Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #33

Telepon dari HAS Hanandjoeddin

Layar ponsel yang menyala menempel dingin di telinga kananku. Tanganku bergetar sangat parah hingga aku harus menggunakan tangan kiriku untuk ikut menopang sisi bawah ponsel, agar perangkat tipis seharga belasan juta itu tidak jatuh ke lantai marmer apartemen.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu dalam keheningan yang mencekik.

Hanya ada suara derau pelan dari jaringan nirkabel. Lalu, pelan-pelan, menembus lapisan jarak ratusan kilometer dari seberang lautan sana, suara latar belakang yang khas mulai masuk ke telingaku.

Sebuah suara announcer perempuan yang bergema dari pengeras suara murahan, menggunakan bahasa Indonesia dengan artikulasi kaku ala pegawai bandara daerah, memanggil para penumpang pesawat. Disusul suara trolley koper yang diseret berisik di atas lantai keramik, dan dengung pelan percakapan banyak orang yang bersahut-sahutan.

Itu bukan suara stasiun kereta. Bukan suara terminal bus. Itu adalah suara suasana ruang tunggu keberangkatan Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjungpandan, Pulau Belitong. Bandara kecil yang sama, yang menjadi gerbang pelarianku bersama Fariz empat tahun yang lalu di bawah guyuran hujan.

Darahku berdesir kencang, memompa dari jantung langsung ke ubun-ubun.

"Halo?" sapaku akhirnya. Satu kata itu keluar dari mulutku dengan sangat parau, patah, dan nyaris tak memiliki bentuk yang jelas. Pita suaraku menolak untuk bekerja sama.

Tidak ada jawaban langsung dari seberang sana. Hanya ada hembusan napas yang panjang dan pelan, menabrak microphone ponsel. Lalu sebuah sapaan pelan terdengar rapuh, namun telak membongkar sebuah kotak pandora yang telah terkunci rapat bertahun-tahun.

"Assalamualaikum... Bunda? Ini Sari."

Deg.

Dunia seakan ditarik mundur dari bawah kakiku. Lututku kehilangan fungsi mekanisnya seketika, dan aku langsung merosot keras, jatuh berlutut di atas karpet Persia di ruang tengahku. Sakit di lututku tak sebanding dengan hantaman palu godam tak kasatmata yang baru saja menghancurkan seluruh rongga dadaku.

"Halo? Sari?! Benar ini nomor Sari?!" pekikku histeris. Suaraku melengking menembus kesunyian apartemen. Napasku memburu, tersengal-sengal menahan ledakan kepanikan dan rindu yang membakar dada.

"Iya, Nda. Ini Sari."

Suaranya tenang. Terlalu tenang. Tidak ada nada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada nada histeris menuntut penjelasan. Ketenangannya itu persis seperti ketenangan Zarimuddin saat laki-laki itu sudah menyerah pada keadaan, ketenangan seorang penyintas yang telah berhasil membunuh semua iblis di dalam kepalanya sendiri.

Lihat selengkapnya