Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #31

Aku Membela Laki Laki Itu

Dua hari setelah pertemuanku dengan sang algojo, Dinda Hartono, apartemen Senopati ini terasa seperti kuburan yang diperaboti dengan sangat mewah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu berbaring di atas ranjang atau menatap dinding kaca ruang tamu tanpa fokus.

Pagi itu, Fariz keluar dari kamarnya. Ia sudah tidak lagi memakai seragam berkudanya sejak pertengkaran hebat kami minggu lalu. Anak remajaku itu hanya mengenakan kaus oblong Nike kebesaran dan celana training hitam. Ia berjalan gontai menuju dapur, membuka kulkas raksasa dua pintu, dan mengambil sebotol susu almon impor.

Aku yang sedari tadi duduk mematung di sofa ruang keluarga memperhatikannya dalam diam. Ketegangan masih membentang tebal di antara kami sejak ia meneriakkan fakta telak bahwa akulah yang menghancurkan ayah kandungnya.

Fariz menuangkan susu itu ke dalam gelas. Sambil bersandar di kitchen island, ia melirik sekilas ke arah luar jendela, ke arah deretan gedung bertingkat SCBD. Wajahnya ditekuk masam.

"Temen-temen kampus pada ngerencanain trip kelulusan sarjana ke Jepang bulan depan," gerutu Fariz tiba-tiba. Ia tidak sedang bicara padaku; ia seperti sedang bicara pada udara kosong, namun sengaja mengeraskan suaranya agar aku bisa mendengarnya. Ia melontarkan keluhannya sebagai bentuk pasif-agresif untuk memancing pertengkaran baru, atau sekadar melampiaskan rasa frustrasinya atas kemewahan artifisial ini. "Aku pasti nggak akan dikasih izin sama Om Baskoro pergi sendirian sama teman-teman tanpa pengawalan. Padahal dulu waktu kita miskin banget di Pulau Belitong dan Ayah cuma PNS gembel, boro-boro mikirin liburan ke luar negeri. Makan enak aja nunggu gajian, itu pun harus berantem dulu karena duitnya kurang. Kadang aku ngerasa hidup kita dari dulu emang ditakdirkan sial, pindah ke sini pun aku tetap ngerasa di penjara, mending dulu Ayah—"

Kalimat Fariz terputus di udara.

Mungkin di hari-hari sebelumnya, aku akan ikut memaki kemiskinan Zarimuddin dan menyalahkan laki-laki itu atas penderitaan masa kecil Fariz. Aku akan menggunakan momen itu untuk kembali mengklaim posisi sebagai sang ibu pahlawan yang telah "menyelamatkan" Fariz dari nasib buruk menjadi anak birokrat gagal di pulau terpencil.

Tapi hari ini, setelah Dinda menguliti habis sisa-sisa ilusiku, setiap kata hinaan yang ditujukan kepada laki-laki di Pulau Belitong itu terasa seperti sayatan silet yang digorokkan langsung ke saraf leherku.

"Stop."

Satu kata dariku memecah kesunyian apartemen. Suaraku tidak tinggi. Tidak ada nada histeris, lengkingan soprano kemarahan, atau hentakan frustrasi seperti gaya komunikasiku dulu. Suaraku keluar sangat tenang, dalam, dan dipenuhi oleh kepedihan yang padat merayap.

Lihat selengkapnya