Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Pak Abidin

Suara deburan ombak kecil yang menghantam lambung perahu-perahu kayu di dermaga tradisional itu terdengar berirama, menyambut kedatangan pagi yang masih diselimuti kabut tipis. Udara pesisir pantai utara terasa lembap dan asin, menempel di kulit Bara yang kini tampak jauh lebih gelap dibandingkan beberapa minggu lalu saat ia pertama kali meninggalkan rumah mewah keluarganya di ibu kota.

Bara berdiri termenung di dekat sebuah gudang penyimpanan ikan asin yang bau amisnya sudah melekat erat di jaket parasut kumalnya. Tangannya yang dulu terbiasa memegang pena mahal dan tablet desain grafis kini dipenuhi kapalan tebal di telapaknya. Di pundaknya tersampung sebuah karung goni kosong yang ia gunakan untuk membantu para buruh angkut sejak subuh tadi.

"Hei, Anak Kota! Jangan melamun terus kalau tidak mau terseret arus!" teriak seorang buruh paruh baya bernama Dadang sambil tertawa renyah, melempar sebuah keranjang plastik kosong ke arah Bara.

Bara sigap menangkap keranjang tersebut, lalu balas tersenyum tipis. "Tidak melamun, Mang. Hanya sedang menikmati angin pagi."

"Angin pagi tidak bisa dibeli dengan angan-angan, Bar. Kalau kau mau makan malam ini, kau harus bergerak lebih cepat," ujar Dadang mengingatkan dengan nada bersahabat sebelum kembali sibuk mengangkat keranjang ikan segar dari atas kapal nelayan yang baru saja bersandar.

Bara menghela napas panjang, meresapi setiap detik kehidupannya yang kini benar-benar berubah total. Keputusannya untuk kabur membawanya jauh melintasi berbagai kota hingga akhirnya terdampar di kawasan pelabuhan nelayan ini. Namun, hidup berpindah-pindah tanpa pekerjaan tetap membuatnya mulai kehabisan uang saku. Tabungan kecil yang ia bawa dari rumah sudah hampir ludes untuk sekadar membayar sewa bilik kamar kos kumuh dan membeli makanan murah di warteg pinggir jalan.

Ia butuh pekerjaan tetap. Ia butuh tempat berpijak yang lebih pasti agar pelariannya tidak berujung pada kehancuran di jalanan.

Pagi itu, target utamanya adalah galangan kapal tradisional milik Pak Abidin, seorang tokoh sepuh yang dikenal sebagai pembuat perahu paling disegani di seluruh pesisir tersebut. Berdasarkan cerita para nelayan semalam, Pak Abidin terkenal sebagai sosok yang keras kepala, pendiam, dan sangat selektif dalam memilih pekerja. Beliau tidak peduli dari mana seseorang berasal atau seberapa tinggi ijazahnya; yang beliau cari hanyalah ketekunan dan kejujuran mutlak di atas kayu-kayu jati gelondongan.

Bara melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan area dermaga yang mulai sibuk, menyusuri jalan setapak berpasir menuju galangan kapal yang terletak agak menjorok ke teluk tenang. Dari kejauhan, suara gergaji mesin dan hantaman palu besar pada pasak kayu sudah terdengar bersahut-sahutan, menciptakan simfoni khas dunia maritim yang keras namun penuh gairah kehidupan.

❖ ❖ ❖

Sesampainya di area galangan kapal Pak Abidin, Bara langsung disambut oleh aroma khas kayu basah yang baru diserut bercampur bau cat lambung kapal. Bau itu menggelitik hidungnya, menghadirkan memori masa kecil saat ia sering diajak kakeknya mengunjungi tempat-tempat pertukangan tradisional serupa.

Beberapa orang pekerja tampak sibuk mengoleskan damar cair ke sela-sela papan perahu untuk mencegah kebocoran. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan otot lengan yang menonjol dan kulit legam terbakar matahari. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis, mengenakan topi jerami usang dan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu adalah Pak Abidin.

Bara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mendekat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada fisik pria tua itu, melainkan karena ia tahu bahwa penolakan hari ini berarti ia harus kembali hidup luntang-lantung tanpa arah di kota asing ini.

"Permisi, Ki..." sapa Bara dengan suara sopan saat berdiri di dekat Pak Abidin yang sedang memeriksa ketebalan papan kayu merbau.

Pria tua itu tidak langsung menoleh. Ia mengetuk-ngetuk permukaan kayu dengan buku jarinya, mendengarkan bunyi pantulannya untuk memastikan tidak ada rongga tersembunyi di dalam serat kayu tersebut. Setelah puas, barulah Pak Abidin mengangkat wajahnya dan menatap Bara dari atas hingga bawah dengan tatapan tajam menyelidik.

"Kau bukan orang sini," suara Pak Abidin terdengar berat, serak, dan penuh wibawa, tanpa basa-basi menyapa.

"Bukan, Ki. Saya baru beberapa minggu di kota ini," jawab Bara jujur, berusaha menjaga kontak mata agar tidak terlihat gentar.

"Mau cari apa ke galangan kapal? Di sini bukan tempat pelarian anak-anak muda manja yang bosan hidup enak di rumah orang tuanya," sentak Pak Abidin dingin, seolah bisa membaca latar belakang Bara hanya dari cara berpakaian dan kebersihan kulit tangannya yang belum sepenuhnya hilang.

Bara tertegun sejenak. Kalimat itu terasa menohok langsung ke ulu hatinya. Apakah penampilannya masih begitu kentara sebagai seorang anak orang kaya yang sedang berontak?

"Saya memang datang dari keluarga berkecukupan, Ki. Tapi saya tidak manja," sanggah Bara dengan nada tegas namun tetap santun. "Saya ke sini bukan untuk bermain-main. Saya butuh pekerjaan, dan saya siap belajar apa saja dari bawah."

Pak Abidin mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada bidangnya. "Anak muda zaman sekarang pandai sekali merangkai kata-kata manis di mulut. Tapi begitu disuruh mengangkat kayu berat atau terkena serpihan kayu yang menusuk kuku, langsung lari menangis mengadu pada ibunya. Pergi sana, aku tidak butuh beban tambahan di sini."

❖ ❖ ❖

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Bara merasakan panas menjalar di dadanya. Ada rasa ingin membela diri yang membuncah, namun ia sadar bahwa kemarahan tidak akan mengubah apa pun. Ia tidak boleh menyerah hanya karena satu bentakan pertama.

"Kalau Ki Abidin tidak percaya pada ucapan saya, beri saya waktu satu hari saja," kata Bara dengan suara tertahan namun penuh keyakinan. "Biarkan saya membuktikan apakah saya hanya bisa bicara atau benar-benar bisa bekerja."

Beberapa pekerja di sekitar mereka menghentikan aktivitasnya, memerhatikan interaksi antara bos tua mereka dengan pemuda kota berjaket parasut kumal tersebut. Suasana di sekitar galangan mendadak terasa senyap, menyisakan suara deburan ombak kecil di kejauhan.

Pak Abidin menatap Bara lekat-lekat, menyipitkan matanya seolah sedang menimbang kesungguhan di balik sorot mata pemuda itu. Tidak ada keraguan di sana; yang ada hanyalah tekad baja yang membara dari seseorang yang tidak punya banyak pilihan lagi di dunia ini.

"Kau melihat tumpukan kayu gelondongan di ujung timur sana?" tanya Pak Abidin akhirnya sambil menunjuk sebuah sudut gudang yang cukup jauh.

Lihat selengkapnya