
Matahari telah lama tenggelam di balik garis perbukitan barat, meninggalkan sisa-sisa rona jingga yang perlahan digantikan oleh kelambu malam. Desa Wanasari kini terbungkus dalam selimut senyap yang pekat. Suara gemerisik dedaunan bambu yang bergesekan ditiup angin malam berpadu sempurna dengan paduan suara alami dari jutaan jangkrik dan kodok sawah. Udara dingin pegunungan merayap menembus dinding bilik kayu, membawa aroma khas tanah basah dan sisa pembakaran kayu bakar dari dapur-dapur penduduk.
Bara duduk seorang diri di teras depan pemondokannya, mengenakan jaket kain tebal wol rajutan tangan pemberian Mang Oleh. Di hadapannya, secangkir teh jahe hangat mengepulkan uap tipis di bawah temaram cahaya lampu minyak sentir yang diletakkan di atas meja kayu usang. Punggung dan lengannya masih menyisakan rasa pegal sisa-sisa pekerjaan keras di kebun gambir beberapa hari belakangan ini, namun ada ketenangan luar biasa yang menggelayut di dalam benaknya.
"Belum tidur, Nak? Malam sudah semakin larut, angin lembah sedang dingin-dinginnya," tegur Mang Oleh yang tiba-tiba muncul dari arah kebun belakang sambil membawa seikat kayu bakar kecil.
Bara mendongak, tersenyum ramah menyambut kehadiran lelaki paruh baya itu. "Belum, Mang. Udara malam di sini begitu tenang, membuat saya betah duduk lama merenungkan banyak hal."
"Ketenangan itu sering kali menakutkan bagi orang kota yang terbiasa dengan kebisingan, tapi bagi kami, kesunyian adalah sahabat terbaik," timpal Mang Oleh sambil meletakkan kayu bakar di sudut teras.
"Benar sekali, Mang. Di kota, saya merasa selalu dikejar oleh waktu yang tidak pernah cukup. Tapi di sini, waktu terasa berjalan lebih sabar," balas Bara sambil menyeruput teh jahe hangatnya yang perlahan menghangatkan kerongkongan.
Setelah Mang Oleh pamit masuk ke dalam untuk beristirahat, Bara memutuskan untuk berjalan-jalan kecil di sekitar pemondokan. Langkah kakinya tanpa sadar membawanya menuruni jalan setapak berbatu menuju sebuah bangunan kecil berukuran sederhana yang terletak di ujung dusun—sebuah surau tua berarsitektur kayu dengan pelita gantung yang memancarkan cahaya kekuningan lembut dari terasnya.
❖ ❖ ❖
Surau kecil itu tampak begitu sunyi, dikelilingi oleh rumpun pisang dan pohon kelapa yang bayangannya menari-nari diterpa cahaya bulan sabit. Pintu kayu surau tidak terkunci, hanya diselot longgar dari dalam. Bara berdiri sejenak di ambang pintu, meresapi keheningan sakral yang terpancar dari dalam ruangan berkarpet usang tersebut. Di sudut ruangan, tampak seorang lelaki sepuh berpakaian koko putih bersih sedang duduk bersila sambil melantunkan ayat suci dengan suara parau namun begitu merdu menyejukkan hati.
"Masuklah, Nak. Pintu rumah Sang Pencipta tidak pernah tertutup bagi siapa pun yang datang dengan hati lelah," sapa Pak Ujang—yang ternyata adalah pengurus sekaligus marbot surau tersebut—tanpa menghentikan dzikirnya.
Bara tertegun sejenak, lalu melepas sepatu botnya dengan hati-hati dan melangkah masuk. Ia mengambil tempat di sudut ruangan, duduk bersila dengan punggung bersandar pada dinding papan kayu yang dingin. Suara pelan lantunan ayat suci yang dibawakan Pak Ujang beresonansi dengan detak jantungnya, meruntuhkan sisa-sisa ego dan kepenatan duniawi yang selama ini membelenggu jiwanya.
"Rasanya aneh, Pak. Semakin jauh saya meninggalkan kota, semakin saya merasa menemukan kembali diri saya yang hilang," ucap Bara pelan setelah Pak Ujang menutup bacaannya dan membalikkan badan menghadapnya.
Pak Ujang tersenyum lembut, garis-garis keriput di wajahnya menyiratkan kedalaman pengalaman hidup yang luar biasa. "Manusia sering kali harus tersesat jauh ke tempat yang sunyi agar bisa mendengar suara hatinya sendiri, Nak. Kota besar menawarkan segalanya kecuali kejujuran jiwa."
Bara menunduk, merenungkan kalimat bijak tersebut. Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Ujang seolah menohok langsung ke relung batinnya yang paling dalam, membuka lembar-lembar penyesalan masa lalu tentang hubungannya dengan sang ayah yang sempat renggang sebelum beliau berpulang.
❖ ❖ ❖