Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Rutinitas kaku keluarga konglomerat

Dentang jam antik berpendulum emas di sudut ruang makan utama selalu berbunyi tepat pukul tujuh malam. Bukan bunyi yang ramah atau mengundang selera, melainkan suara mekanis yang dingin, mengingatkan siapa saja di dalam rumah megah bergaya neo-klasik itu bahwa waktu di keluarga Adhiguna adalah mata uang yang paling tidak boleh disia-siakan.

Bara memutar pisau steak di atas piring porselennya tanpa minat. Potongan daging wagyu A5 matang sempurna itu hanya digeser-geser ke kiri dan ke kanan, menciptakan pola abstrak saus lintah hitam yang sia-sia. Di seberangnya, sang ayah, Tanuwidjaja Adhiguna, duduk dengan postur tegak sempurna. Punggung pria paruh baya itu tidak pernah menyentuh sandaran kursi kayu jati berukir sejak jamuan dimulai sepuluh menit lalu.

"Kau mengabaikan laporan keuangan anak perusahaan logistik di Surabaya, Bara," suara Tanuwidjaja memecah keheningan ruangan. Nada bicaranya datar, tidak bernada tinggi, namun memiliki bobot gravitasi yang mampu membuat udara terasa lebih tipis. "Margin keuntungan turun 1,4 persen pada kuartal ini. Bagi pemegang saham utama, angka itu bukan sekadar desimal. Itu adalah kebocoran kapal yang jika dibiarkan akan menenggelamkan seluruh armada."

Bara menarik napas pelan, berusaha meredam kejenuhan yang telah mengendap di dadanya selama bertahun-tahun. "Aku sudah membacanya, Ayah. Penurunan itu disebabkan oleh keterlambatan pengiriman akibat cuaca buruk di Selat Madura dan biaya perawatan armada yang mendadak naik. Itu faktor alam, bukan kesalahan operasional."

"Alasan tidak pernah masuk dalam neraca laba-rugi, Bara," potong Tanuwidjaja dingin, matanya menatap tajam tanpa berkedip. "Di dunia korporasi, alam pun harus diperhitungkan dalam manajemen risiko. Jika kau tidak bisa mengantisipasi cuaca, berarti kau belum layak memegang kendali penuh atas divisi rantai pasok."

Maya, sang ibu, yang duduk di ujung meja panjang itu, hanya tersenyum tipis—sebuah senyum hiasan yang tidak pernah mencapai matanya. Tangannya yang berhiaskan cincin berlian besar menuangkan sedikit air mineral ke dalam gelas kristalnya dengan gerakan yang sangat terukur.

"Ayahmu benar, sayang," sahut Maya lembut, suaranya terdengar seperti angin berbisik di ruang hampa. "Kau harus belajar melihat gambaran besar. Pernikahanmu dengan Kirana bulan depan juga bagian dari strategi besar itu. Konsolidasi kekuatan keluarga kita dengan grup media Suryakencana tidak boleh ada celah sedikit pun."

Bara meletakkan pisaunya dengan bunyi dentingan logam yang cukup keras di atas piring. "Kita sedang membicarakan bisnis atau makan malam keluarga? Kenapa setiap detik di rumah ini selalu dihitung berdasarkan keuntungan dan kerugian?"

Tanuwidjaja tidak langsung menjawab. Ia mengambil serbet linen putih, menyeka bibirnya dengan sangat perlahan, lalu menatap putranya lekat-lekat.

"Rumah ini bukan tempat untuk mencari kehangatan kekeluargaan, Bara," kata Tanuwidjaja tenang. "Rumah ini adalah benteng. Dan kau adalah pewaris benteng ini. Jika fondasimu rapuh oleh keluhan kecil seperti ini, bagaimana kau akan melindungi ribuan karyawan dan triliunan aset di bawah panji Adhiguna Group?"

❖ ❖ ❖

Jamuan malam itu berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan, dipaksa hidup hanya oleh suara denting perak yang bergesekan dengan porselen mahal. Setiap suapan terasa seperti menelan pasir kering. Bagi Bara, dinding-dinding rumah ini terasa semakin menyempit, berubah menjadi sel penjara transparan yang dihiasi kemewahan kelas atas.

Usai makan malam, Bara tidak langsung menuju kamarnya. Ia melangkah keluar menuju beranda belakang yang menghadap ke kolam renang infinity bernuansa biru gelap. Angin malam kota Metropolitan menerpa wajahnya, membawa sedikit kelegaan dari atmosfer ruang makan yang penuh dengan aroma formaldehyd kekuasaan.

Ponsel di saku celananya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal muncul di layar OLED yang menyala terang.

Jantung Bara berdegup sedikit lebih cepat. Ia mengenal format pesan itu. Itu bukan spam. Itu adalah cara komunikasi rahasia dari seseorang di dalam lingkaran internal perusahaan yang mengetahui adanya permainan kotor di balik layar.

"Ada yang mengganggumu, Calon Suami?"

Suara langkah sepatu hak tinggi bergesek di atas lantai marmer memecah lamunannya. Kirana berdiri di ambang pintu kaca, mengenakan gaun malam satin berwarna zamrud yang memeluk tubuhnya dengan elegan. Senyumnya manis, tetapi di balik mata indahnya tersimpan ambisi yang sama tajamnya dengan milik Tanuwidjaja.

"Tidak ada," jawab Bara cepat, menyembunyikan layar ponselnya. "Hanya urusan kantor lama yang belum selesai."

Kirana mendekat, berdiri di samping Bara sambil menatap kilauan lampu kota di kejauhan. "Kantor tidak akan pernah selesai, Bara. Kau tahu itu. Sama seperti persiapan pernikahan kita. Omong-omong, ayahku bilang undangan fisik sudah dicetak. Sebanyak lima ribu eksemplar dengan tinta emas asli."

"Tentu saja," balas Bara datar. "Pernikahan bisnis terbesar tahun ini tidak boleh terlihat murahan."

Kirana menoleh, menatap Bara dengan tatapan menyelidik. "Kau terdengar sinis. Apakah karena perjodohan ini, atau karena kau memang tidak pernah peduli pada apa pun selain kebebasan semu di kepalamu?"

"Kirana, kita berdua tahu pernikahan ini bukan tentang perasaan," ucap Bara tanpa keraguan. "Ini adalah merger dua entitas bisnis. Kau mendapatkan perluasan pengaruh media untuk jaringan perusahaan keluargamu, dan aku mendapatkan restu mutlak untuk menduduki kursi CEO."

"Dan jika aku bilang aku ingin lebih dari sekadar merger?" tanya Kirana pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desau angin malam.

Bara menatap wanita itu sesaat. Sebelum ia sempat merangkai jawaban, ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua masuk, kali ini jauh lebih spesifik dan mengancam.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut ketika rumah besar Adhiguna jatuh dalam keheningan total. Lampu-lampu koridor diredupkan menjadi 20 persen, menyisakan pencahayaan temaram yang memperpanjang bayangan pilar-pilar marmer. Bara berjalan mengendap-endap di lantai tiga, area privat yang jarang dikunjungi siapa pun kecuali Tanuwidjaja dan kepala pelayan senior.

Langkah kakinya tanpa suara di atas karpet tebal berbulu domba impor. Di ujung koridor selatan, tersembunyi di balik lukisan cat minyak besar era kolonial, terdapat brankas dinding rahasia milik sang ayah. Bara mengingat kombinasi angka itu dengan sempurna—kombinasi yang pernah ia lihat secara tidak sengaja sewaktu kecil.

Kring... klak.

Pintu baja tebal itu terbuka, mengeluarkan desis angin hampa udara. Di dalamnya tersimpan setumpuk dokumen kertas berlabel rahasia merah. Bara menarik berkas logistik Surabaya yang dimaksud. Tangannya sedikit bergetar ketika ia membuka lembar demi lembar, membandingkan angka-angka digital yang ia terima di kantor dengan dokumen asli yang ditandatangani oleh tangan Tanuwidjaja sendiri.

"Kau sedang mencari apa, Bara?"

Suara berat yang bergema di balik punggungnya membuat darah Bara mendesir dingin.

Lihat selengkapnya