Koridor samping yang menuju ke arah teras ballroom The Ritz-Carlton ini sengaja didesain remang-remang, memberikan ilusi privasi bagi para eksekutif yang butuh menelepon tanpa gangguan atau para sosialita yang ingin merapikan riasan. Namun malam ini, udara di koridor kedap suara ini terasa sebeku kamar mayat.
Langkah kakiku yang memakai sepatu hak tinggi buatan Christian Louboutin terdengar goyah, bertalu pelan di atas karpet tebal saat aku mengikuti Dinda dari belakang. Ia berhenti tepat di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip jalanan Sudirman di bawah sana. Ia berdiri menyamping, menatap ke arah kemacetan lalu lintas, siluet tubuh dewasanya terpantul sempurna di kaca antipeluru itu.
Aku berdiri berjarak satu meter di belakangnya. Aku meremas tanganku sendiri, mencoba mencari sisa-sisa wibawaku sebagai perempuan yang jauh lebih tua. Aku tidak boleh membiarkan anak ingusan dari Pulau Belitong ini mengontrol emosiku di kotaku sendiri.
"Ada masalah apa kamu jauh-jauh nyari Kakak ke Jakarta, Dinda?" pancingku, berusaha menekan nada suaraku agar terdengar lebih stabil dan sedikit merendahkan. Aku mencoba taktik gaslighting klasikku. "Kalau kamu butuh bantuan soal bisnis papamu, kamu bisa sampaikan secara profesional. Nggak perlu bikin drama di acara amal yang dihadiri suami Kakak. Baskoro itu orang penting di sini."
Dinda tidak bergerak. Ia tidak terpancing oleh umpan kesombonganku. Ia perlahan memutar tubuhnya untuk menghadapku. Wajahnya yang diwarisi percampuran gen Tionghoa dan Melayu itu terlihat luar biasa dingin dan asimetris dalam pencahayaan temaram ini.
"Aku tidak butuh bantuan apa pun dari suami barumu itu, Kak Tika," jawab Dinda. Suaranya tidak naik satu oktaf pun. Ia berbicara dengan nada yang sangat klinis, persis seperti seorang auditor bank yang membacakan laporan kebangkrutan sebuah perusahaan korup. "Pabrik timah papaku dan cash flow keluargaku cukup sehat untuk membeli seluruh aset suamimu dalam hitungan minggu jika aku berniat memusuhinya. Jadi tolong, simpan gertakan sosialitamu itu untuk teman-teman arisanmu. Di mataku, Kakak tetaplah Kak Tika yang sama. Pengecut, manipulatif, dan kabur dari tanggung jawab saat kapalnya mulai tenggelam."
Kalimat itu menamparku telak. Aku memelototkan mataku, darahku seketika mendidih oleh rasa terhina. "Jaga bicaramu! Kamu nggak tahu apa-apa soal rumah tanggaku dengan Zarimuddin! Kakak yang jadi korban di sana! Kamu nggak tahu rasanya jadi perempuan yang potensinya dikurung dan disuruh diam oleh suami yang nggak punya visi masa depan!"
"Aku tahu persis apa yang Kakak lakukan di rumah kreditan busuk itu," potong Dinda cepat. Ketajaman suaranya membedah pertahananku. "Aku tahu Zarimuddin memang laki-laki lamban yang naif. Tapi aku juga tahu bahwa Kakaklah yang memeras darahnya setiap hari. Kakak yang memaksanya menggadaikan SK, memaksa anak-anak Kakak ikut ratusan perlombaan tolol yang mereka benci, dan Kakak yang membuang anak kandung perempuan Kakak sendiri di malam hujan badai itu hanya karena dia tidak mau menjadi perisai keegoisan Kakak seperti Fariz."
"Sari yang nolak diajak pergi!" bantahku histeris, menunjuk ke arahnya. "Bukan Kakak yang buang dia! Anak itu yang milih hidup melarat sama ayahnya! Kakak sudah siapkan masa depan yang bagus buat dia di Jakarta!"