Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #19

Karma Ekuestrian

# BAB 18: Karma Ekuestrian

Klub ekuestrian swasta yang terletak di kawasan Sentul, Bogor itu memiliki aroma yang sangat spesifik. Udaranya berbau campuran rumput hijau yang dipangkas presisi menggunakan mesin otomatis setiap pagi, pelana kulit sapi impor berkualitas tinggi yang baru disemir, dan kotoran kuda lapis premium yang entah bagaimana caranya tidak pernah berbau menyengat seperti kandang hewan pada umumnya. Ini adalah tempat di mana uang tidak pernah dibicarakan secara vulgar; uang dihirup langsung dari udara di sekelilingmu.

Jauh berbeda dengan bau keringat asin dan amis ikan dari pasar ikan di Tanjungpandan yang dulu rutin kukunjungi setiap subuh dengan menggunakan daster luntur.

Aku duduk menyilangkan kaki di tribun VIP berlapis karpet tebal yang dinaungi tenda putih bersih. Di tanganku, segelas sparkling water dingin dengan irisan lemon impor mengeluarkan embun yang menetes pelan mengenai cincin berlian di jari manisku.

Di lapangan pasir putih buatan di bawah sana, Fariz sedang berjuang. Ia berusaha keras menenangkan seekor kuda jenis Hanoverian berukuran raksasa yang harganya setara dengan sebuah rumah KPR kelas menengah di pinggiran Jakarta. Fariz memakai seragam berkuda lengkap yang dibeli langsung dari butik khusus di Eropa: helm beludru hitam pekat pelindung kepala, breeches putih ketat yang membalut kaki remajanya, dan sepatu bot kulit hitam mengkilap setinggi lutut yang harganya cukup untuk memberi makan keluarga Zarimuddin di Pulau Belitong selama setengah tahun.

Dari jarak sejauh ini, dengan posturnya yang tegap dan pakaian mewahnya, Fariz terlihat persis seperti pangeran kecil dari klan keluarga old money ibu kota. Sempurna. Tanpa celah.

Setidaknya, itulah ilusi visual yang kubayar sangat mahal kepada suamiku, Baskoro.

Tiba-tiba, kuda Hanoverian itu meringkik keras, menolak perintah yang diberikan Fariz. Tubuh anak remajaku itu langsung menegang kaku di atas pelana. Di pinggir lapangan, seorang instruktur berkuda berpaspor Jerman meneriakkan instruksi-instruksi tajam dalam bahasa Inggris beraksen tebal. Karena panik, Fariz menarik tali kekang terlalu kasar, sebuah kesalahan fatal yang membuat kudanya semakin stres dan bergerak liar ke samping, nyaris menjatuhkan Fariz ke atas pasir.

"Punggungnya kaku sekali," komentar pelan Ibu Sarah, yang duduk bersantai di kursi rotan tepat di sebelahku. Ia adalah istri dari salah satu dewan komisaris di perusahaan rekanan tambang milik Baskoro. Perempuan dengan pembawaan sangat tenang yang terlahir dari rahim kekayaan, bukan nouveau riche karbitan sepertiku. "Anakmu kelihatannya sedang banyak pikiran, Tika. Terlalu diforsir latihan? Mengendarai kuda itu soal mentransfer energi. Kalau penunggangnya stres, kudanya akan menolak bergerak maju."

Darahku berdesir mendengar teguran halus itu. Insting bertahanku sebagai mantan istri pejabat daerah yang gila validasi otomatis mengambil alih.

"Oh, nggak kok, Bu Sarah." Aku tersenyum otomatis. Senyum signature Dharma Wanita yang kini sudah ku-upgrade habis-habisan ke level sosialita ibu kota. Lebar, sopan, tapi matanya dingin meneliti. "Fariz memang anaknya sangat ambisius. Dia mau ikut kualifikasi tingkat nasional bulan depan. Makanya dia agak tegang karena perfeksionis. Biasalah, anak laki-laki usia segini ambisinya lagi tinggi-tingginya."

Lihat selengkapnya