"Laporan audit belum selesai," kata-kata Dinda Maharani Hartono menggema di koridor remang-remang itu, menekan seluruh oksigen di sekitarku hingga habis tak bersisa. Aku masih berlutut di atas karpet tebal, menggenggam dokumen perjanjian bermaterai itu di tanganku yang gemetar — surat yang membuktikan bahwa uang dosaku selama ini sedang bekerja, berbunga, dan suatu hari akan ditagih balik oleh anakku sendiri beserta seluruh keuntungannya. Maskaraku luntur menetes menghitam, menodai gaun midnight blue haute couture yang harganya kini terasa semurah gombal pel.
Aku mendongak, menatap wajah perempuan muda yang berdiri menjulang di atasku dengan postur aristokratisnya. "Uang itu..." Suaraku bergetar parah, nyaris tak lebih dari sekadar hembusan napas putus asa. "Uang itu dia kunci di portofolio investasi kamu. Tapi dari mana dia bayar biaya hidupnya sehari-hari? Dari mana dia bayar iuran sekolahnya? Les bahasa Inggris? Persiapan masuk UI? Zarimuddin nggak mungkin mampu bayar itu semua. Gaji bapaknya udah minus dipotong bank!"
Itu adalah sisa-sisa terakhir dari ego normatifku yang mencoba bertahan hidup. Aku masih mencoba mencari celah untuk membuktikan bahwa tanpa uangku, kehidupan mereka pasti hancur. Bahwa keberadaanku, setidaknya dompetku, adalah fondasi utama kelangsungan peradaban mereka.
Dinda menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh dipenuhi oleh rasa kasihan yang merendahkan. Jenis tatapan yang diberikan oleh seorang profesor kepada seorang mahasiswa tahun pertama yang baru saja mengajukan pertanyaan terbodoh di kelas.
"Kakak pikir, satu-satunya sumber uang di dunia ini cuma rekening bank apartemen Kakak?" Dinda mendengus pelan, senyum sinisnya kembali menggores wajahnya. "Kakak lupa dengan siapa Kakak sedang berhadapan sekarang."
Ia melangkah perlahan, suara hak sepatunya mengetuk pelan namun berirama teratur. "Saat Kakak kabur dan menculik anak sulung Kakak, Kakak meninggalkan Sari dalam keadaan psikologis yang hancur total. Dia depresi berat, Kakak. Ibunya membuangnya seperti sampah karena dia memilih ayahnya. Ayahnya, Bang Zarim, sedang sekarat diam-diam karena tekanan mental, tidak mampu membedakan mana kawan dan mana predator. Mereka berdua nyaris tenggelam di dasar jurang kehancuran."
Dinda menghentikan langkahnya tepat di hadapanku.
"Aku yang menarik mereka keluar dari jurang itu, Kakak." Suara Dinda berubah menjadi sedingin es di kutub. "Uang Kakak memang dia investasikan — tapi itu beda cerita. Uang itu dia simpan sebagai modal masa depan yang akan dia rampas balik dari Kakak suatu hari. Untuk kebutuhan hidup hariannya, tidak ada satu sen pun dari uang Kakak yang dia sentuh. Saat dia menangis karena nggak bisa bayar iuran sekolah dan trauma akut, aku yang turun tangan. Aku membiayai seluruh pendidikannya. Aku yang menanggung biaya sesi-sesi konselingnya di Klinik Larasati Pattimura untuk menyembuhkan trauma yang Kakak tanamkan di kepalanya. Aku yang membayar penuh kelas intensif masuk Universitas Indonesia."
Setiap kata yang keluar dari mulut Dinda menghantam dadaku layaknya peluru tajam.
"Kamu... kamu bayarin semuanya?" gumamku, nyaris tak terdengar. Mataku terbelalak lebar, menolak memproses informasi horor tersebut.