Suara ledakan kaca porselen yang pecah berkeping-keping menggema keras memantul di seluruh dinding dapur apartemenku, memotong secara brutal dengung sunyi dari mesin air conditioner sentral yang sedang mendinginkan ruangan.
Benda yang hancur itu adalah sebuah piring keramik Italia berwarna putih gading. Di atasnya, scrambled egg yang dimasak slow-cooked selama dua puluh menit menggunakan mentega Lurpak dan tetesan white truffle oil murni, kini berantakan tumpah ke lantai. Telur setengah matang yang kubuat dengan tangan gemetar semenjak subuh itu menodai lantai marmer Carrara yang dipoles licin, menyebar seperti lelehan cat kuning murahan.
Aku berdiri mematung di sebelah kitchen island berlapis batu quartz. Jantungku berdetak brutal, menendang-nendang tulang rusuk dan memompa darah panas hingga ke pangkal leherku. Tanganku yang masih memegang spatula silikon ikut bergetar.
Di depanku, terpisah oleh serpihan porselen dan aroma truffle yang tajam, Fariz berdiri dengan dada naik-turun yang cepat dan tidak beraturan. Kedua belah tangannya mengepal sangat kuat di sisi paha, hingga ruas-ruas jarinya memutih. Anak remaja yang selama bertahun-tahun ini selalu menunduk mengalah, yang matanya selalu kosong pasrah menuruti perintahku layaknya boneka robot tak bernyawa, kini berubah. Matanya menyala, menyemburkan kemarahan murni yang telah lama ia tekan ke dasar hatinya sejak kami meninggalkan Pulau Belitong.
"Aku bilang aku nggak mau pergi ke babak kualifikasi itu, Nda!" teriak Fariz. Suaranya pecah di ujung kalimat, menghasilkan bunyi parau, sebuah transisi biologis yang canggung antara pita suara anak kecil dan laki-laki dewasa. "Aku nggak suka kuda! Aku nggak mau temenan sama anak-anak snob pemalas temannya Om Baskoro! Aku capek, Nda! Aku capek pura-pura jadi anak orang kaya setiap hari!"
Percikan apinya menjalar dengan sangat cepat, membakar tangki egoku. Mekanisme pertahanan otomatis yang telah kulatih belasan tahun seketika mengambil alih seluruh fungsi kewarasanku. Naluri ibuku hilang, digantikan oleh naluri bertahan hidup seorang manipulator yang tersudut.
"Jaga bicaramu di depanku, Fariz!" bentakku histeris, melemparkan spatula silikon ke dalam wastafel stainless steel hingga berdentang keras. Aku melangkah maju, menunjuk tepat ke depan hidungnya. "Kamu pikir Bunda lakuin ini semua buat siapa?! Kamu pikir gampang masukin kamu ke lingkungan elite anak-anak SCBD itu? Ini tiket masa depanmu biar kamu nggak jadi gelandangan! Kamu mau nasibmu balik jadi gembel di Pulau Belitong? Mau kayak ayahmu yang gajinya bahkan nggak cukup cuma buat beli tiket pesawat kelas ekonomi?!"
Alih-alih menyusut ketakutan seperti yang selalu dilakukannya saat ia masih SMP di rumah kredit dulu, Fariz justru merespons dengan gerakan yang mengejutkanku. Anak itu maju selangkah dengan berani, tidak menghindari telunjukku, menantang tatapanku secara langsung.
Baru kusadari pagi ini bahwa posturnya kini sudah tumbuh jauh lebih tinggi dariku. Otot-otot lehernya terlihat kaku. Dan di detik itu, bayangan wajah Zarimuddin terpantul telak di garis rahangnya yang persegi dan menegang. Seolah aku sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu yang datang untuk menagih janji.
"Ayah emang gajinya kecil!" balas Fariz tak kalah lantang, mengabaikan statusku sebagai figur otoritas. Urat di pelipis dan lehernya menonjol kemerahan. "Ayah miskin! Tapi setidaknya Ayah nggak pernah maksa aku jadi badut sirkus buat dipamerin ke temen-temen tongkrongannya!"
"Bunda nggak pernah maksa kamu jadi badut, Fariz! Bunda ngasih kamu privilese! Sesuatu yang ayahmu yang pengecut itu nggak akan pernah bisa ngasih ke kamu sampai kiamat!" teriakku, suaraku melengking nyaring hingga memekakkan telingaku sendiri.