Matahari sore menyiram ruang tamu keluarga Pramudya dengan cahaya keemasan yang enggan, memperlihatkan debu-debu halus yang menari di udara. Aroma teh celup melati bercampur dengan wangi kue lapis legit buatan tangan menguar dari meja marmer hitam di tengah ruangan. Di sana, duduk dua sosok paruh baya dengan postur kaku dan sorot mata yang seolah tengah menimbang harga dunia.
Arif Pramudya, sang ayah, merapikan letak kacamatanya sambil membolak-balik selembar laporan akademik yang baru saja dicetak dari tabletnya. Di sebelah kirinya, Ratna, sang ibu, meluruskan lipatan rok batik seragamnya dengan gerakan ritmis yang menunjukkan kegelisahan tertahan. Mereka sedang menunggu Bara, putra tunggal mereka, yang baru saja memarkirkan motor matik di halaman rumah.
Pintu depan berderit terbuka, membawa masuk desau angin senja.
"Bara? Kamu baru pulang jam segini?" suara Arif memecah keheningan, berat dan bernada menuntut bahkan sebelum langkah kaki anaknya mencapai ambang pintu ruang tamu.
Bara melangkah masuk, melepas jaket kulit sintetisnya yang sudah tampak aus di bagian siku. Ia mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.
"Maaf, Pa. Tadi rantai motorku lepas di dekat persimpangan lampu merah. Jadi harus mampir dulu ke bengkel langganan," jawab Bara dengan nada datar, berusaha meredam rasa lelah yang menggelayut di pundaknya sejak pagi.
"Selalu saja ada alasan teknis setiap kali kamu pulang terlambat, Bara," sahut Ratna, matanya langsung meneliti setiap jengkal penampilan anaknya. "Dasi kampusmu mana? Kenapa tidak dipakai? Kamu tahu kan hari ini ada jadwal konseling penting dengan pihak fakultas?"
"Tasnya berat, Ma. Aku taruh di jok motor tadi," balas Bara pendek sambil berjalan menuju sofa single di sudut ruangan.
"Duduk di sini, di sebelah Papa. Jangan di pojok sana seperti buronan," perintah Arif tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. "Mari kita bicarakan masa depanmu secara serius malam ini. Waktu kita tidak banyak, dan usia Papa tidak akan selamanya cukup untuk terus membereskan kekacauan pilihan hidupmu."
Bara menghela napas panjang, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya sebelum menuruti perintah sang ayah. Ia melangkah gontai, lalu mendudukkan diri di sofa panjang tepat di hadapan kedua orang tuanya. Ruangan mendadak terasa menyempit, diapit oleh ekspektasi yang terlampau tinggi dan realitas hidupnya yang berantakan.
❖ ❖ ❖
"Papa sudah melihat nilai IP semester lalu kamu," buka Arif membuka dokumen digital yang terpampang terang di layarnya. Suaranya tenang, tetapi dingin seperti es. "Tiga koma dua. Angka yang cukup bagus untuk mahasiswa rata-rata. Tapi kamu bukan mahasiswa rata-rata, Bara. Kamu anak Arif Pramudya, cucu dari seorang rektor dan anak dari seorang wanita yang membesarkanmu dengan fasilitas terbaik di kota ini."
"Tiga koma dua bukan nilai yang buruk, Pa. Aku masuk sepuluh besar di kelas arsitektur," bela Bara dengan suara tertahan.
"Bukan buruk, tapi tidak cukup!" potong Arif cepat, nada bicaranya meninggi. "Di era kompetisi global sekarang ini, menjadi nomor sepuluh sama artinya dengan menjadi pecundang yang tak terlihat. Target kita sejak awal adalah predikat cumlaude, lalu langsung masuk ke firma konstruksi multinasional milik pamanmu di Singapura. Apakah target itu terlalu sulit untuk kamu tangkap dengan otakmu?"
"Hidupku bukan grafik statistik di tablet Papa!" sergah Bara, emosinya mulai terpancing. "Aku bukan mesin cetak yang bisa diprogram untuk selalu mendapat nilai sempurna tanpa pernah boleh menikmati proses belajar itu sendiri."
"Proses apa yang kamu banggakan?" Ratna menyela dengan suara bergetar, matanya memerah menahan tangis kekecewaan. "Setiap hari Ibu melihat kamu pulang malam, baju bau asap kendaraan, tangan kotor karena membantu proyek bengkel temanmu yang tidak jelas masa depannya itu. Apakah itu yang dinamakan proses? Ibu melahirkanmu dengan pertaruhan nyawa, Bara, bukan supaya kamu menjadi tukang bangunan serabutan!"
"Aku tidak jadi tukang bangunan, Ma! Aku kuliah arsitektur. Desain itu seni, butuh lapangan, butuh melihat langsung realitas di luar tembok rumah ini!" jawab Bara sengit, menatap langsung ke dalam mata ibunya.
"Seni tidak akan mengisi mangkok makanmu di masa tua, Bara!" seru Arif sambil membanting tabletnya pelan di atas meja, membuat cangkir teh bergetar hebat. "Dengarkan Papa baik-baik. Minggu depan ada jamuan makan malam bersama Direktur Utama PT Cipta Graha Utama. Papa sudah mengatur semuanya. Kamu akan diperkenalkan sebagai calon staf ahli magang di sana. Pakaianmu sudah Ibu siapkan di lemari: setelan jas hitam dengan dasi sutra merah. Jangan coba-coba membuat malu keluarga ini dengan gaya urakanmu!"