Malam merayap dengan sangat lambat di atas kanopi langit Jakarta. Aku duduk sendirian di balkon apartemen Senopati milik Baskoro, menyilangkan kaki di atas kursi berjemur berbahan kayu jati Jepara. Mataku menatap kosong ke arah garis cakrawala Sudirman Central Business District SCBD yang dipenuhi ribuan titik cahaya dari jendela gedung-gedung pencakar langit. Udara di luar sini terasa tipis, menyesakkan, dan sarat polusi, tetapi aku tahu betul ini adalah jenis polusi mahal. Ini adalah udaranya orang-orang yang berhasil merangkak naik dan menang dalam kejamnya rantai makanan ibu kota.
Ponsel berlapis casing kulit asli di pangkuanku bergetar pendek. Dua kali getaran halus. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Direct Message di Instagram.
Aku membuka layarnya dengan malas. Pengirimnya adalah sebuah akun palsu tanpa foto profil, dengan username rangkaian angka acak yang baru dibuat. Namun, dari cara menyusun kalimat dan pilihan diksinya, aku tahu pasti bahwa ini adalah salah satu dari barisan istri-istri eselon DWP Kabupaten Pulau Belitong. Salah satu dari mereka yang dulu diam-diam membenciku karena aku terlalu sering memamerkan barang branded palsu dan liburan hasil utangan, meskipun status suamiku hanyalah seorang Kepala Bidang biasa. Mereka tidak pernah benar-benar melupakan kepergianku yang mendadak.
Pesan itu singkat, tajam, dan diketik dengan niat untuk melukai.
Tika, lo udah denger kabar dari kampung belum? Mas Zarimuddin nikah lagi bulan lalu. Sama Rania, anak buahnya di Bappeda yang dulu lo labrak pake rendang itu lho. Kayaknya mereka berdua bahagia banget sekarang, udah beli rumah baru juga yang lumayan gede di pinggir kota. Hebat ya, laki lo dulu miskin banget hidupnya pas sama lo, eh sekarang malah moncer dan tenang pas lo tinggalin.
Jariku seketika membeku di atas layar kaca yang bercahaya biru. Kalimat terakhir dari pesan anonim itu menampar mataku seperti kilatan lampu blitz kamera di tengah kegelapan total.
Mas Zarimuddin nikah lagi. Sama Rania. Sekarang malah moncer pas lo tinggalin.
Aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. Secara realitas material, aku sudah memiliki Baskoro. Laki-laki luar biasa kaya yang, jika dia mau, bisa membeli aset seluruh pegawai Bappeda Kabupaten Belitung Utara tanpa membuat saldo banknya goyah. Laki-laki bertutur kata lembut yang tidak pernah menuntut apa pun dariku, yang memberiku akses tak terbatas ke apartemen miliaran rupiah ini, kartu kredit tanpa limit yang tergeletak sembarangan di laci nakas, dan status sosial tak tersentuh di jajaran papan atas Jakarta.
Secara logika perhitungan dasar, aku adalah pemenang telak dalam kompetisi yang kubangun sendiri di kepalaku ini. Aku keluar dari neraka kemiskinan dan naik takhta menjadi ratu.
Namun, jika itu benar, kenapa udara di paru-paruku mendadak habis tak tersisa?
Aku meletakkan ponsel pintar itu ke atas meja kaca bundar di sebelahku dengan tangan yang gemetar hebat. Dadaku bergerak naik turun, berusaha menarik napas panjang, tetapi terasa seolah ada sabuk besi tak terlihat yang diikatkan ketat mengelilingi tulang rusukku.