Orkestra di sudut ballroom masih memainkan melodi Vivaldi dengan tempo riang, namun di telingaku, musik itu telah berubah frekuensi menjadi bunyi dengung putih yang memekakkan telinga. Ruangan mahaluas yang diisi oleh ratusan manusia elite Jakarta ini mendadak terasa menyusut, udara di dalamnya seolah disedot keluar oleh sebuah kipas raksasa yang tak kasatmata.
Di ambang pintu masuk utama, berjarak sekitar dua puluh meter dari tempatku mematung, Dinda Maharani Hartono berdiri.
Selama beberapa detik yang terasa membekukan waktu, aku nyaris tidak mengenalinya. Bayangan terakhirku tentang Dinda di kepalaku adalah seorang gadis sekolahan yang sinis, keras kepala, yang suka memberontak dengan memakai baju-baju kebesaran atau celana jin robek di atas motor trail-nya saat membonceng Sari keliling kota Tanjungpandan. Seorang gadis remaja yang kaya raya karena warisan papanya, sang raja tambang timah, tetapi tak pernah benar-benar memedulikan estetika kelas atas.
Namun perempuan yang berdiri di pintu masuk itu bukan lagi gadis remaja pemberontak dari kampung tambang.
Dinda telah berevolusi menjadi wujud utuh dari manifestasi old money yang mematikan. Ia tidak memakai gaun haute couture berpayet kristal yang berteriak meminta perhatian seperti yang kukenakan. Ia hanya mengenakan slip dress panjang berwarna emerald green berbahan sutra murni yang memeluk tubuh dewasanya dengan keanggunan yang mengintimidasi. Tidak ada payet. Tidak ada renda murahan. Hanya potongan kain yang dijahit dengan kesempurnaan arsitektural. Rambut panjangnya ditata sanggul rendah yang terlihat kasual namun tidak ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya.
Satu-satunya perhiasan yang ia kenakan hanyalah sepasang anting emerald berbentuk tetesan air teardrop dan sebuah jam tangan Patek Philippe vintage bertatahkan berlian di pergelangan tangan kirinya. Ia tidak butuh baju zirah untuk menangkis tatapan meremehkan dari orang-orang. Auranya sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun yang berniat merendahkannya akan menelan ludahnya sendiri.
Ia terlihat begitu... mahal. Bukan mahal artifisial hasil karbitan yang kutampilkan, melainkan mahal yang mengakar dalam DNA.
Jantungku berdegup sangat keras, menghantam dinding dadaku hingga rasanya tulang rusukku akan retak.
Beberapa istri pengusaha di sekitarku mulai berbisik, mata mereka dengan cepat men-scan dan mengevaluasi penampilan tamu baru yang tidak masuk dalam radar sirkel pergaulan reguler mereka itu. Mereka adalah pemangsa di habitat ini, tapi bahkan mereka bisa mengenali apex predator ketika melihatnya.
Dinda menyerahkan mantel cashmere tipisnya kepada pelayan wanita dengan gerakan tangan yang nyaris tanpa usaha, sebuah gestur aristokratis murni. Dan kemudian, matanya yang tajam bak elang pemangsa mulai menyapu kerumunan di dalam ballroom.
Ia tidak sedang menikmati kemegahan lampu chandelier. Ia tidak sedang mencari relasi bisnis. Matanya yang gelap, dingin, dan terukur presisi itu bergerak sistematis dari satu kelompok sosialita ke kelompok lainnya.
Dia sedang berburu. Dia mencariku.