Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #24

Menghitung Ratusan Rupiah

Kata-kata Fariz di dapur pagi tadi terus menancap di tengkorakku, menggaung secara repetitif seperti kaset rusak yang menolak berhenti berputar.

"Aku denger Ayah nangis di kamar mandi sambil ngitung uang koin sisa di dompetnya setelah Bunda maki-maki dia karena minta dibeliin tas baru!"

Sejak siang hingga sore hari, aku berusaha keras memblokir ingatan tersebut. Aku memaksakan diri meminum dua butir Xanax dari resep psikiater eksklusifku di Kemang, mencoba menenggelamkan rasa panik yang merayap di bawah kulitku. Tapi malam ini, saat kegelapan turun menyelimuti ibu kota dan keheningan apartemen mulai mencekik, memori itu berhasil membobol barikade pertahanan alam bawah sadarku.

Pikiranku ditarik paksa menembus ruang dan waktu, kembali ke sebuah malam jahanam di Tanjungpandan, Pulau Belitong, belasan tahun yang lalu.

Malam itu hujan turun sangat deras, menghantam atap asbes rumah KPR kami dengan suara bising yang memekakkan telinga. Rumah itu terasa lebih lembap dari biasanya, udara dipenuhi aroma tanah basah dan lumut dari tembok belakang yang bocor.

Sekitar pukul sebelas malam, aku terbangun karena kandung kemihku penuh. Udara malam itu sangat dingin. Aku turun dari kasur busa yang pernya sudah mulai terasa menusuk punggung, berjalan gontai keluar kamar menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang dekat dapur kotor.

Saat aku melewati ruang tengah yang gelap gulita, mataku menangkap celah cahaya kekuningan yang bocor dari bawah pintu kamar mandi yang sedikit renggang.

Hanya itu. Tapi telingaku menangkap suara lain. Suara yang sangat pelan, sangat tipis, nyaris tenggelam oleh suara derau hujan di atap asbes.

Bunyi logam yang saling berbenturan. Cling. Clink. Pelan. Terukur.

Rasa kantukku sedikit menguap oleh rasa penasaran. Aku berjalan tanpa suara mendekati pintu kamar mandi yang engselnya sudah karatan itu. Aku mengintip dari celah kecil selebar beberapa milimeter antara daun pintu dan kusen kayu yang lapuk.

Di dalam sana, diterangi oleh lampu bohlam kuning lima watt yang berkedip-kedip kembang kempis, duduklah Zarimuddin.

Suamiku, seorang Pejabat Eselon yang pagi harinya memakai seragam khaki dan disalimi oleh staf honorernya, malam itu duduk di atas lantai keramik kamar mandi yang basah dan berlendir karena jarang disikat. Ia hanya mengenakan celana pendek pudar tanpa atasan. Tubuhnya yang kurus melengkung ke depan, bahunya turun seperti memikul beban fisik tak kasatmata.

Lihat selengkapnya