Matahari baru saja menyembulkan bias jingga di balik punggung bukit ketika suara ketukan bertalu-talu pada bilah pintu kayu memecah keheningan pagi. Bara terbangun seketika. Seluruh persendian di tubuhnya menjerit linu, imbas dari pekerjaan berat membalikkan tanah ladang sepanjang hari kemarin. Dengan meringis pelan, ia bangkit dari kasur tipisnya, merenggangkan otot-otot yang kaku, lalu menggeser selarak pintu.
Di ambang pintu, Mang Karta sudah berdiri tegak dengan topi jerami lusuh dan parut terselip di pinggang. Di sebelah pria paruh baya itu berdiri dua orang pemuda desa bertubuh legam—Jaka dan Rian—yang seusia dengan Bara, membawa linggis kecil dan keranjang bibit kopi.
"Pagi, Tuan Muda Kota! Jangan bilang otot-otot bangsawanmu itu sudah menyerah sebelum perang dimulai," sapa Mang Karta dengan nada mengejek yang diselingi gelak tawa renyah.
Bara mendengus pelan, menepis rasa sakit di lengannya, lalu memasang senyum tipis. "Otot-otot saya baik-baik saja, Mang. Hanya sedikit protes karena semalam kurang pemanasan."
"Bagus kalau begitu," seru Jaka sambil melemparkan sepotong roti jagung bakar kepada Bara. "Makan dulu separuh, biar kuat jalan menanjak ke petak atas. Hari ini giliran kita membuka lahan miring di dekat tebing batu. Tanahnya keras, banyak batu cadas."
Bara menangkap roti jagung itu dengan sigap, lalu menggigitnya cepat. Rasa manis alami jagung bercampur gurihnya panggangan langsung memenuhi mulutnya. Semenjak ia memutuskan meninggalkan seluruh fasilitas kemewahan Grup Adhitama, tidak ada lagi pelayan yang menyajikan sarapan mewah di atas piring porselen Eropa. Namun, di tempat ini, setiap suapan makanan memiliki makna perjuangan yang nyata.
Mereka berempat berjalan beriringan mendaki jalan setapak tanah liat yang masih basah oleh embun pagi. Sepanjang perjalanan, kabut tipis mengepul rendah, menyelimuti pepohonan mahoni dan rimbunnya perdu kopi rakyat.
"Kemarin kudengar dari Rinjani kamu sempat ditelepon seseorang dari kota besar," kata Rian tiba-tiba, melirik sekilas ke arah Bara dari balik keranjang bibit yang dipikulnya di punggung. "Kelihatan dari tampangmu waktu turun semalam, mukamu langsung kusut."
Bara terdiam sejenak, mengatur napasnya yang mulai memburu di tanjakan curam. "Hanya urusan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai, Rian. Orang-orang di kota besar terkadang sulit percaya bahwa seseorang bisa hidup tenang tanpa kekayaan."
"Ah, kota besar memang aneh," timpal Jaka sambil meludah kecil ke semak-semak. "Semua orang berlomba-lomba mencari uang banyak sampai lupa cara menikmati secangkir kopi hangat di teras rumah saat senja. Buat apa punya harta melimpah kalau tidurnya tidak pernah nyenyak?"
Kata-kata sederhana dari seorang pemuda desa itu menohok relung hati Bara paling dalam. Jaka benar. Selama dua puluh empat tahun hidup di bawah telunjuk sang ayah, Tanuwijaya Adhitama, ia memiliki segalanya di atas kertas, tetapi jiwanya kering kerontang.
❖ ❖ ❖
Setibanya di petak perkebunan bagian atas, udara terasa jauh lebih dingin dan angin bertiup kencang. Tanah di sini memang jauh lebih keras dibandingkan petak bawah tempat Bara bekerja sebelumnya. Permukaannya dipenuhi batu-batu cadas hitam yang tertanam kuat di dalam tanah liat kering.
"Nah, di sinilah ujian sesungguhnya, Bara," ujar Mang Karta sambil menunjuk sebidang tanah luas yang ditumbuhi akar liar dan batu besar. "Kalau kamu hanya mengandalkan tenaga tangan, cangkulmu bakal patah dalam sepuluh kali ayunan. Kamu harus cari celah retakan batunya, lalu ungkit perlahan."
Bara mengangguk serius. Ia melangkah mendekati bongkahan tanah berbatu itu, mengambil cangkul bermata besi tebal, dan memasang kuda-kuda. Mengingat pelajaran kemarin, ia tidak lagi menggunakan otot lengan atas semata, melainkan memutar pinggulnya untuk menyalurkan seluruh tenaga tubuhnya ke ujung mata cangkul.
Ketaak!
Suara hantaman besi beradu dengan batu cadas menggema keras. Getaran kuat langsung merambat naik ke pergelangan tangan Bara, membuat telapak tangannya yang kemarin baru saja mulai pulih kembali robek di bagian bekas lepuhan. Darah segar merembes keluar, membasahi gagang kayu cangkul.
Bara meringis pelan, menarik napas tajam melalui sela-sela giginya yang terkatup rapat.
"Hei, tanganmu berdarah, Bara!" seru Jaka cemas, langsung melempar pekerjaannya dan mendekat. "Istirahat dulu. Jangan dipaksa kalau lukanya belum kering betul."
Bara menggelengkan kepala perlahan, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat dengan lengan baju. "Tidak apa-apa, Jaka. Ini cuma luka kecil. Kalau aku berhenti sekarang, kapan lahan ini bisa selesai?"
"Kamu ini keras kepala sekali," gerutu Mang Karta, namun ada kilatan rasa hormat yang terpancar di matanya yang tua. Ia merobek selembar kain katun dari kantong bajunya, lalu melemparkannya kepada Bara. "Ikat telapak tanganmu itu dulu sebelum darahnya makin banyak keluar. Di desa ini, tangan adalah modal utama kerja. Kalau tanganmu rusak, kamu tidak bisa makan."
Bara menerima kain tersebut, lalu membebat telapak tangannya yang terluka dengan erat. Rasa perih luar biasa menyengat setiap kali kain menekan kulit yang lecet. Namun, rasa sakit fisik itu justru membuat pikirannya semakin jernih. Setiap tetes darah yang keluar dari telapak tangannya seolah sedang menghapus sisa-sisa kemanjaan seorang pewaris konglomerat secara perlahan.
❖ ❖ ❖