Angin malam Lembah Selatan berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan getah tumbuhan yang khas. Di teras rumah panggung kayu berukuran sedang yang dikelilingi rimbunnya pohon buah, Bara duduk termenung di atas kursi bambu. Suara gesekan daun gambir yang diterpa angin terdengar seperti bisikan-bisikan misterius dari masa lalu. Tangannya memegang segelas teh tawar panas yang mengepulkan uap tipis, sementara matanya menatap lurus ke arah kegelapan pekat di luar batas halaman.
Ia baru saja melewati hari-hari yang melelahkan setelah meninggalkan kota dan bayang-bayang keluarganya. Keputusan nekat itu membawanya jauh ke pedalaman, hingga ia terdampar di desa penghasil gambir ini. Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan kopiah hitam belel dan garis-garis keriput di wajah penuh wibawa tengah merokok lintingan tembakau. Itulah Pak Abidin, pemilik ratusan hektar perkebunan gambir yang sangat disegani oleh seluruh warga desa.
"Kamu terlalu memaksakan diri, Nak Bara," suara Pak Abidin berat namun menenangkan, memecah kesunyian malam yang pekat. "Datang ke tempat asing tanpa persiapan matang, hanya berbekal tekad kosong dan kemarahan pada orang tua. Itu bukan keberanian, itu bunuh diri perlahan."
Bara menoleh, menatap sekilas wajah tua yang dipenuhi pengalaman hidup itu. "Aku tidak punya pilihan lain, Pak. Kalau aku tetap di sana, aku bukan lagi anak manusia, melainkan boneka mainan yang diatur sesuka hati oleh ayahku."
"Ayahmu mendidikmu dengan cara besi karena dia takut melihatmu jatuh di dunia nyata," jawab Pak Abidin santai, menyemburkan asap rokok tipis ke udara. "Setiap orang tua punya cara yang berbeda dalam mencintai anak mereka. Kadang kala, bentuk cinta itu menyerupai cambuk yang menyakitkan, bukan pelukan yang menghangatkan."
"Tapi cara itu merusak jiwaku, Pak Abidin," sangkal Bara dengan nada bergetar, emosinya mulai terpancing lagi. "Apakah cinta harus selalu diukur dari seberapa patuh kita menelan semua ambisi mereka yang kosong?"
Pak Abidin tersenyum kecil, garis-garis di sudut matanya semakin terlihat. "Di desa ini, Bara, tanaman gambir tidak akan bisa menghasilkan getah berkualitas tinggi jika batangnya tidak pernah dipangkas secara kejam dan disadap di bawah tekanan terik matahari. Hidup juga begitu. Kamu baru melihat kulit luarnya saja, belum merasakan pahitnya rebusan daun gambir yang kelak mendatangkan manisnya rezeki."
❖ ❖ ❖
Percakapan malam itu terhenti sejenak ketika suara langkah kaki mendekati teras rumah panggung. Seorang pemuda desa seusia Bara, bernama Rian, datang membawa setumpuk lembar catatan keuangan kebun. Rian meletakkan buku tebal itu di atas meja kayu di hadapan Pak Abidin dengan gerakan hormat.
"Laporan hasil sadap minggu ini sudah beres, Pak Haji," ujar Rian sambil melirik Bara sekilas dengan rasa penasaran yang tertahan.
"Bagus, Rian. Duduklah dulu, temani tamu kita ini minum teh," kata Pak Abidin mempersilakan. Rian menarik kursi bambu dan duduk di samping Bara. Suasana terasa canggung selama beberapa detik sebelum Rian membuka suara.
"Kamu benar-benar anak kota yang kabur dari rumah, Mas Bara?" tanya Rian blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. "Kata warga desa, kamu datang menggunakan motor tua dengan pakaian robek di saku. Kenapa mau susah-susah bekerja di perkebunan gambir yang bau dan melelahkan ini?"
Bara mendengus pelan, menatap cangkir tehnya yang kini mulai mendingin. "Aku ingin mencari arti hidupku sendiri, Rian. Bukan hidup yang sudah digariskan di atas kertas oleh orang tuaku di kota besar."
"Mencari arti hidup itu gampang diucapkan, tapi perut lapar tidak bisa dibayar pakai arti hidup, Mas," sahut Rian tersenyum simpul. "Di sini, semua orang bekerja keras dari subuh sampai petang demi sesuap nasi dan biaya sekolah anak-anak mereka. Tidak ada waktu untuk merenungkan nasib atau memberontak pada keadaan."
"Rian benar," timpal Pak Abidin sambil menatap kedua pemuda itu bergantian. "Idealismemu itu bagus, Bara, bagaikan fondasi gedung yang kokoh di atas kertas. Tapi bangunan tidak akan pernah berdiri tegak kalau kamu tidak mau mengotori tanganmu dengan adukan semen dan pasir di lapangan."
Bara terdiam. Kata-kata Pak Abidin menghujam tepat di ulu hatinya, mengingatkannya pada perdebatan sengit dengan ayahnya beberapa waktu lalu. Apakah benar ia hanya berlari dari masalah tanpa memiliki kemampuan nyata untuk bertahan hidup?
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di balik pegunungan ketika suara ketukan pintu menggugah tidur lelap Bara. Ia membuka mata dengan tubuh masih terasa pegal. Di ambang pintu kamar, Pak Abidin sudah berdiri rapi dengan pakaian kerja lapangan berupa celana kain gelap dan kemeja flanel tua yang digulung sampai siku.
"Bangun, anak muda," ucap Pak Abidin tegas. "Hari ini sekolah arsitekturmu di dunia nyata dimulai. Ikut aku ke kebun bagian selatan."