
Bau debu jalanan bercampur asap knalpot bus kota menampar wajah Bara begitu ia melangkah turun dari angkutan umum yang membawanya jauh dari pusat kemewahan ibu kota. Jas mahalnya telah lama ia tanggalkan, diganti dengan kaos oblong katun hitam polos dan celana jins belel yang terasa kasar di kulit. Tidak ada lagi gedung pencakar langit berlapis kaca, tidak ada lagi ruang rapat ber-AC sentral dengan meja marmer hitam, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang kekuasaan Tanuwidjaja Adhiguna yang mencekik.
Bara berdiri di pinggir jalan raya lintas provinsi yang sibuk, menenteng ransel kusam berisi beberapa helai pakaian dan sisa tabungan tunai darurat yang ia tarik diam-diam sebelum meninggalkan rumah besar itu. Pesan misterius tentang kematian ibunya masih berputar liar di kepalanya seperti duri dalam daging, namun ia menyadari satu hal: ia tidak bisa melawan benteng Adhiguna dengan tangan kosong di kota yang dikuasai jaringan bisnis ayahnya. Ia harus menghilang, menyusup ke dasar rantai makanan, dan membangun kembali kekuatannya dari tempat di mana hukum korporat tidak lagi memiliki yurisdiksi.
"Mau ke mana, Mas? Cari tumpangan atau cari kerja?" tanya seorang sopir truk ekspedisi paruh baya yang memarkir kendaraannya di dekat warung kopi tempat Bara berteduh.
Bara menoleh, menyeka keringat di dahinya. "Saya cari pekerjaan apa saja, Pak. Yang penting halal dan jauh dari kota."
Sopir itu tertawa kecil, memperlihatkan deretan gigi yang sedikit menguning sambil menyeruput kopi hitamnya. "Jauh dari kota? Kalau mau kerja kasar, daerah pelabuhan atau pabrik tekstil di pinggiran masih buka. Tapi kalau mau kerjaan bener-bener lepas dari keramaian kota besar, coba ke pedalaman Sumatra. Di sana banyak perkebunan rakyat yang butuh tenaga buruh lepas, mulai dari sawit sampai perkebunan gambir tua."
"Gambir?" Bara mengulang kata itu, mengerutkan keningnya. Ia baru pertama kali mendengarnya.
"Iya, gambir," jawab sopir itu menerangkan. "Tanaman getah buat bahan penyamak kulit dan pewarna. Kerjanya berat, Mas. Masuk hutan, merebus daunnya di tengah uap panas, bau pekat, dan penghasilannya pas-pasan. Anak kota kayaknya nggak bakal tahan seminggu di sana."
Bara terdiam sejenak. Justru itu yang ia cari. Tempat di mana tidak seorang pun bisa mengenali wajahnya, tempat di mana status sosial, saham, dan nama besar Adhiguna tidak memiliki arti sekecil apa pun.
"Saya tahan banting, Pak," ucap Bara mantap, menatap lurus ke mata sang sopir. "Bisa tolong tumpangi saya sampai terminal persimpangan kabupaten terdekat?"
Sopir itu mengangguk sambil meletakkan cangkirnya. "Naiklah ke belakang. Sebentar lagi truk saya jalan."
Perjalanan darat berjam-jam itu membawa Bara melintasi bukit-bukit terjal dengan vegetasi tropis yang semakin lebat. Udara kota yang pengap berangsur-angsur digantikan oleh aroma tanah basah, humus hutan, dan kabut tipis yang turun seiring sore menjelang. Di sepanjang perjalanan, ia terus merenungkan takdir hidupnya. Dari seorang calon pewaris takhta korporasi raksasa yang dikelilingi intrik, kini ia menjelma menjadi buruh pencari pelarian yang siap mengorbankan otot dan keringatnya demi sebuah kebenaran.
Truk akhirnya berhenti di sebuah persimpangan jalan tanah merah yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi. Sang sopir menurunkan ransel Bara dan menunjuk ke arah jalan setapak yang menembus bukit berkabut.
"Ikuti jalan setapak ini sekitar tiga kilometer, Mas. Nanti ketemu dusun pengolahan gambir tradisional milik warga lokal. Di sana biasanya mereka selalu butuh tangan tambahan untuk musim panen daun kali ini," pesan sopir itu sebelum kendaraannya melaju meninggalkan kepulan debu.
Bara menarik napas dalam-dalam, merasakan kesegaran udara pegunungan yang menusuk paru-parunya. Ia melangkah menyusuri jalan setapak itu seorang diri, membiarkan masa lalunya tertinggal jauh di belakang, siap menyambut lembaran hidup yang paling melelahkan namun membebaskan.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Bara terhenti di hadapan sebuah gerbang kayu tua yang sudah berlumut, menandai batas wilayah dusun pengolahan gambir tradisional. Dari kejauhan, kepulan asap putih membubumbung tinggi dari belasanpondok-pondok kayu beratap rumbia. Aroma khas yang menyengat—perpaduan antara bau getah pekat, daun rebusan basah, dan kayu bakar—langsung memenuhi indra penciumannya.
Beberapa pekerja lokal tampak berlalu-lalang memikul keranjang besar berisi tumpukan daun gambir segar yang baru dipetik dari lereng bukit. Kulit mereka legam terbakar matahari, tangan mereka kasar dengan guratan urat yang menonjol, dan pakaian mereka dipenuhi noda kecokelatan yang sulit dibersihkan.
Bara mendekati salah seorang pria paruh baya yang sedang mengawasi proses perebusan daun di dalam kuali besi raksasa di atas tungku batu tanah liat.
"Permisi, Pak," sapa Bara sopan namun tegas.
Pria itu menoleh, menyipitkan matanya di balik kepulan uap panas. Ia mengamati penampilan Bara dari ujung rambut hingga sepatu kets yang kini sudah dipenuhi lumpur merah. "Kamu bukan warga sini, dan jelas bukan anak muda tempatan. Mau cari siapa, Anak Muda?"
"Saya sedang mencari pekerjaan, Pak," jawab Bara tanpa ragu. "Pekerjaan apa saja di sini. Saya kuat mengangkat beban dan tidak pilih-pilih tugas."
Pria tua itu mendengus pelan, mengambil sebatang kayu bakar untuk mengaduk rebusan daun di kuali. "Anak kota sok kuat. Kebanyakan dari kalian datang ke sini karena lari dari masalah, bukan karena mau kerja. Tiga hari kecapekan, kena uap panas kuali, langsung kabur naik bus pertama."
"Saya tidak akan kabur," balas Bara tenang, menatap mata pria tua itu tanpa rasa gentar. "Beri saya kesempatan satu hari saja. Kalau saya tidak becus kerja, saya akan pergi sendiri tanpa minta bayaran."
Pria itu terdiam sejenak, meneliti kesungguhan di balik sorot mata Bara yang tajam. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda ini—bukan raut wajah seorang buruh kasar biasa, melainkan ketenangan dingin seseorang yang pernah menghadapi tekanan jauh lebih besar daripada panasnya tungku gambir.
"Namaku Pak Tua Rasyid, kepala pengawas di pondok pengolahan ini," kata pria itu akhirnya sambil meletakkan kayu adukannya. "Kalau kau mau nekat, mulai besok subuh bantu kelompok Pak Joko menebas dan memikul daun gambir dari lereng bukit barat. Upahnya kecil, cukup buat makan dan sewa gubuk reyot di ujung dusun. Masih mau?"
"Saya ambil, Pak Rasyid. Terima kasih," jawab Bara mantap.
Malam pertama di dusun terpencil itu jauh dari kata nyaman. Bara tinggal di sebuah gubuk papan kecil berukuran tiga kali tiga meter yang berlantaikan tanah liat dan hanya diterangi oleh sebatang lilin murahan. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal ponsel—sebuah tempat perlindungan sempurna dari dunia luar, sekaligus tempat isolasi total di mana ia harus beradaptasi dengan realitas fisik yang paling keras.
Sambil duduk di atas balai-balai bambu yang keras, Bara memijat kedua bahunya yang mulai terasa kaku. Ia teringat pada ranjang empuk kamarnya di rumah Adhiguna, pada Kirana, dan pada ayahnya. Ironis, pikirnya. Untuk mencari kebenaran tentang kematian ibunya, ia harus mengubur dirinya sendiri di dalam lumpur perkebunan gambir pedalaman Sumatra.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang sangat melelahkan dan menguji batas ketahanan fisik Bara. Pukul lima pagi, saat kabut tebal masih menyelimuti lembah, ia sudah harus mendaki lereng bukit curam bersama para pekerja lainnya. Membawa parang panjang di tangan kanan dan keranjang bambu besar di punggung, ia memotong dahan-dahan semak gambir dengan gerakan ritmis yang lama-kelamaan membuat telapak tangannya melepuh dan berdarah.
"Jangan terlalu dalam memotong batangnya, Anak Baru! Nanti tunas mudanya mati!" tegur Pak Joko dari barisan sebelah, seorang pekerja senior yang bertubuh gempal dan berkulit legam.
"Baik, Pak Joko," jawab Bara terengah-engah, mengatur pernapasannya yang mulai memburu di udara tipis pegunungan.