Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Perjalanan Panjang Bara

Langit ibu kota belum sepenuhnya memudar ketika Bara menyeret koper tuanya keluar dari lobi stasiun. Udara pagi terasa pekat oleh debu knalpot dan bau aspal basah. Di kepalanya, deru mesin pabrik tempat ia bekerja selama lima tahun terakhir masih berdengung konstan, seolah menolak pergi. Keputusan ini diambil bukan dalam semalam, melainkan melalui pergulatan batin yang panjang dan melelahkan.

"Kau benar-benar mau pergi, Bar? Meninggalkan semua ini demi desa yang bahkan sinyal selulernya susah?" suara Rian memecah keheningan di ambang pintu peron. Sahabat sekaligus rekan kerjanya itu menatap dengan kening berkerut, menyiratkan kebingungan yang mendalam.

Bara berhenti sejenak, menatap pegangan koper plastiknya yang sudah lecet. "Aku sudah lelah, Ri. Hidup di sini seperti hamster dalam roda mainan. Berputar kencang, tapi tidak kemana-mana."

"Tapi tidak harus ke pelosok juga, kan? Kariermu di sini sedang naik," protes Rian sambil melipat tangan di dada.

"Karier naik, tapi jiwaku mati, Rian. Aku butuh udara bersih, aku butuh waktu untuk berpikir jernih." Bara menarik napas panjang, mencoba meresapi aroma terakhir kota besar yang sudah memberinya luka sekaligus pelajaran hidup.

Kereta ekonomi jurusan selatan yang akan membawanya sudah mendengus di jalur tiga. Asap tipis mengepul dari lokomotif tua yang siap merayap keluar dari belantara beton. Bara melangkah mendekati pintu gerbong, merasakan getaran rel kereta merambat lewat telapak kakinya.

"Jaga diri baik-baik di sana, Bar. Kalau tidak betah, pintuku selalu terbuka untukmu kembali," kata Rian dengan suara yang sedikit melemah, menyadari sahabatnya tidak akan bisa dihentikan.

"Terima kasih, kawan. Doakan perjalananku lancar," balas Bara, menepuk bahu Rian sekilas sebelum naik ke dalam gerbong.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam gerbong kereta ekonomi begitu padat dan pengap. Aroma keringat campur aduk dengan bau minyak angin dan bungkus makanan ringan. Bara berdiri terjepit di antara dua penumpang yang membawa karung besar berisi hasil bumi. Kakinya terasa kaku karena harus berdiri selama dua jam penuh tanpa mendapatkan tempat duduk.

"Maaf, Mas, bisa geser sedikit? Kaki saya terjepit keranjang ini," keluh seorang ibu paruh baya berkerudung kusam yang duduk di dekat jendela.

"Ah, maaf, Bu. Penumpangnya memang sangat padat hari ini," jawab Bara sopan sambil mencoba merapatkan tubuhnya ke dinding gerbong yang berkarat.

Kereta berguncang hebat saat melintasi jalur sambungan rel, membuat beberapa penumpang terhuyung. Bara berpegangan erat pada besi pegangan atas. Di luar jendela, pemandangan gedung-gedung pencakar langit perlahan-lahan menyusut, digantikan oleh hamparan sawah hijau yang mulai menguning. Udara di dalam gerbong terasa semakin panas seiring bertambahnya siang.

Seorang kondektur berompi oranye berjalan menyusur lorong sempit, memeriksa tiket satu persatu dengan wajah lelah. "Tiketnya, Pak? Perjalanan masih jauh, pastikan tidak tertukar," ujarnya ramah namun tegas saat tiba di hadapan Bara.

"Ini, Pak. Sampai stasiun akhir, kan?" tanya Bara memastikan.

"Betul. Nanti sambung bus pedesaan lagi kalau mau masuk ke dalam desanya," jawab sang kondektur sambil melubangi tiket kertas Bara.

Jantung Bara berdegup sedikit lebih kencang. Ia menyadari titik balik hidupnya benar-benar dimulai di atas gerbong besi yang berderit nyaring ini. Tidak ada lagi jalan untuk berbalik arah ke kenyamanan apartemen sewanya di kota.

❖ ❖ ❖

Bus tua berbadan kayu itu meliuk-liuk menaiki jalanan aspal yang mulai retak dan berlubang. Di dalam bus, hanya tersisa empat orang penumpang termasuk Bara. Mesin bus mengerang berat setiap kali sopir memindahkan gigi ke persneling bawah untuk menaklukkan tanjakan curam perbukitan.

Lihat selengkapnya