Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #32

Menunggu Hukuman

Waktu adalah penemuan manusia yang paling kejam. Ia tidak bisa dihentikan, tidak bisa dibeli dengan black card milik Baskoro, dan yang paling menyebalkan, ia selalu bergerak maju tanpa memedulikan seberapa hancurnya jiwamu di masa sekarang.

Bulan berganti bulan sejak pertemuan nerakaku dengan Dinda di acara amal malam itu. Lembar kalender terus robek hingga akhirnya berganti tahun.

Kini, Agustus 2027.

Di luar jendela kaca apartemenku, langit Jakarta diselimuti kabut polusi kelabu yang tebal. Panas yang menyengat seolah memanggang gedung-gedung beton dari atas ke bawah. Namun di dalam apartemenku, suhunya tetap stabil di angka dua puluh derajat Celcius, menjaga paru-paruku tetap aman dari racun dunia nyata.

Agustus adalah bulan yang brutal bagi sistem sarafku. Ini adalah bulan pengumuman hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer UTBK, pintu gerbang terakhir bagi jutaan anak SMA di seluruh Indonesia menuju perguruan tinggi negeri.

Aku tahu pasti bahwa Sari berada dalam daftar peserta ujian tersebut. Dia menempuh ujian itu jauh dariku, di sebuah gedung sekolah di Tanjungpandan, sama sekali buta dari pengawasanku di Jakarta. Dinda telah menembakkan prediksi itu ke dalam kepalaku bulan-bulan lalu bagaikan anak panah beracun: "Sari sebentar lagi akan menempuh ujian UTBK untuk masuk Universitas Indonesia. Otaknya luar biasa cerdas, dan dengan sponsor penuh dariku... aku pastikan dia akan menembus kampus itu." Aku tahu anak gadisku sedang mempertaruhkan nasibnya demi sebuah kursi di universitas terbaik di negeri ini. Universitas Indonesia. Kampus impian jutaan orang, yang dulu selalu kuimpikan untuk Fariz namun anak laki-lakiku itu memilih menyerah pada tekanan dan kini hanya kuliah di kampus swasta elite langganan crazy rich ibu kota berkat uang donatur Baskoro.

Sari, anak yang kutinggalkan menangis di lantai berjamur itu, kini sedang menata masa depannya yang gemilang. Sendirian. Tanpaku.

Selama berminggu-minggu di bulan Agustus ini, aku memblokir diriku secara sengaja dari segala bentuk pencarian informasi. Aku menghapus aplikasi Instagram dari ponselku agar tidak perlu melihat update status dari ibu-ibu DWP Pulau Belitong yang mungkin akan memposting ucapan selamat. Aku tidak berani menghubungi kerabat jauh mana pun di Tanjungpandan untuk sekadar bertanya kabar.

Lihat selengkapnya