Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Senyum Tanpa Pamrih

Pagi di Lembah Selatan tidak pernah dimulai dengan suara bising klakson kendaraan atau deru mesin pabrik yang terburu-buru mengejar waktu. Di sini, fajar disambut oleh suara kokok ayam jantan yang bersahutan, disusul irama lesung kayu bertalu-talu dari rumah ke rumah—sebuah penanda tradisional bahwa para perempuan desa telah bangun untuk menumbuk padi.

Bara membuka jendela kamar rumah panggung Pak Abidin, membiarkan udara pagi yang sejuk dan bersih menerpa wajahnya. Di halaman bawah, beberapa warga desa sudah berkumpul membawa cangkul, sabit, dan bakul bambu. Mereka tidak sedang bersiap untuk berangkat kerja demi upah harian semata, melainkan bersiap menunaikan tradisi gandong—gotong royong membangun saluran irigasi baru yang akan mengairi ladang milik salah satu warga yang tengah sakit keras.

"Hei, anak kota! Jangan hanya melamun menikmati udara segar!" seru Rian dari halaman sambil melambaikan tangan membawa sebatang linggis kecil. "Cepat turun! Kopi hangatnya sudah habis, waktunya kita turun ke sawah!"

Bara tersenyum lebar. Dalam beberapa bulan terakhir, kebiasaan-kebiasaan sederhana ini telah meresap ke dalam pori-pori kehidupannya. Ia mengenakan kaus polos kumal dan celana lapangan lamanya, lalu bergegas menuruni tangga kayu untuk bergabung dengan denyut kehidupan sosial desa yang hangat dan tanpa kepura-puraan.

Setibanya di pelataran, suasana langsung riuh oleh canda tawa para warga. Tidak ada sekat sosial antara pemilik perkebunan kaya seperti Pak Abidin dengan buruh tani harian seperti Pak Senen dan Mbah Marto. Semuanya setara di bawah terik matahari yang ramah.

"Bagaimana tidurmu semalam, Bara? Masih terbawa mimpi rancangan gedung bertingkat di kota?" kelakar Mbah Marto sambil menepuk punggung Bara dengan keras hingga pemuda itu sedikit terbatuk.

"Sudah tidak lagi, Mbah," jawab Bara tertawa lepas. "Mimpi semalam jauh lebih sederhana: aku bermimpi panen gambir melimpah dan traktor lumpur macet di tengah sawah."

"Bagus! Itu tandanya jiwa kotamu sudah mulai luntur dan menyatu dengan lumpur Lembah Selatan," timpal Pak Abidin yang berjalan mendekat dengan senyum berwibawa. "Ingat, Bara, manusia itu ibarat bangunan. Fondasi terkuatnya bukan terletak pada besi beton yang mahal, melainkan pada ikatan sosial dan rasa saling peduli antarsesama manusia."

❖ ❖ ❖

Perjalanan menuju lokasi irigasi dipenuhi obrolan hangat. Sepanjang jalan setapak di antara pematang sawah yang menghijau, setiap warga yang berpapasan selalu menyapa dengan senyuman tulus. Tidak ada tatapan curiga atau persaingan terselubung seperti yang biasa Bara saksikan di jalanan metropolitan. Di dunia kota, tetangga sebelah rumah pun terkadang tidak saling mengenal nama, sibuk dengan urusan masing-masing di balik pintu pagar tinggi.

Sesampainya di lokasi saluran air yang tertimbun longsoran tanah akibat hujan deras beberapa hari lalu, puluhan warga langsung membagi tugas secara alami tanpa perlu instruksi formal dari seorang manajer proyek. Para pria paruh baya dan pemuda mulai mencangkul dan memindahkan batu-batu besar, sementara para ibu rumah tangga menyiapkan tungku darurat di tepi ladang untuk memasak air dan membakar ubi.

Bara mengambil cangkulnya, lalu mulai mengayunkannya ke tumpukan tanah basah. Otot-otot di lengan dan punggungnya kini sudah terbiasa dengan beban fisik tersebut. Di sebelah kanannya, Rian bekerja sambil bersiul riang.

"Kamu tahu, Mas Bara?" ujar Rian di sela-sela ayunan cangkulnya. "Dulu waktu pertama kali kamu datang, kami mengira kamu bakal kabur dalam waktu seminggu karena tidak tahan hidup tanpa fasilitas modern."

"Aku memang hampir kabur, Rian," aku Bara jujur, berhenti sejenak untuk menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Kepalaku penuh dengan amarah pada orang tuaku, pada duniaku yang lama. Aku pikir hidup ini adalah pertempuran sengit di mana kita harus saling injak supaya bisa menang."

"Itu karena di kota kalian diajarkan untuk hidup sendirian di tengah keramaian," balas Rian bijak. "Di desa ini, kami belajar bahwa manusia tidak akan bisa bertahan hidup kalau hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Sendirian itu rapuh, Mas. Bersama-sama itu kuat."

Kata-kata sederhana dari pemuda desa seusianya itu menyentuh hati Bara secara mendalam. Ia merenungkan bagaimana keluarganya di kota hidup di dalam rumah mewah berlapis pengamanan ketat, namun terasa begitu dingin dan terisolasi dari kehangatan emosional.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya