Salah satu mekanisme pertahanan diri terbaik yang diciptakan oleh kaum nouveau riche di Jakarta untuk menutupi rasa bersalah mereka atas dosa-dosa masa lalu adalah dengan menghadiri acara amal. Semakin besar dosa yang ingin dikubur, semakin mahal pula harga meja yang harus dibayar di acara Charity Gala tersebut.
Malam ini, aku sedang berusaha mengubur dosa-dosaku di ballroom utama The Ritz-Carlton Pacific Place.
Aku berdiri di depan cermin raksasa full-body di area foyer apartemenku, membiarkan dua orang asisten penata gaya pribadiku melakukan sentuhan akhir. Tubuhku dibalut gaun malam haute couture rancangan desainer lokal papan atas yang harganya bisa membiayai operasi jantung beberapa pasien BPJS. Gaun berwarna midnight blue itu memeluk tubuhku dengan presisi yang hanya bisa didapatkan melalui tiga kali sesi pengepasan eksklusif. Kain sutranya jatuh menutupi sepatuku, dihiasi ribuan payet kristal Swarovski yang dijahit tangan, memantulkan cahaya lampu seperti rasi bintang di langit malam yang bersih.
Di leherku melingkar sebuah kalung berlian model choker yang merupakan hadiah ulang tahun dari Baskoro tahun lalu. Bobot batunya terasa dingin di kulitku. Ini bukan sekadar perhiasan; ini adalah baju zirahku. Pelindung antipeluru yang akan menangkis ingatan apa pun tentang Zarimuddin yang menangis menghitung uang koin di lantai kamar mandi berjamur malam itu.
"Sempurna, Bu Tika," puji penata riasku, seorang laki-laki kemayu dengan honor fantastis. Ia menyemprotkan setting spray dengan aroma mawar lembut ke wajahku. "Ibu kelihatan kayak ratu malam ini. Pasti jadi pusat perhatian di meja VVIP nanti."
Aku memberikan senyum tipis yang memamerkan lipstik Chanel merah gelapku. "Terima kasih, Rian. Kamu memang selalu tahu apa yang saya mau."
Itulah yang kubutuhkan malam ini. Validasi absolut. Aku butuh berada di ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang kekayaannya mendikte hukum gravitasi kota ini. Aku butuh dikelilingi oleh percakapan artifisial tentang liburan musim dingin di Gstaad, Swiss, dan lelang lukisan maestro bernilai miliaran rupiah yang dananya diklaim akan "disumbangkan untuk anak-anak putus sekolah di wilayah Timur", padahal semua orang tahu bahwa acara ini tak lebih dari sekadar ajang pamer kekuasaan, pamer perhiasan, dan kesempatan untuk mendapat pemotongan pajak perusahaan.
Baskoro muncul dari balik pintu ruang kerjanya, mengenakan tuksedo hitam pekat dengan potongan bespoke dari penjahit asal Italia. Dia tersenyum melihatku, mendekat, dan mencium pipiku ringan agar tak merusak riasanku. "Kamu luar biasa malam ini, Sayang. Mobil sudah siap di bawah."