
Lampu gantung kristal raksasa dari Bohemia itu memantulkan cahaya ribuan kali lipat, menyilaukan mata siapa saja yang menatapnya. Namun, bagi Bara, kemegahan ruang makan utama di kediaman keluarga Adhitama ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang membosankan. Ruangan tersebut begitu luas, mampu menampung meja makan mahoni sepanjang dua belas meter yang hanya diisi oleh dirinya seorang.
Di sekelilingnya, deretan pelayan berbadan tegap berdiri dengan postur kaku, mengenakan seragam rapi tanpa cela. Mereka siap siaga mengantisipasi setiap kedipan mata atau gesekan jari Bara pada sendok perak.
"Bara, apa hidangan penutup ini kurang sesuai dengan selera Anda?" tanya Kepala Pelayan, Pak Hartono, dengan nada suara yang teramat hati-hati, seolah takut memecahkan keheningan malam.
Bara menghela napas pelan. Ia meletakkan garpu peraknya di atas piring porselen buatan tangan yang diimpor langsung dari Eropa. Suara dentingan kecil itu bergemerincing nyaring di ruang makan yang senyap.
"Tidak, Pak Hartono. Makanannya luar biasa, seperti biasa," jawab Bara dengan suara datar, tanpa sedikit pun antusiasme. "Hanya saja... perut saya tidak sedang meminta makanan mewah malam ini."
"Lalu, apa yang Anda inginkan? Saya bisa memerintahkan koki pribadi untuk segera menyiapkan menu lain, atau mendatangkan koki bintang lima dari distrik pusat dalam waktu kurang dari setengah jam," tawar Pak Hartono cepat, mencerminkan efisiensi luar biasa yang selalu dibanggakan oleh kerajaan bisnis keluarganya.
Bara menggelengkan kepala perlahan, menyandarkan punggungnya pada kursi berlapis kain sutra impor. "Bukan itu maksud saya, Pak Hartono. Lupakan saja. Anda boleh membiarkan saya sendiri sekarang."
"Baik, Tuan Muda. Kami akan berada di luar jika Anda membutuhkan sesuatu." Pak Hartono membungkuk hormat, lalu memberi gestur kepada para pelayan lain untuk meninggalkan ruangan secara serentak dan tanpa suara.
Keheningan kembali merayap, menghimpit dada Bara. Di usia dua puluh empat tahun, ia memegang status sebagai pewaris tunggal dari Grup Adhitama, sebuah gurita bisnis multinasional yang mencakup sektor properti komersial, pertambangan batu bara, hingga jaringan logistik terbesar di Asia Tenggara. Apapun yang disentuh oleh nama keluarganya berubah menjadi emas. Sejak kecil, Bara tidak pernah mengenal kata 'tidak'.
Jika ia menginginkan sebuah mobil sport edisi terbatas yang hanya diproduksi sepuluh unit di dunia, mobil itu sudah nampak di garasi bawah tanahnya keesokan paginya. Jika ia ingin menduduki posisi eksekutif di perusahaan tanpa harus merintis dari bawah, jajaran direksi langsung membentangkan karpet merah untuknya. Kemudahan mutlak ini, ironisnya, telah merenggut makna dari setiap pencapaian.
Bara berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit yang memperentang pemandangan kota metropolitan dari lantai empat puluh lima. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu kendaraan di jalan raya tampak seperti aliran semut bercahaya yang sibuk mencari arah. Mereka hidup, berjuang, dan bernapas. Sementara ia, berdiri di atas puncak piramida makanan sosial, merasa mati secara perlahan di dalam rongga dadanya sendiri.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan. Layar menyala menampilkan nama sang ayah, Tanuwijaya Adhitama. Dengan enggan, Bara menggeser tombol hijau.
"Bara. Kamu di mana?" suara bariton yang tegas dan penuh otoritas langsung meluncur dari seberang sambungan.
"Di rumah, Ayah. Baru saja selesai makan malam," jawab Bara dingin.
"Bagus. Besok pagi jam delapan, kita ada pertemuan penting dengan dewan komisaris dari konsorsium Jepang. Proyek pelabuhan laut dalam di pesisir timur hampir rampung, dan mereka ingin memastikan kamu siap mengambil alih posisi direktur operasional utama secara penuh bulan depan. Pastikan kamu tidur cukup dan kenakan setelan jas terbaikmu."
"Ayah..." Bara memotong dengan nada berat. "Bukankah kita sudah membahas ini minggu lalu? Kenapa harus terburu-buru? Saya merasa belum sepenuhnya siap memikul tanggung jawab sebesar itu."
"Siap tidak siap, kamu adalah darah dagingku, Bara! Nama besar Adhitama ada di pundakmu. Dunia korporat tidak menunggu orang yang ragu-ragu. Jangan mempermalukan keluarga kita dengan keraguan semacam itu," hardik sang ayah di ujung sana, sebelum sambungan diputus sepihak tanpa memberinya kesempatan untuk mendebat.
Bara menatap layar ponsel yang kini kembali gelap. Ia menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras. Kebebasan memilih adalah kemewahan yang tidak pernah diizinkan untuk ia miliki.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, ruang rapat utama di lantai teratas Gedung Adhitama Tower tampak berkilau dalam balutan marmer hitam dan krom. Belasan petinggi perusahaan duduk melingkari meja rapat rapi dengan setelan jas mahal. Di ujung meja, Tanuwijaya Adhitama duduk dengan postur tegap, menyambut kedatangan para mitra bisnis asal Jepang yang dipimpin oleh Tuan Tanaka.
Pintu kaca otomatis terbuka. Bara Arkana melangkah masuk mengenakan setelan jas hitam buatan desainer Italia, rambutnya tersisir rapi, menampilkan aura dingin seorang pewaris takhta. Semua mata langsung tertuju padanya dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat yang dipaksakan.
"Ah, Tuan muda Bara. Akhirnya Anda tiba," sambut Tuan Tanaka ramah, membungkuk sedikit memberikan hormat. "Kami sangat menantikan kerja sama besar ini di bawah kepemimpinan Anda kelak."
"Terima kasih, Tuan Tanaka. Kehormatan ada di pihak saya," balas Bara dengan nada monoton, berusaha memasang senyum profesional yang terasa asing di wajahnya.
Rapat berjalan lancar, atau lebih tepatnya, berjalan sesuai naskah yang telah disusun oleh sang ayah. Setiap dokumen disodorkan, setiap tanda tangan dibubuhkan tanpa perlu perdebatan berarti. Kekuatan modal keluarga Adhitama membuat semua pihak mengangguk patuh. Namun, di balik senyum simpul dan jabat tangan erat yang menghiasi ruangan tersebut, rongga dada Bara terasa semakin sesak.
Ketika sesi istirahat singkat diumumkan, Bara meminta izin untuk pergi ke toilet. Namun, alih-alih menuju fasilitas sanitasi lantai tersebut, ia justru melangkah ke tangga darurat darurat yang sepi. Ia mendorong pintu berat berlabel Emergency Exit dan menaiki beberapa anak tangga menuju area atap terbuka (rooftop) gedung.
Angin kencang langsung menyapu wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Bara berdiri di tepi pagar pembatas pengaman, menatap ke bawah. Jarak yang ekstrem ini menimbulkan sensasi pusing yang aneh.
"Apakah kamu ingin melompat, Tuan Muda?" sebuah suara tiba-tiba memecah lamunannya dari ambang pintu tangga darurat.
Bara menoleh dan mendapati Maya, asisten pribadi ayahnya yang baru berusia dua puluh tujuh tahun, berdiri di sana dengan map dokumen di pelukannya. Wajah wanita itu tampak tenang, namun matanya menyiratkan ketajaman yang jarang ditemukan pada orang-orang di sekitar Bara.