Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Cahaya di Surau Desa

Suara angin malam berembus pelan melewati celah-celah dinding bilik kayu tempat Bara tinggal di pesisir utara. Di atas meja kecil di sudut kamarnya, sebuah lampu minyak pijar menyala temaram, memantulkan bayangan bergerak di dinding yang dipenuhi poster kayu hasil karya tangannya sendiri. Sudah hampir dua bulan Bara menetap di desa nelayan itu, bekerja siang dan malam di galangan kapal milik Pak Abidin demi mencari makna hidup yang sesungguhnya.

Namun, di balik kesibukan fisik dan kerja keras yang menguras tenaga, ada ruang kosong yang masih menganga di dalam dada pemuda itu. Setiap kali malam tiba dan suasana galangan menjadi sunyi, gelombang kecemasan masa lalu kerap kali datang menghantam pikirannya. Bayangan keluarganya di ibu kota, pertengkaran hebat dengan ayahnya, serta rasa bersalah karena meninggalkan adiknya, Kirana, sering kali membuatnya terjaga hingga larut malam.

Bara merasa lelah berlari dari bayangannya sendiri. Tubuhnya memang sudah terbiasa dengan kerasnya pekerjaan kasar, tangannya kini dipenuhi kapalan tebal, dan otot-ototnya semakin kuat. Akan tetapi, ketenangan batin yang ia cari sejak hari pertama ia kabur dari rumah belum sepenuhnya ia temukan. Hatinya masih terasa bimbang, diliputi ketidakpastian mengenai arah masa depannya.

"Sudah malam, Bar. Jangan terlalu memforsir pikiranmu dengan lamunan kosong," suara serak Pak Abidin tiba-tiba terdengar dari ambang pintu kamar yang terbuka sedikit. Pria tua itu berdiri sambil membawa segelas teh poci hangat.

Bara menoleh, tersenyum tipis menyambut kedatangan mentor sekaligus figur ayah angkatnya di tempat perantauan tersebut. "Ah, Ki Abidin. Belum tidur?"

"Bagaimana mau tidur kalau melihat anak muda di kamar sebelah mondar-mandir seperti orang kebingungan sejak jam sepuluh tadi," ucap Pak Abidin sambil meletakkan gelas teh hangat itu di atas meja kayu. Beliau melabuhkan duduknya di kursi bambu usang di hadapan Bara. "Ada apa? Masalah di galangan atau bayangan rumah mewah itu lagi yang mengganggumu?"

Bara menghela napas panjang, menundukkan kepalanya menatap kedua telapak tangannya sendiri. "Keduanya tidak, Ki. Hanya saja... saya merasa ada yang kurang. Saya sudah bekerja keras setiap hari, badan saya lelah, tapi di dalam sini..." Bara menepuk dadanya pelan, "...rasanya masih ada ruang hampa yang bising."

Pak Abidin mengangguk pelan, memahami pergulatan batin yang sedang dirasakan oleh pemuda di hadapannya itu. "Kau sibuk memperbaiki lambung perahu orang lain, Bar, tapi kau lupa memperbaiki lambung jiwamu sendiri. Perahu sekuat apa pun akan mudah karam kalau tidak punya sauh yang kokoh untuk menahannya di dasar laut."

"Sauh jiwa?" tanya Bara bingung.

"Pergilah ke surau tua di ujung kampung sebelah timur selepas Isya nanti," jawab Pak Abidin tenang sambil menepuk pundak Bara. "Temui Pak Kiai Hasan. Beliau bukan hanya mengajarkan cara membaca ayat-ayat suci, tapi juga cara menenangkan jiwa yang sedang gelisah."

❖ ❖ ❖

Keesokan harinya, selepas salat Isya berjemaah di musala kecil dekat tempat tinggalnya, Bara memutuskan mengikuti saran Pak Abidin. Langkah kakinya membawanya menyusuri jalan setapak desa yang diterangi cahaya temaram lampu senter pinjaman dari Mang Dadang. Suara jangkrik malam dan deburan ombak di kejauhan berpadu mengiringi setiap langkahnya menuju surau tua yang terletak di balik rimbunnya pohon mangga besar.

Surau itu tampak sederhana, berdinding papan kayu bercat hijau pudar dengan lampu gantung tua di terasnya. Dari dalam bangunan kecil tersebut, terdengar suara merdu seorang pria paruh baya yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan nada tajwid yang begitu tenang dan menyejukkan hati.

Bara berhenti sejenak di dekat tangga kayu surau, meresapi setiap getaran suara yang keluar dari dalam ruangan. Ada kedamaian luar biasa yang langsung merasuk ke dalam relung dadanya, seolah menghapus penat dan beban pikiran yang menumpuk selama berbulan-bulan.

"Silakan masuk, Nak. Jangan ragu berdiri di luar seperti itu," sapa sebuah suara lembut dari arah pintu surau.

Bara terperanjat kaget. Ia mendapati seorang kakek berjenggot putih tipis mengenakan peci hitam beludru dan baju koko putih bersih sedang tersenyum ramah menyambutnya dari ambang pintu. Beliau adalah Kiai Hasan, pengurus sekaligus guru ngaji di surau tersebut.

"Maaf, Ki. Saya tidak bermaksud mengganggu," ucap Bara kikuk sambil melepaskan sandal jempitnya dan melangkah naik ke teras surau dengan sopan.

Kiai Hasan menggeleng pelan sambil membukakan pintu lebih lebar. "Tidak ada orang yang pernah dianggap mengganggu jika datang ke rumah Sang Pencipta dengan niat yang bersih. Masuklah, angin malam di luar tidak baik untuk kesehatanmu."

Bara duduk bersila di atas karpet hijau surau yang sederhana namun bersih. Aroma wangi kayu gaharu tercium samar-samar di dalam ruangan tersebut, menambah kekhusyukan suasana malam.

"Kau pemuda kota yang bekerja di galangan kapal Pak Abidin itu, bukan?" tanya Kiai Hasan ramah sambil meletakkan sebuah Al-Qur'an kecil berukuran sedang di atas meja kecil di hadapan mereka.

Bara mengangguk pelan, merasa heran bagaimana kakek sepuh itu bisa mengenalnya. "Iya, Ki. Nama saya Bara."

"Pak Abidin sudah bercerita banyak tentangmu," lanjut Kiai Hasan dengan senyuman hangat yang menenangkan. "Beliau bilang ada anak muda tangguh dari kota yang sedang mencari arah pulang di dalam jiwanya. Katakan pada saya, Bara... apa yang membuat hatimu begitu gelisah hingga malam-malam begini kau melangkah ke surau ini?"

Bara menunduk sejenak, merangkkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan seluruh pergulatan batinnya selama ini. "Saya lelah, Ki. Saya lari dari rumah karena tidak ingin hidup diatur oleh orang lain. Saya pikir dengan menjadi buruh kasar di pesisir ini, saya akan menemukan kebebasan dan ketenangan. Tapi kenyataannya, di saat sendiri, bayangan masa lalu dan ketakutan masa depan terus menghantui pikiran saya."

❖ ❖ ❖

Kiai Hasan mendengarkan setiap keluh kesah Bara dengan penuh perhatian, tanpa memotong atau menghakimi sedikit pun pilihan hidup yang telah diambil pemuda itu. Tatapan mata sang kakek begitu teduh, memancarkan kedalaman pengalaman hidup yang luar biasa luas.

"Lari dari rumah bukanlah sebuah jawaban akhir, Nak Bara," ucap Kiai Hasan lembut setelah Bara selesai mencurahkan isi hatinya. "Kau bisa pergi ribuan kilometer menjauh dari keluargamu, kau bisa mengubah penampilanmu, bahkan mengganti profesimu menjadi kuli paling tangguh di pelabuhan ini. Tapi selama hatimu masih dipenuhi kemarahan dan ketakutan pada masa lalu, kau tetap akan merasa terpenjara di mana pun kakimu berpijak."

Kalimat itu menohok langsung ke dalam kesadaran Bara. Rasanya bagaikan disiram air dingin di tengah hari yang terik. Selama ini ia bangga pada pelariannya, mengira bahwa kerja keras di galangan kapal sudah cukup untuk menebus kebebasannya. Namun ia lupa bahwa penjara terbesar sebenarnya bukan terletak pada rumah mewah di ibu kota, melainkan di dalam pikirannya sendiri.

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki?" tanya Bara lirih, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. "Saya tidak tahu harus mulai dari mana untuk mendamaikan isi kepala saya."

Lihat selengkapnya