Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #29

Tragedi di Dalam Camry

Air mata tak lagi mampu meredakan rasa sakit yang membakar seluruh organ di dalam tubuhku. Aku masih berlutut di lantai karpet koridor The Ritz-Carlton yang pengap ini, terisolasi penuh dari denting gelas champagne dan tawa renyah ratusan sosialita di dalam ballroom sana. Duniaku kini telah mengerucut menjadi sekotak neraka sempit selebar dua meter, tempat di mana Dinda Maharani Hartono berdiri menjulang sebagai sang penuntut umum.

Aku mendongak menatapnya. Napasku tersengal-sengal dan memburu. "A... apa maksudmu dengan bagian akhirnya? Apa lagi yang terjadi sama Sari? Bilang sama Kakak, Dinda! Apa?!" jeritku panik, suaraku parau akibat tangisan histeris yang tak kunjung berhenti.

Seburuk-buruknya aku sebagai seorang ibu, se-narsistik apa pun diriku saat meninggalkan mereka di malam pelarian empat tahun yang lalu, aku masih memiliki residu naluri keibuan. Bayangan bahwa anak perempuanku, putri kandungku satu-satunya, terluka secara fisik saat aku sedang menikmati fasilitas mewah di ibu kota adalah sebuah siksaan yang mustahil untuk bisa kutanggung.

Dinda tidak bergeming. Ia melipat kedua lengannya yang terbalut sutra emerald di depan dada. Gesturnya sangat santai, kontras dengan kengerian kisah yang akan segera ia lontarkan.

"Kakak ingat laki-laki bernama Pramono dari kantor Bappeda? Sahabat seangkatan Bang Zarim yang selalu Kakak dan suamimu sambut layaknya saudara kandung sendiri di rumah?" Dinda memulai interogasinya dengan nada rendah yang membunuh.

Nama itu memicu ingatan samar di kepalaku.

Pramono. PNS Bappeda yang selalu berpenampilan rapi dan sok ramah itu. Dulu, ketika aku kabur meninggalkan Pulau Belitong dan mengganti seluruh nomorku demi melarikan diri dari kemiskinan dan utang bank, Pramono adalah orang yang paling sering diceritakan dalam keluhan-keluhan masa laluku sebagai sosok 'pahlawan' yang membantu suamiku.

"Bang Zarim hancur lebur saat Kakak pergi meninggalkannya dengan tumpukan utang bank puluhan juta," lanjut Dinda pelan, mendeskripsikan fakta dengan ketepatan forensik. "Dan Pramono masuk ke dalam celah kehancuran itu. Dia bertingkah seperti dewa penyelamat. Menemani Bang Zarim, mengurus kebutuhannya, dan secara sistematis mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh rumah, memposisikan dirinya sebagai paman yang baik bagi Sari."

Aku menelan ludah. Keringat dingin mengucur deras dari dahiku.

Lihat selengkapnya