Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Tantangan cuaca ekstrem di perkebunan

Langit di atas pegunungan Sumatra yang biasanya berwarna biru cerah mendadak berubah menjadi kelabu gelap yang menekan, seperti tutup panci raksasa yang siap menumpahkan isinya ke bumi. Udara yang tadinya panas menyengat berubah menjadi lembap dan berbau logam—tanda pasti bahwa badai tropis sedang mengumpulkan kekuatannya di balik punggung perbukitan.

Bara berdiri di pinggir lereng, menatap hamparan semak gambir yang luas. Di tangannya, parang baja miliknya terasa dingin dan berat. Ia sudah berada di perkebunan ini cukup lama untuk mengenali tanda-tanda alam yang tidak bersahabat. Perubahan atmosfer yang mendadak ini bukan sekadar hujan biasa; ini adalah awal dari badai ekstrem yang sering kali memutus akses jalan dusun dan menumbangkan pohon-pohon besar.

"Semua buruh, segera hentikan pekerjaan!" suara Bara bergema, memecah kesunyian hutan. Ia tidak lagi bicara dengan keraguan seorang pemuda kota; suaranya kini memiliki otoritas dan kedalaman seorang pemimpin yang teruji oleh medan. "Badai besar akan segera datang. Jangan coba-coba bertahan di lereng! Turun ke dusun, sekarang juga!"

Para pekerja yang tersebar di perbukitan segera menghentikan aktivitas mereka. Pak Joko, yang sedang memikul tumpukan daun gambir, menoleh dengan wajah khawatir. "Bara, kalau kita turun sekarang, keranjang-keranjang ini tidak akan sampai ke pondok pengolahan. Getahnya bisa rusak kalau kena hujan deras sebelum direbus!"

Bara melangkah cepat menghampiri pria tua itu, gerakannya lincah dan berotot, hasil dari tempaan bulan-bulan terakhir. "Lupakan daunnya, Pak Joko! Nyawa kalian lebih berharga daripada hasil panen. Alam di sini tidak mengenal belas kasihan jika kau keras kepala."

Benar saja, belum sempat mereka melangkah sepuluh meter, petir pertama menyambar di puncak bukit di depan mereka, disusul oleh suara guntur yang mengguncang tanah hingga terasa ke telapak kaki. Hujan deras yang seolah dicurahkan dari langit langsung mengguyur mereka tanpa peringatan. Dalam hitungan detik, jalan setapak yang sempit berubah menjadi aliran lumpur licin yang berbahaya.

"Lindungi kepala kalian!" teriak Bara sambil menarik lengan Pak Joko agar tetap seimbang.

Angin mulai bertiup kencang, menumbangkan dahan-dahan pohon yang rapuh. Bara melihat ke arah bawah, ke arah jembatan gantung kayu yang menjadi satu-satunya akses penghubung dusun. Aliran sungai kecil di bawahnya sudah mulai meluap, membawa batang kayu dan sampah hutan dengan kecepatan yang mengerikan.

"Bagaimana dengan Pak Tua Rasyid?" tanya Pak Joko dengan suara yang hampir tenggelam oleh deru angin. "Dia masih di pondok administrasi di seberang sana!"

Bara terdiam sesaat, matanya menatap jembatan yang mulai bergoyang hebat diterjang angin. Ia tahu bahwa jika ia tidak bertindak, pondok administrasi akan terisolasi dan mungkin tersapu oleh air bah yang terus naik.

"Kau bawa yang lain ke tempat perlindungan di dalam gua batu di lereng bawah!" perintah Bara kepada Pak Joko dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Aku akan menjemput Pak Rasyid!"

"Jangan gila, Bara! Arusnya terlalu kuat!" protes Pak Joko.

Namun, Bara sudah berlari, menerjang hujan deras dengan stamina yang luar biasa. Tubuhnya yang kini lebih atletis dan tangguh membelah angin dengan efisien. Ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri; pikirannya hanya tertuju pada bagaimana memastikan tidak ada seorang pun dari rekan kerjanya yang menjadi korban keganasan alam ini.

❖ ❖ ❖

Jembatan gantung itu berayun seperti ayunan anak kecil di tengah badai. Bara mencengkeram tali jembatan yang basah dan licin, otot-otot lengannya menegang hebat menahan terpaan angin yang mencoba melemparkannya ke jurang. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Di bawah sana, sungai yang tadinya tenang kini berubah menjadi monster cokelat yang mengamuk, memakan pinggiran tebing.

"Bara! Kembali!" suara Pak Rasyid terdengar dari seberang, nyaring namun penuh kepanikan. Pria tua itu berdiri di depan pintu pondok yang sudah mulai digenangi air.

"Tetap di sana, Pak Rasyid! Jangan keluar!" teriak Bara kembali.

Tepat saat ia mencapai pertengahan jembatan, sebatang pohon besar yang tumbang di hulu menghantam pilar penyangga jembatan. Krak! Bunyi patahnya kayu tua itu membuat jembatan miring dengan sudut yang curam. Bara terpelanting, namun ia berhasil mencengkeram tali baja dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang parang.

"Sial," umpatnya di antara desah napas yang berat.

Ia memanjat kembali ke posisi tegak dengan sisa tenaga yang ada. Tubuhnya yang kini lebih atletis memberinya keunggulan—keseimbangan yang lebih baik dan daya tahan otot yang tidak mudah menyerah. Ia tahu ia tidak bisa kembali ke belakang. Ia harus melompat ke sisi seberang sebelum jembatan itu putus sepenuhnya.

Dengan satu tarikan napas dalam, ia mengambil ancang-ancang. Melompat di tengah hujan badai adalah tindakan bunuh diri, tapi diam berarti mati. Ia melompat, kakinya mendarat di tanah becek seberang sungai tepat sebelum sisa jembatan terputus dan hanyut dibawa arus.

"Bara! Kau gila!" Pak Rasyid menarik tangan Bara ke dalam pondok. "Kenapa kau harus mengambil risiko sebesar itu?"

"Tidak ada orang yang boleh tertinggal di sini, Pak," jawab Bara sambil menyeka air hujan dari wajahnya. Ia segera memeriksa pintu dan jendela pondok. "Bangunan ini tidak akan bertahan lama jika banjir terus naik. Kita harus pindah ke tempat lebih tinggi, ke arah tebing karang di belakang dusun."

"Tapi jalannya sudah tertutup longsoran tanah!" sahut Pak Rasyid lemas.

Bara menatap ke luar jendela, melihat air yang merayap naik dengan cepat. "Kita buat jalan sendiri. Pakai peralatan yang ada. Kita harus naik, atau kita akan tersapu bersama bangunan ini."

Di tengah badai yang mengamuk, ketenangan Bara justru menjadi jangkar bagi Pak Rasyid. Pemuda itu kini memiliki ketahanan mental yang ditempa oleh kehidupan di hutan—ia tidak lagi panik. Ia mulai menyusun rencana dengan cepat, menggunakan peralatan berat di gudang pondok sebagai pengungkit untuk membersihkan jalan yang tertutup longsoran tanah.

❖ ❖ ❖

Hujan belum juga reda, bahkan intensitasnya semakin menggila. Suara guntur terus bersahutan seolah langit sedang marah besar. Di dalam pondok administrasi, Bara dan Pak Rasyid bekerja sekuat tenaga memindahkan barang-barang penting ke bagian atap.

"Bara, lihat itu!" Pak Rasyid menunjuk ke arah aliran sungai yang kini sudah meluap hingga menyentuh lantai pondok. "Fondasinya mulai goyang!"

Bara tidak menjawab. Ia sedang sibuk mendorong lemari arsip kayu yang berat ke arah pintu keluar. "Kita tidak bisa lewat pintu depan. Airnya sudah terlalu deras. Kita harus jebol dinding belakang yang menghadap ke arah tebing."

Dengan menggunakan kapak besar, Bara menghantam dinding kayu pondok dengan ritme yang teratur. Setiap ayunan kapaknya memancarkan tenaga dari otot-otot bahu dan punggung yang sudah terbentuk sempurna melalui kerja keras di perkebunan. Kayu-kayu lapuk itu perlahan mulai retak dan hancur.

Lihat selengkapnya