Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Buruh Tani Gambir

Kabut pagi di Desa Wanasari belum sepenuhnya terangkat ketika Bara melangkah keluar dari rumah singgah dengan mengenakan celana kain tebal, kaus oblong kusam, serta sepasang sepatu bot karet milik Mang Oleh. Di pundaknya tersampir sehelai handuk kecil untuk mengusap keringat. Udara dingin perbukitan langsung menyengat kulit wajahnya, namun ada semangat baru yang bergemuruh di balik dadanya yang bidang.

"Sudah siap, Nak? Menjadi buruh tani di kebun gambir bukan pekerjaan ringan untuk ukuran anak kota sepertimu," tegur Mang Oleh sambil menyandang parang panjang di pinggangnya, tersenyum ramah menyambut kedatangan Bara di halaman depan.

Bara mengangguk mantap, merapikan ikatan tali sepatunya. "Saya siap, Mang. Apapun pekerjaannya, saya ingin menjalaninya dengan sungguh-sungguh demi memahami ritme hidup di sini."

"Bagus kalau begitu mentalmu sudah siap. Mari kita berangkat sebelum matahari terlalu tinggi membakar punggung kita di lereng bukit," balas Mang Oleh sambil berjalan lebih dulu meniti jalan setapak berbatu.

Perjalanan menuju kebun gambir memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan berjalan kaki menanjak bukit. Sepanjang perjalanan, mereka dikelilingi oleh barisan pohon pinus yang menjulang tinggi dan semak belukar yang masih basah oleh embun pagi. Suara siau burung hutan bersahutan menciptakan melodi alam yang menenangkan jiwa Bara, menghapus bayang-bayang bisingnya klakson kendaraan di ibu kota.

Setibanya di perkebunan lereng buket milik kelompok tani setempat, hamparan tanaman gambir berderet rapi di atas kontur tanah miring yang subur. Beberapa pekerja lokal sudah tampak bersiap di dekat pondok pengolahan tradisional, menghidupkan tungku kayu bakar besar yang mengepulkan asap putih tipis ke udara pagi.

"Nah, di sinilah tempat kita bekerja hari ini, Bara. Kau akan belajar memetik daun muda sekaligus membantu proses perebusan getahnya," kata Mang Oleh sambil menyerahkan sebuah keranjang rotan besar kepada Bara.

❖ ❖ ❖

Titik Jepit 1

Bara mulai mempraktikkan cara memetik daun gambir sesuai arahan Mang Oleh, yakni mengambil bagian pucuk daun yang masih muda dan segar. Namun, baru seperempat jam ia bekerja, jemarinya sudah terasa perih akibat goresan ranting kecil dan getah pekat yang mulai menempel di kulit telapak tangannya.

"Pelan-pelan saja, Nak. Jangan terlalu ditarik paksa, nanti batangnya rusak dan getahnya tidak keluar maksimal," ujar Pak Ujang, seorang buruh tani senior berambut putih yang berdiri di sebelah barisan tanaman Bara.

"Baik, Pak Ujang. Ternyata memetik daun ini butuh teknik tersendiri ya, tidak sekadar comot," keluh Bara sambil meniup ujung jarinya yang sedikit tergores duri kecil.

"Ha-ha-ha, semua pekerjaan punya seninya masing-masing, Mas. Dulu saya juga begitu saat pertama kali pindah ke desa ini bertahun-tahun lalu," timpal Pak Ujang tertawa kecil, memaklumi kecanggungan pemuda kota itu.

Bara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur ritme napas dan gerakannya agar lebih efisien. Sinar matahari mulai menerobos celah-celah dedaunan, menghangatkan punggungnya yang mulai basah oleh keringat. Beban keranjang rotan di pinggangnya perlahan terasa semakin berat seiring bertambahnya tumpukan daun gambir hijau di dalamnya.

Di kejauhan, lembah Wanasari tampak diselimuti kabut tipis yang perlahan-lahan menipis diterpa sang surya. Meskipun fisik mudanya mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, ada ketenangan aneh yang meresap ke dalam relung hatinya, jauh berbeda dari tekanan mental yang ia rasakan selama bekerja di balik meja kubikal kantor.

❖ ❖ ❖

Menjelang tengah hari, aktivitas berpindah ke pondok pengolahan darurat di tengah kebun. Daun-daun gambir yang telah terkumpul dalam jumlah besar kini harus dimasukkan ke dalam kuali besi raksasa yang mendidih di atas tungku kayu bakar yang menyala merah. Bara kebagian tugas mengaduk rebusan daun tersebut menggunakan sebatang kayu pengaduk yang panjang dan berat.

Lihat selengkapnya