Pintu utama apartemen kayu oak berpelitur itu telah tertutup rapat, tapi gema bantingannya seolah masih bergaung liar memantul di antara pilar-pilar marmer ruang tengah. Suara bantingan pintu itu bukan sekadar bunyi benturan fisik; itu adalah suara ledakan yang meruntuhkan menara gading yang kubangun selama empat tahun terakhir.
Fariz telah pergi entah ke mana, membawa serta statusku sebagai "ibu yang menyelamatkan anaknya".
Aku masih duduk tersungkur di lantai dapur, kedua telapak tanganku menyentuh permukaan marmer Carrara yang membekukan kulit. Di sebelah kanan lututku, gumpalan scrambled egg dengan aroma white truffle perlahan mengering dan mendingin di atas serpihan porselen putih gading. Pemandangan makanan mahal yang hancur berantakan itu adalah metafora yang terlalu literal untuk hidupku saat ini.
Gemetar di sekujur tubuhku belum juga berhenti. Kalimat terakhir Fariz terus berputar ulang di dalam kepalaku, diputar dalam volume maksimum tanpa ampun.
"Bunda mau bikin aku stres dan gila di Jakarta ini, persis sama kayak Bunda bikin Ayah Zarim stres sampai mau mati dulu di Pulau Belitong?!"
Aku menelan ludah. Kering. Tidak ada air mata yang keluar; kejutan dari kebenaran yang telanjang itu terlalu masif hingga melumpuhkan kelenjar air mataku.
Dengan sisa-sisa tenaga, aku memaksakan diri merangkak naik, berpegangan pada pinggiran kitchen island. Lututku terasa seperti diisi pasir basah. Aku berjalan terseok-seok melintasi ruang tamu yang luasnya bisa memuat tiga rumah kreditanku dulu. Sofa-sofa kulit, karpet Turki handmade, televisi layar datar raksasa yang menempel di dinding, semua kemewahan yang dibeli dengan uang Baskoro ini mendadak terasa seperti perabotan di dalam sebuah mausoleum. Kuburan mewah tempat aku mengubur nuraniku hidup-hidup.
Aku masuk ke dalam kamar utama. Baskoro sudah berangkat ke kantornya di kawasan Thamrin sejak pagi buta, meninggalkanku dalam kesunyian mutlak. Aku berjalan menuju ruang ganti ganda walk-in closet yang ukurannya sebesar kamar tidur utamaku di Pulau Belitong.
Di sudut ruangan itu, tersembunyi di balik deretan kemeja sutra dan tas-tas kulit eksotis, terdapat sebuah brankas baja digital yang ditanam ke dinding. Baskoro memberiku kode aksesnya di minggu pertama pernikahan kami, sebuah gestur kepercayaan old money yang elegan. Di dalamnya tersimpan perhiasan berlian, beberapa batang emas Antam, sertifikat apartemen atas namaku, dan dokumen berharga lainnya.
Tapi bukan benda-berbenda berkilau itu yang kucari.
Aku menekan kombinasi enam digit angka. Terdengar bunyi klik elektronik yang pelan, dan pintu baja yang tebal itu terbuka. Aku mengabaikan kotak perhiasan Cartier berwarna merah tua dan langsung meraih sebuah benda kusam yang terselip paling bawah, di bawah tumpukan sertifikat tanah.
Sebuah buku harian bersampul kulit imitasi hitam yang sudah pecah-pecah pinggirannya.