Bus tua berderit keras ketika pengemudinya menginjak rem secara mendadak, menghasilkan suara decitan logam berkarat yang memekakkan telinga. Bara terantuk ke depan, dahinya hampir membentur sandaran kursi bus yang dilapisi kain usang dan berdebu. Udara di dalam kabin terasa pengap, bercampur antara bau keringat puluhan penumpang, aroma tembakau murah, dan sengatan wangi buah tropis yang dibawa dalam keranjang anyaman bambu oleh seorang ibu di barisan depan.
"Desa Ciputat! Siapa yang turun di Ciputat?!" teriak kondektur berbadan gempal sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil kusam yang melingkar di leher.
Bara mengangkat kepalanya, mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa penat akibat perjalanan darat selama belasan jam yang melelahkan. Ia mengenakan kaus polos berwarna abu-abu pudar, celana jins belel yang sudah usang di bagian lutut, serta sepatu kets murah yang dibelinya di pasar loak beberapa hari lalu. Ransel kecil di pangkuannya adalah satu-satunya barang bawaan yang tersisa dari masa lalunya yang gemerlap.
"Saya, Bang," jawab Bara dengan suara berat namun tenang.
"Turun cepat, Mas! Bus tidak bisa lama-lama berhenti di sini. Tanjakan di depan licin kalau habis hujan!" seru sang kondektur tanpa menoleh, sibuk membantu menurunkan karung beras milik penumpang lain.
Bara berdiri, menyampirkan ranselnya ke punggung, lalu melangkah menyusuri lorong sempit bus. Ketika ia melompat turun dari tangga bus, sepatu ketsnya langsung menyentuh tanah berlumpur basah. Cipratan air keruh mengenai ujung celananya, sesuatu yang tidak pernah ia pedulikan lagi sekarang.
Bus tua itu langsung menderu kembali, meninggalkan kepulan asap hitam pekat sebelum akhirnya berbelok di tikungan jalan bukit yang diselimuti kabut tipis.
Kini, Bara berdiri seorang diri di tengah keheningan. Di hadapannya terbentang jalan setapak berbatu basah yang membelah lembah hijau. Kiri dan kanannya adalah tebing bukit yang ditumbuhi pohon-pohon besar berakar serabut, sementara di kejauhan tampak puluhan rumah panggung kayu beratap ijuk mengepulkan asap tipis dari dapur-dapur warga. Udara di sini terasa sangat dingin dan murni, jauh berbeda dari polusi pekat kota metropolitan yang selama dua puluh empat tahun menjadi udara pernapasannya.
"Kamu pendatang baru yang diceritakan kepala dusun kemarin lusa, ya?" sebuah suara serak namun ramah menyapa dari samping.
Bara menoleh dan mendapati seorang lelaki paruh baya bertopi jerami sedang memikul seikat kayu bakar di bahunya. Pria itu mengenakan kemeja flanel compang-camping dan celana pendek selutut, tersenyum lebar memperlihatkan gigi yang sedikit menguning.
"Ah, benar, Pak. Saya Bara," jawab Bara sambil mengangguk sopan. "Saya sedang mencari tempat untuk tinggal sementara dan mencari pekerjaan."
"Pekerjaan?" Pria itu tertawa kecil, suara tawa yang sarat pengalaman hidup. "Di Desa Cibalik ini, pekerjaan tidak datang lewat lamaran kertas atau komputer, Nak. Pekerjaan ada di ladang, di sawah, atau di hutan. Namaku Mang Karta. Mari jalan bersama, rumahku searah dengan balai desa."
❖ ❖ ❖
Perjalanan menyusuri jalan setapak tanah liat itu memakan waktu hampir satu jam penuh dengan berjalan kaki. Bagi Bara yang terbiasa diantar jemput mobil sedan mewah ber-AC, berjalan mendaki bukit dengan beban di punggung membuat napasnya memburu dan betisnya terasa terbakar. Namun, ia menolak untuk mengeluh. Setiap tetesan keringat yang jatuh ke tanah seolah menjadi bayaran lunas atas keangkuhan masa lalunya.
"Kamu terlihat terlalu bersih untuk ukuran anak muda yang ingin jadi buruh tani, Bara," kata Mang Karta di sela-sela langkah mereka, melirik sekilas ke arah tangan Bara yang meskipun kini dipenuhi debu, tetap tidak memiliki bekas luka kapalan berat seperti tangan para petani lokal.
"Semua orang harus mulai dari suatu titik, Mang," balas Bara singkat sambil menyeka peluh di dahinya. "Saya ingin belajar hidup dari nol. Tanpa bantuan siapa pun."
Mang Karta terdiam sejenak, mengamati sorot mata pemuda di sampingnya. Ada ketegasan yang tidak biasa pada diri Bara—bukan ketegasan seorang anak kota yang sedang mencari sensasi liburan, melainkan tekad baja seseorang yang sedang melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya.
"Baguslah kalau begitu tekadmu," ujar Mang Karta akhirnya. "Tapi ingat, alam di sini tidak peduli siapa nama ayahmu atau seberapa besar uang yang pernah ada di dompetmu. Kalau kamu malas, perutmu akan keroncongan. Kalau kamu jujur dan gigih, desa ini akan menerimamu sebagai anak sendiri."
Mereka tiba di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi oleh beberapa rumah panggung tradisional. Di tengah-tengah pemukiman itu berdiri sebuah balai desa berukuran sedang dengan papan nama kayu usang yang bertuliskan Kantor Administrasi Desa Cibalik. Di teras balai desa, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan peci hitam tampak sedang merokok lintingan tembakau sambil membaca lembaran arsip lama.
"Pak Kuwu! Ini ada anak muda dari kota yang kemarin dilaporkan mau numpang tinggal dan kerja di desa kita," seru Mang Karta kepada pria tersebut.
Pria paruh baya yang dipanggil Pak Kuwu itu mengangkat kepalanya. Matanya tajam menatap Bara dari atas ke bawah, menilai setiap jengkal penampilan pemuda itu dengan cermat.
"Namamu Bara?" tanya Pak Kuwu dengan suara berat yang berwibawa.
"Benar, Pak Kuwu," jawab Bara tegas, menegakkan postur tubuhnya.
"Kamu tahu apa tentang desa ini? Kenapa memilih tempat terpencil seperti Cibalik untuk membuang waktu?" tanya Pak Kuwu menyelidik, menyembunyikan kepulan asap rokok dari bibirnya.
❖ ❖ ❖