Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Bara Membulatkan Tekad

Suara ketukan jam dinding tua di sudut ruang keluarga terdengar begitu lambat, seolah mengejek setiap detak jantung Bara yang bergemuruh tak beraturan. Rumah besar itu tampak megah dari luar, berlapis cat putih bersih dengan pilar-pilar kokoh gaya kolonial. Namun, di dalam dada Bara, tempat itu terasa seperti sel penjara tanpa jeruji besi.

Ia berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman samping. Udara malam merembes lewat celah kaca yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah seusai hujan sore tadi. Di atas meja belajarnya, sebuah ransel hitam kusam tergeletak bisu. Di dalamnya tidak banyak barang mewah—hanya beberapa helai pakaian ganti, buku catatan harian bersampul kulit imitasi, dompet berisi tabungan hasil kerjanya selama membantu di galeri seni paman, serta sebuah kompas kecil peninggalan kakeknya.

"Apa kau benar-benar akan melakukannya, Bar?" suara itu tiba-tiba memecah keheningan kamar.

Bara menoleh cepat. Di ambang pintu, adiknya, Kirana, berdiri dengan wajah pucat. Matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam, bergelayut pada ketidakpastian yang akan segera terjadi.

Bara menghela napas panjang, berusaha meredam getaran di tangannya sebelum menjawab, "Aku harus pergi, Kir. Kalau aku terus di sini, hidupku bukan lagi milikku. Ayah dan Ibu sudah menentukan setiap jengkal jalan yang harus aku lewati, bahkan jurusan kuliah dan wanita yang harus kuikuti arah telunjuk mereka."

Kirana melangkah mendekat, mencengkeram lengan baju kakaknya erat-erat. "Tapi ini gila! Ayah pasti akan mencarimu sampai ke ujung dunia. Kau tahu sendiri bagaimana watak Beliau kalau ada rencana yang berantakan."

"Justru karena itu aku harus pergi sekarang, saat mereka sedang menghadiri jamuan makan malam bisnis di luar kota," bisik Bara tegas namun lembut, mencoba menenangkan adiknya. "Aku butuh ruang untuk bernapas, Kirana. Aku ingin mencari tahu siapa diriku sebenarnya di luar bayang-bayang nama besar keluarga kita."

Kirana menatap lekat-lekat manik mata kakaknya. Ada tekad baja yang berkilau di sana, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata gadis itu.

"Janji satu hal padaku," suara Kirana tercekat. "Janji kalau kau akan baik-baik saja dan tidak melupakanku."

"Aku berjanji," ucap Bara sambil merengkuh pundak adiknya dalam sebuah pelukan hangat. "Dan suatu saat nanti, saat aku sudah menemukan ketenangan itu, aku akan kembali atau setidaknya memberimu kabar."

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Bara terasa berat saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai dasar. Setiap derit sekecil apa pun dari kayu tua itu bagaikan alarm nyaring yang siap membangunkan seisi rumah. Ia berjalan berjinjit, mengenakan jaket kulit hitam kesayangannya dan topi kupluk abu-abu untuk menyembunyikan wajahnya.

Ketika ia hampir mencapai pintu belakang dapur, sebuah lampu koridor tiba-tiba menyala terang.

Jantung Bara seolah copot dari tempatnya. Ia langsung melompat ke balik dinding pembatas pantri, menahan napas rapat-rapat.

"Siapa di sana?" suara Bi Inah, pengurus rumah tangga senior yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga itu, terdengar parau khas orang paruh baya yang baru terbangun tidur.

Bara memejamkan mata, merutuki kecerobohannya. Ia tidak boleh tertangkap sekarang. Jika Bi Inah berteriak memanggil satpam malam, seluruh rencananya akan hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Langkah sandal jepit terdengar mendekat ke arah dapur. Bayangan tubuh Bi Inah mulai terlihat di ambang pintu pantri.

"Hmm, aneh... Rasanya tadi aku dengar suara orang," gumam Bi Inah seorang diri sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Bara mencengkeram tali ranselnya erat-erat, bersiap menghadapi kenyataan pahit jika ia harus berdebat atau memohon pada wanita tua itu. Namun, alih-alih keluar, ia mencoba berbicara dengan suara paling pelan yang bisa ia keluarkan.

"Bi..." bisik Bara sambil melangkah pelan dari balik bayangan.

Bi Inah terperanjat kaget, hampir menjatuhkan segelas air putih yang dibawanya. Begitu melihat sosok di hadapannya, wanita itu mengelus dadanya beberapa kali.

"Ya Allah, Den Bara! Bikin jantung Bibi hampir copot saja. Malam-malam begini mau ke mana pakai ransel begitu?" tanya Bi Inah dengan nada berbisik penuh selidik.

Bara mendekat, meraih tangan wanita paruh baya itu dengan penuhiba. "Bi, tolong saya. Jangan katakan pada Ayah atau Ibu kalau Bibi melihat saya malam ini."

"Tapi, Den..."

"Saya mohon, Bi. Hidup saya seperti terkunci di dalam sangkar emas. Kalau Bibi peduli pada saya, biarkan saya pergi malam ini," potong Bara memohon, tatapannya menyiratkan keputusasaan yang nyata.

Bi Inah menatap pemuda itu lama sekali. Keriput di wajah tuanya menyembunyikan pengalaman hidup yang panjang. Ia tahu betul bagaimana tekanan yang diberikan Tuan Besar kepada anak sulungnya itu selama bertahun-tahun.

"Den Bara benar-benar sudah bulat tekadnya?" tanya Bi Inah lirih, suaranya bergetar.

"Sangat bulat, Bi."

Bi Inah menghela napas pasrah, lalu menepuk punggung tangan Bara pelan. "Hati-hati di jalan, Den. Dunia di luar sana tidak semudah fasilitas di rumah ini. Jangan lupa makan, dan... kejarlah apa yang membuat hati Den tenang."

❖ ❖ ❖

Pintu gerbang belakang yang jarang digunakan terbuka tanpa suara berkat pelumas yang sempat dioleskan Bara sore tadi. Udara malam kota metropolitan langsung menyambutnya begitu ia melangkah keluar dari kompleks perumahan elit tersebut. Hening malam berganti dengan deru kendaraan jarak jauh dan angin dingin yang menusuk tulang.

Lihat selengkapnya