Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #35

EPILOG

Matahari bulan Agustus membakar langit Jakarta dengan kejam, menembus lapisan kabut polusi tebal dan menyengat melalui jendela kaca apartemenku di lantai tiga puluh lima. AC sentral mendengung pelan, menjaga udara di dalam ruangan tetap steril dan membekukan, sangat kontras dengan neraka kemacetan di jalanan Sudirman di bawah sana.

Hari ini, di suatu tempat di antara padatnya lalu lintas dan aspal jalanan ibu kota yang meleleh karena panas, anak perempuanku sedang melangkah. Ia menyeret koper barunya, mungkin masuk ke dalam kamar kos di sekitar wilayah Depok yang telah dibayarkan uang sewanya setahun penuh oleh pemegang black card bernama Dinda Maharani Hartono. Ia akan mulai merapikan lemarinya, mengeluarkan buku-buku tebal Fakultas Kedokterannya, dan menyiapkan diri untuk menjadi seorang pemenang kehidupan yang tak terbantahkan.

Sari berada di sini. Berbagi langit kelabu yang sama denganku. Mengisap oksigen beracun yang sama dengan ibunya.

Aku duduk diam di depan meja rias kayu walnut antik di dalam kamarku. Sebuah iPad terbuka di depanku, menampilkan jadwal kedatangan penerbangan real-time dari Bandara Soekarno-Hatta. Mataku sedari tadi terkunci pada satu baris teks digital yang berkedip hijau: Flight SJ-051 Tanjungpandan TJQ - Jakarta CGK. Status: Landed.

Dua jam yang lalu roda pesawat itu menyentuh landasan. Dua jam yang lalu kakinya menginjak aspal kota ini.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin besar bermodel klasik itu. Wajah seorang perempuan berusia empat puluhan yang terjebak di dalam bingkai perawatan estetik ratusan juta. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada flek hitam. Namun, mata yang menatap balik dari cermin itu adalah mata seekor ikan mati yang sudah lama mengering di daratan.

Aku membuka laci meja, mengeluarkan buku harian bersampul kulit hitam yang sudah pecah-pecah. Buku yang selama bertahun-tahun kupakai sebagai gudang senjata kemarahan, buku tempat aku membunuh dan menguliti harga diri Zarimuddin setiap kali ia gagal memuaskan egoku.

Aku mengambil pena Montblanc berlapis emas pemberian suamiku yang sekarang. Tinta hitamnya mengalir mulus di atas halaman kosong terakhir dari buku usang ini. Tanganku tidak lagi bergetar. Aku menulis dengan gerakan pelan, presisi, dan dipenuhi oleh kepasrahan absolut orang yang sudah dihukum mati.

15 Agustus 2027.

Lihat selengkapnya