Pukul 02:30 dini hari. Suara dengkuran pelan dari sisi kiri tempat tidur berukuran king size ini berirama teratur.
Aku berbaring miring dengan mata terbuka lebar, menatap punggung Baskoro yang dibalut piyama sutra abu-abu mahal. Cahaya redup dari lampu tidur di atas nakas memantul lembut di atas seprai Egyptian cotton yang kehalusannya membuat kulit terasa seperti melayang.
Baskoro adalah definisi laki-laki yang diimpikan oleh setiap karakter perempuan dalam novel-novel romansa murahan yang sering dibaca oleh ibu-ibu muda. Dia kaya raya, sangat tenang, tidak pernah main tangan, dan memperlakukanku layaknya porselen Ming peninggalan dinasti yang berharga tak ternilai. Dia jarang menuntut. Kalaupun dia stres karena harga saham perusahaannya anjlok atau negosiasi tambangnya alot, dia hanya akan mengurung diri di ruang kerjanya sambil mengisap cerutu Kuba, tanpa pernah sekali pun melampiaskan kemarahannya kepadaku atau pelayan di apartemen ini.
Dulu, di tahun pertama pernikahan kami, aku sering membandingkan Baskoro dengan Zarimuddin dalam hati, dan selalu berujung pada kesimpulan betapa beruntungnya aku "naik kelas". Aku melihat ketenangan Baskoro sebagai bukti superioritas kelas sosialnya, dan melihat kebisuan Zarimuddin sebagai bukti kelemahannya sebagai laki-laki gagal.
Namun malam ini, dengan lapisan manipulasi diriku yang telah dikuliti habis-habisan oleh Fariz siang tadi, komparasi itu menghasilkan kesimpulan yang memuakkan perutku.
Baskoro tidak pernah marah karena dia tidak perlu marah.
Baskoro bisa membiarkan aku menggesek kartu kreditnya puluhan juta dalam sehari tanpa bertanya, murni karena angka puluhan juta baginya hanyalah rounding error di pembukuan keuangannya. Dia tidak perlu berdebat denganku soal harga tas atau biaya klub ekuestrian Fariz karena bagi struktur finansialnya, pengeluaran itu tidak mengancam stabilitas kelangsungan hidupnya sedikit pun. Toleransinya bukan dibentuk oleh kedalaman cinta yang luar biasa, melainkan dibentuk oleh privilege ketidakterbatasan sumber daya materi.
Sementara Zarimuddin?
Pikiranku ditarik mundur ke sebuah malam di Pulau Belitong, belasan tahun yang lalu. Malam ketika aku merengek histeris meminta agar dapur rumah KPR kami direnovasi total agar setara dengan dapur milik istri Kepala Bidang Tata Ruang yang baru saja pamer foto di grup BlackBerry Messenger. Aku ingat bagaimana aku mengancam akan membawa anak-anak pulang ke rumah orang tuaku jika permintaanku tidak dituruti, sebuah ancaman klasik yang menjijikkan namun selalu efektif.
Zarimuddin, pada saat itu, gajinya sudah dipotong habis-habisan oleh bank. Dia hanya memiliki uang untuk membeli susu formula Sari dan beras untuk minggu itu.