Asap putih mengepul tipis dari cerobong batu bata merah yang terletak di sudut halaman belakang pondok Mang Karta. Pagi itu, udara Desa Cibalik terasa begitu dingin menusuk tulang, dibalut kabut tebal yang belum sepenuhnya terangkat oleh sinar matahari. Di dekat tungku pembakaran yang menyala terang, Bara berdiri dengan lengan baju digulung hingga siku, mengenakan celana jins belel dan kaus katun polos yang telah ternoda oleh noda getah kecokelatan.
Di hadapannya terdapat sebuah kuali besi berukuran besar yang mendidih, berisi cairan pekat berwarna cokelat tua—getah gambir yang baru saja dipanen dari ladang perkebunan warga dusun.
"Awas panas, Bara! Jangan sampai apinya terlalu besar, nanti getahnya gosong dan rasanya jadi terlalu pahit," seru Mang Karta mengingatkan sambil membawa seikat ranting kayu kering tambahan ke dekat tungku.
Bara mengangguk patuh, memegang sebatang kayu pengaduk berukuran besar dan mengaduk cairan kental di dalam kuali secara perlahan dan konstan. "Saya mengerti, Mang. Ini sudah adukan yang kesekian kalinya sejak subuh tadi."
"Bagus kalau paham," tawa Mang Karta renyah, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Mengolah gambir tradisional itu tidak cukup hanya pakai otot, Nak. Butuh kesabaran tingkat tinggi. Kalau kamu terburu-buru, hasilnya hancur dan jerih payah warga berbulan-bulan jadi sia-sia."
Bara tersenyum tipis, merasakan otot di kedua lengannya sudah jauh lebih kuat beradaptasi dibandingkan hari pertama ia menginjakkan kaki di desa ini. Luka di telapak tangannya kini telah berubah menjadi jaringan parut yang tebal—sebuah tanda fisik permanen dari transformasi hidupnya dari seorang pewaris konglomerat menjadi seorang pekerja desa yang tangguh.
Selama berminggu-minggu hidup di Cibalik, Bara tidak lagi merindukan kemewahan tempat tidurnya yang empuk, mobil sport bermesin V8, atau jamuan makan malam formal di restoran bintang lima. Ia telah menemukan makna hidup yang sesungguhnya di tempat sederhana ini, di mana setiap tetes keringat memiliki nilai dan setiap butir hasil bumi diperoleh melalui kejujuran serta kerja keras.
Namun, ketenangan itu selalu dibayangi oleh ingatan akan ancaman sang ayah di ujung sambungan telepon terakhir. Tanuwijaya Adhitama tidak akan tinggal diam melihat putra tunggalnya membangkang dan memilih jalan hidup sendiri.
❖ ❖ ❖
Proses pengolahan gambir tradisional memang menuntut ketelitian tingkat tinggi. Setelah cairan getah daun uncaria gambir direbus hingga mengental menjadi pasta pekat, tahap selanjutnya adalah proses pencetakan dan pengepresan.
Rinjani datang menghampiri area tungku pembakaran sambil membawa nampan berisi kendi air hangat dan beberapa potong pisang rebus. Gadis itu tersenyum melihat keseriusan Bara yang sedang memindahkan pasta gambir panas ke dalam cetakan kayu kecil beralas daun pisang.
"Wah, sepertinya hasil rebusan kali ini jauh lebih bagus dan padat dibanding minggu lalu, Bara," puji Rinjani sambil meletakkan nampan di atas meja kayu di dekat mereka.
Bara berhenti sejenak, menegakkan punggungnya yang terasa pegal, lalu menyeka pelipisnya dengan punggung tangan yang kini dipenuhi bekas kapalan. "Berkat ajaran Mang Karta dan kesabaran yang kamu ingatkan terus, Rinjani. Kalau tidak, mungkin sudah dari kemarin kuali ini gosong."
Rinjani tertawa kecil, menyerahkan segelas air hangat kepada Bara. "Kamu memang cepat belajar untuk ukuran anak kota yang dulunya apa-apa tinggal panggil pelayan. Tapi ingat, tantangan sebenarnya bukan cuma di tungku api ini."
Bara meneguk air hangat tersebut, merasakan kesegarannya mengalir di tenggorokan. "Maksudmu ancaman dari orang-orang suruhan Ayahku?"
Wajah Rinjani sedikit meredup, senyumnya memudar digantikan oleh kekhawatiran yang tulus. "Sejak kejadian mobil jip hitam kemarin lusa, beberapa orang asing berkeliaran di dekat batas desa bagian bawah. Mereka menanyakan keberadaanmu kepada para pedagang pasar mingguan."
Bara mengepalkan tangannya perlahan. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena rasa takut, melainkan amarah yang kembali tersulut. "Mereka tidak akan berhenti sampai berhasil menyeretku pulang. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, masa percobaanku belum selesai."
❖ ❖ ❖
Menjelang siang hari, proses pencetakan gambir selesai. Ratusan balok kecil getah gambir tersusun rapi di atas rak-rak penjemuran bambu di bawah terik matahari langsung. Aroma khas gambir yang pekat dan agak getir menguar memenuhi udara sekitar pondok.
Mang Karta menghampiri Bara yang sedang merapikan alat-alat pembersihan tungku. Wajah pria paruh baya itu tampak serius, menatap ke arah jalan setapak utama yang mengarah ke perkampungan dusun.