Lemari jati di sudut apartemen Senopati ini tidak mengenal bau keringat. Ia diimpor dari Milan, memancarkan wangi pernis mahal yang entah bagaimana selalu mengingatkanku pada ruang tunggu rumah sakit VIP, steril, sunyi, dan tidak menoleransi kelemahan.
Aku sedang memilah tumpukan dokumen lama Fariz untuk didaftarkan ke sekolah berkuda miliknya yang baru. Baskoro, laki-laki yang tiga tahun lalu memakaikan cincin platinum di jari manisku, telah membayarnya lunas pagi ini. Seratus dua puluh juta rupiah. Dia menggesek kartu hitamnya di mesin EDC sekretariat klub tanpa berkedip, tanpa jeda napas, sambil berdiskusi soal indeks harga saham unggulan dengan pelatih kuda keturunan Jerman itu.
Seratus dua puluh juta. Angka itu berdengung di telingaku.
Tanganku merogoh jauh ke dasar sebuah map plastik tua yang ikut kubawa saat aku minggat dari Pulau Belitong empat tahun lalu. Ada lipatan kertas terjepit di sudut map. Kertas tebal berlogo instansi pemerintah daerah. Warnanya mulai menguning di ujung-ujungnya.
Aku menariknya keluar.
Itu adalah selembar slip gaji. Cetakan dot-matrix yang tintanya mulai pudar. Di sudut kiri atas, tertera nama: Zarimuddin. Pangkat/Golongan: Penata Muda Tingkat I / III/b.
Gaji Pokok: Rp 2.888.500.
Tunjangan Istri/Anak & Beras: Rp 450.850.
Gaji Bersih Setelah Potongan Bank, Askes, dan Koperasi: Rp 1.150.000.
Tunjangan Daerah/Kinerja tidak tercantum atau sudah habis terpotong pinjaman.