Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Cangkir Kopi Pahit

Embun pagi masih menggantung di ujung-ujung daun gambir ketika suara tawa renyah memecah kesunyian di pondok kayu Pak Senen. Di tempat itu, Bara duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah mulai aus di beberapa bagian. Di hadapannya terhidang segelas kopi hitam pekat yang mengepulkan uap tipis, beraroma kuat khas biji kopi lokal yang disangrai sendiri oleh tangan-tangan tua yang berpengalaman.

Bara mengangkat cangkir seng itu dengan hati-hati. Kulit telapak tangannya kini telah berubah, dipenuhi bekas kapalan baru hasil berminggu-minggu memegang sabit dan mencangkul tanah liat Lembah Selatan. Di sebelah kirinya, Pak Senen—buruh tani senior berusia kepala tujuh dengan guratan wajah setajam silet akibat dekade demi dekade terpapar matahari—tengah melinting tembakau rokok daun nipahnya dengan gerakan tenang dan ritmis.

"Minum pelan-pelan, Mas Muda kota," ujar Pak Senen sambil tersenyum menyeringai, memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa biji akibat usia. "Kopi ini tidak semanis sirup botolan yang biasa kamu minum di kafe AC kota besar. Kopi ini jujur; pahit di awal, tapi menyisakan rasa hangat yang panjang di dada."

Bara meneguk sedikit cairan hitam itu. Lidahnya langsung menyambut rasa pahit yang pekat, namun seketika sensasi hangat menjalar turun ke kerongkongannya, meredakan sisa-sisa pegal di sekujur tubuh akibat pekerjaan kemarin.

"Pahitnya pas, Mbah," jawab Bara tersenyum tipis, menatap lurus ke arah lapangan kebun yang mulai diterangi cahaya matahari pagi. "Sama seperti hidupku beberapa minggu belakangan ini. Penuh kejutan yang sama sekali tidak ada di dalam buku panduan kuliah arsitektur."

Pak Senen tertawa kecil, suara seraknya bergetar di dalam rongga dadanya. "Kuliah di kota itu hanya mengajarkanmu cara menggambar gedung di atas kertas putih yang bersih, Nak. Tapi di sini, di bawah kolong langit Lembah Selatan, kami belajar cara menopang bangunan tanpa fondasi yang goyah. Tanah ini tidak peduli seberapa tinggi nilai IP-mu. Tanah ini hanya menghargai siapa yang tulus merawatnya."

Ucapan buruh tani tua itu menancap dalam di benak Bara, merombak cara pandangnya terhadap kerja keras dan arti sebuah ketulusan yang selama ini ia abaikan di balik dinding-dinding megah rumah keluarganya.

❖ ❖ ❖

Kehadiran Bara di tengah para buruh tani senior bukan lagi dipandang sebelah mata. Jika pada minggu-minggu pertama kedatangannya mereka melihat Bara sebagai anak manja kota yang sedang mencari pelarian sesaat, kini pemuda itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi perkebunan gambir Pak Abidin.

Pagi itu, di bawah rindangnya pohon asam, Mbah Marto—buruh senior lainnya yang ahli dalam urusan memilih bibit unggul—mendekati Bara yang sedang sibuk mengasah mata sabitnya dengan batu asahan basah.

"Gerakan tanganmu sudah mulai benar, Bara," puji Mbah Marto sambil meletakkan keranjang rotan berisi pupuk organik di samping Bara. "Tidak kaku seperti waktu pertama kali datang dulu. Tapi ingat, jangan pernah memotong batang gambir dengan terburu-buru hanya karena ingin cepat selesai. Tanaman itu punya ritmenya sendiri."

Bara menghentikan gerakan asahannya, menatap Mbah Marto dengan rasa hormat yang tulus. "Aku belajar banyak dari kesabaran kalian, Mbah. Di kota, semuanya harus instan. Makanan instan, informasi instan, bahkan kesuksesan pun dituntut datang secepat kilat. Kalau tidak instan, kita dianggap tertinggal."

"Itu karena orang-orang di kota hidup dalam ketakutan untuk tertinggal oleh waktu," sahut Mbah Marto bijak, duduk bersila di atas tanah yang lembap. "Padahal waktu itu sendiri tidak pernah lari kemana-mana. Yang lari itu pikiran manusia yang serakah. Coba lihat pohon gambir ini. Dia butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh kuat, dan daunnya baru bisa disadap setelah matang betul. Kalau dipaksa panen sebelum waktunya, getahnya hambar dan merusak seluruh tanaman."

Bara meresapi setiap kata yang keluar dari mulut buruh tua itu. Bayangan wajah ayahnya yang selalu menuntut kelulusan kilat dan pencapaian instan melintas sekilas di kepalanya, namun kali ini tanpa rasa benci—hanya sebuah pemakluman bahwa sang ayah pun terjebak dalam ilusi waktu dunia modern.

"Bagaimana kalau suatu hari nanti aku harus kembali ke kota, Mbah?" tanya Bara pelan, suaranya hampir tenggelam di antara desau angin pagi dan suara burung-burung liar. "Apakah semua ilmu tentang tanah dan tanaman ini akan menjadi sia-sia di tengah hutan beton?"

"Ilmu tentang ketulusan dan kesabaran tidak akan pernah sia-sia di belahan bumi manapun, Mas Bara," jawab Mbah Marto tegas, menepuk bahu Bara dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh urat menonjol. "Arsitek sejati bukanlah orang yang hanya bisa mendirikan tembok beton tinggi, melainkan orang yang paham bagaimana bangunan buatannya bisa menyatu dengan alam dan memberikan ketenangan bagi yang tinggal di dalamnya."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya