Matahari pagi di pesisir utara belum sepenuhnya menampakkan wujudnya ketika kabut tipis masih merayap di atas permukaan air laut yang tenang. Aroma khas kayu jati basah, serbuk gergaji halus, dan bau damar yang mencuat dari tempat pembakaran berpadu menjadi satu di udara. Di galangan kapal tradisional milik Pak Abidin, aktivitas harian telah dimulai sejak ayam berkokok pertama kali. Para buruh senior tampak mondar-mandir membawa peralatan tukang, sementara suara hantaman palu besar berirama konstan memecah keheningan pagi.
Di sudut paling barat galangan, Bara berdiri seorang diri di hadapan kerangka lambung perahu besar yang sedang dalam tahap pengerjaan rangka rusuk. Pakaian kerjanya yang berupa kaus oblong abu-abu lusuh dan celana kain tebal tampak dipenuhi noda serbuk kayu serta bercak cat dasar. Tangannya yang dipenuhi kapalan tebal menggenggam erat sebuah pahat tajam, dengan teliti mengikis bagian sambungan kayu agar pasak-pasak pengunci dapat masuk dengan presisi sempurna tanpa cela sedikit pun.
Sudah hampir tiga minggu pemuda ibu kota itu menetap dan bekerja di tempat tersebut. Hilang sudah bayangan Bara yang dulu—seorang pemuda manja berpenampilan rapi dengan tangan mulus yang hanya terbiasa memegang gawai mewah. Kini, kulitnya jauh lebih gelap terbakar terik matahari pesisir, otot-otot di lengannya tampak semakin padat, dan sorot matanya memancarkan ketenangan serta ketegasan yang tidak pernah terlihat sewaktu ia masih tinggal di dalam sangkar emas keluarganya.
"Heh, Anak Kota! Jangan terlalu lama melamun menatap sambungan kayu itu. Matahari sudah tinggi, kalau kerangka lunasnya belum selesai diamplas, mandor tua kita bakal ngomel seharian," teriak Dadang, buruh senior bertubuh gempal yang membawa sepikul balok kayu melintas di dekat Bara.
Bara tersenyum tipis, mendongakkan kepala sebentar untuk menyeka keringat yang mengalir di dahinya dengan lengan baju. "Tenang, Mang. Pekerjaan ini tidak akan lewat dari jam sepuluh. Aku sedang memastikan sudut kemiringannya benar-benar pas."
"Baguslah kalau begitu. Semangatmu memang tidak ada duanya, Bar. Tapi jangan sampai kau pingsan karena terlalu memforsir tenaga," balas Dadang sambil terkekeh renyah dan melanjutkan langkahnya ke arah gudang penyimpanan bahan baku.
Bara kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi. Setiap gerakan pahatnya dilakukan dengan perhitungan matang. Ia sadar betul bahwa di tempat kerja ini, tidak ada yang peduli siapa ayah kandungnya atau seberapa besar harta keluarganya di ibu kota. Di galangan kapal Pak Abidin, seseorang hanya dinilai dari seberapa jujur ia bekerja dan seberapa kuat ia menanggung beban di atas kayu-kayu berat tersebut.
Beberapa meter dari tempat Bara berdiri, di balik ambang pintu kantor kayu sederhana yang menghadap langsung ke area kerja, sepasang mata tajam sedang mengawasi setiap gerak-gerik pemuda itu. Pak Abidin berdiri mematung sambil menyeruput secangkir kopi hitam panas dari cangkir seng berkarat di tangannya. Topi jerami usang menutupi sebagian rambut putihnya, namun pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Bara yang tampak begitu tekun menyelesaikan tugasnya tanpa mengeluh sedikit pun sejak pagi buta.
❖ ❖ ❖
Pak Abidin menyipitkan matanya, mengamati cara Bara memperlakukan kayu-kayu jati berkualitas tinggi tersebut dengan rasa hormat yang jarang ditemukan pada pemuda seusianya. Kebanyakan anak muda masa kini hanya ingin mendapatkan uang cepat dengan pekerjaan ringan di ruangan ber-AC, tanpa mau menghargai proses panjang pembuatan sesuatu dari nol. Namun Bara berbeda. Pemuda itu datang dengan membawa beban masa lalu yang berat, tetapi memilih untuk membayar jalannya sendiri dengan cucuran keringat di bawah terik matahari.
"Sudah hampir sebulan anak itu di sini, Ki," suara serak seorang mandor tua bernama Pak Karta mendadak memecah keheningan kantor kecil tersebut. Mandor Karta ikut berdiri di samping Pak Abidin, memperhatikan Bara dari kejauhan. "Awalnya saya pikir dia paling hanya bertahan tiga hari sebelum akhirnya lari nangis-nangis minta pulang ke rumah mewahnya."
Pak Abidin tidak langsung menjawab. Ia meneguk kopinya perlahan, membiarkan rasa pahit cairan pekat itu membasahi tenggorokannya sebelum akhirnya membuka suara dengan nada datar namun penuh pertimbangan.
"Kau salah, Karta. Anak itu punya bara api di dalam dadanya. Bukan api kemarahan, tapi api tekad yang ingin membuktikan bahwa hidupnya bukan milik orang lain," ujar Pak Abidin pelan.
"Tapi apakah kita bisa terus mempercayainya sepenuhnya, Ki? Bagaimanapun juga, latar belakang keluarganya terlalu besar. Suatu saat nanti, keluarganya pasti akan menemukan tempat persembunyian ini," lanjut Pak Karta dengan nada cemas yang kentara.
Pak Abidin mendengus pelan, meletakkan cangkir seng di atas meja kayu yang dipenuhi cetak biru rancangan perahu. "Aku tidak peduli siapa keluarganya atau seberapa banyak harta yang mereka miliki di ibu kota. Di galangan kapal ini, hukum yang berlaku adalah kerja keras, kejujuran, dan kesetiaan pada kayu. Selama Bara bekerja dengan jujur dan tidak merusak aturan di sini, dia adalah bagian dari kita."
Di luar kantor, Bara sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi bahan perbincangan penting antara pemilik galangan dan mandor senior tersebut. Ia baru saja menyelesaikan pengikisan pada bagian rusuk kapal, lalu merapikan perkakasnya ke dalam kotak kayu kecil. Napasnya terengah-engah, dan punggung bajunya basah kuyup oleh keringat.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di hadapannya. Bara mendongak dan mendapati Pak Abidin sudah berdiri tepat di depannya dengan tangan bersidekap di dada bidangnya.
"Pekerjaanmu tadi, coba jelaskan kenapa kau memilih menggunakan pasak dari kayu ulin daripada kayu merbau untuk sambungan bagian lunas itu," tanya Pak Abidin tanpa basa-basi, langsung menguji pemahaman teori pemuda tersebut.
Bara sedikit terkejut, namun ia langsung berdiri tegak menghadap sang pemilik galangan dengan tenang. "Karena kayu ulin memiliki ketahanan yang jauh lebih baik terhadap kelembapan air laut dan tekanan gesek yang tinggi, Ki. Kalau kita pakai kayu merbau untuk bagian lunas utama, sambungannya akan lebih cepat rapuh saat perahu diterjang ombak besar di tengah laut."
Pak Abidin menatap lekat-lekat manik mata Bara selama beberapa detik yang terasa panjang. Suasana di sekitar mereka mendadak senyap, seolah para pekerja lain pun ikut menyimak jawaban pemuda tersebut.
❖ ❖ ❖
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Bara tetap mempertahankan posisinya, tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun di hadapan pria tua yang paling disegani di seluruh pesisir tersebut.
Tiba-tiba, sudut bibir Pak Abidin sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang diperlihatkannya kepada para pekerja baru.
"Bagus. Jawabanmu tepat," ucap Pak Abidin dengan suara beratnya. "Rupanya selama berminggu-minggu ini kau tidak cuma asal mencangkul atau memindahkan kayu gelondongan, tapi matamu benar-benar mengamati setiap detail ilmu yang diajarkan Karta."
Bara menghembuskan napas lega yang tertahan di dadanya. "Saya belajar banyak dari para senior di sini, Ki. Terutama dari cara Mang Dadang dan Pak Karta bekerja."
"Jangan cepat berpuas diri, Anak Kota," potong Pak Abidin cepat, kembali memasang wajah dingin berwibawa. "Ilmu perahu itu seluas lautan. Apa yang kau kuasai sekarang baru permukaannya saja. Perahu yang kokoh tidak hanya diuji di galangan yang kering ini, tapi di tengah amukan badai yang sebenarnya."