik dan memiliki barang-barang mewah yang tidak bisa dibelikan oleh ayahnya. Dia berpihak pada pemenang.

Versi narasi itulah yang kubisikkan ke diriku sendiri setiap malam selama tahun-tahun pertamaku berjuang di Jakarta. Di saat aku harus merendahkan harga diriku, melobi relasi sana-sini untuk mendapatkan posisi kecil di sebuah agensi humas, menangis diam-diam di kosan sempit sebelum akhirnya bertemu Baskoro di sebuah acara gala dinner. Baskoro adalah tiket emasku menuju puncak rantai makanan Jakarta, dan aku menganggap keberadaanku di sisinya saat ini adalah bukti bahwa tindakanku membawa Fariz kabur malam itu sudah benar.

Lihat selengkapnya