Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #30

Ruangan Tanpa Udara

Perjalanan pulang dari The Ritz-Carlton menuju apartemen Senopati malam itu terasa seperti melintasi ruang hampa udara.

Aku duduk bersandar di kursi penumpang belakang Bentley Mulsanne milik Baskoro. Kulit sapi murni yang membalut jok mobil ini, yang konon dijahit tangan oleh para ahli di Inggris, terasa serealistis plastik murahan. Lampu-lampu jalan tol kota Jakarta berkelebat membias di kaca jendela gelap, namun mataku tidak menangkap satu pun detailnya. Otakku telah berhenti memproses input visual dari luar sejak Dinda melangkah pergi meninggalkanku di koridor hotel tadi.

Duniaku telah kiamat. Bukan kiamat yang diiringi terompet sangkakala dan api yang turun dari langit, melainkan kiamat sunyi yang meruntuhkan setiap fondasi kewarasanku dari dalam.

Setibanya di lobi apartemen, resepsionis yang berjaga membungkuk hormat.

"Malam, Ibu Tika. Acaranya lancar?" sapanya dengan senyum terlatih.

Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak menoleh padanya. Aku terus berjalan lurus menuju lift pribadi seperti sesosok mayat hidup yang dikendalikan oleh sisa-sisa impuls saraf. Langkah kakiku terseret, heels mahalku bergesekan dengan lantai marmer lobi menghasilkan suara decit yang memilukan.

Pintu lift terbuka di penthouse kami. Apartemen ini sangat sunyi. Baskoro rupanya sudah pulang lebih dulu, karena kulihat jas tuksedonya tergantung rapi di valet stand di sudut ruang keluarga. Lampu utama sudah diredupkan, hanya menyisakan lampu-lampu ambience berwarna kekuningan hangat yang menyorot lukisan-lukisan abstrak koleksi suamiku.

Dulu, kehangatan visual ruangan ini selalu memberiku rasa aman. Rasa aman bahwa aku dikelilingi oleh uang, perlindungan absolut, dan laki-laki yang menjauhkanku dari segala ketidakpastian finansial yang selama belasan tahun menerorku di Pulau Belitong. Tapi malam ini, apartemen miliaran rupiah ini terasa persis seperti ruang eksekusi tanpa jendela. Udaranya telah disedot habis.

Aku berjalan terhuyung menuju mini bar, meraih botol Macallan 18 tahun yang belum dibuka, dan menuangkan cairan ambar itu ke dalam gelas kristal pendek tanpa mencampurnya dengan es. Tanganku bergetar begitu parah hingga botol kaca itu beradu berisik dengan bibir gelas. Aku menenggak alkohol panas itu dalam satu tarikan napas panjang. Rasa panas membakar kerongkonganku, sebuah rasa sakit fisik yang sangat kubutuhkan saat ini untuk membuktikan bahwa aku masih bernyawa.

"Tika? Sayang, kamu sudah pulang?"

Suara bariton Baskoro yang stabil memecah keheningan. Ia keluar dari arah ruang kerja, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku. Kacamatanya bertengger di pangkal hidung.

Lihat selengkapnya