Matahari pagi baru saja mengintip di balik punggung Gunung Wanasari, memantulkan cahaya keemasan di atas hamparan daun-daun gambir yang masih basah oleh embun. Di beranda rumahnya, Pak Abidin—seorang tokoh sepuh sekaligus pengawas senior perkebunan rakyat—tengah duduk menyortir beberapa lembar catatan hasil panen mingguan. Langkah kaki Bara yang mantap mendekati halaman membuat lelaki berpeci hitam itu mendongak dan tersenyum ramah.
"Pagi sekali, Bara. Kulihat semangat kerjamu tidak pernah surut sejak matahari pertama terbit di desa ini," sapa Pak Abidin sambil menunjuk kursi kayu kosong di sebelah mejanya.
Bara mengangguk sopan, lalu mengambil tempat duduk setelah menyalami tangan lelaki paruh baya tersebut. "Selamat pagi, Pak Abidin. Udara pagi di sini selalu membuat saya bersemangat untuk segera turun ke ladang."
"Bagus kalau begitu. Semangat anak muda memang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan kebun gambir kita yang mulai meremajakan tanaman tua," balas Pak Abidin sambil merapikan tumpukan kertas di hadapannya.
Beberapa hari terakhir, integritas dan kejujuran Bara dalam bekerja telah menarik perhatian khusus dari Pak Abidin. Di saat banyak buruh muda tergoda untuk mengambil jalan pintas dalam menimbang hasil panen, Bara selalu menunjukkan ketelitian dan kejujuran yang luar biasa tanpa ada niat berbuat curang sedikit pun. Sifat inilah yang akhirnya membuat Pak Abidin berniat memberikan kepercayaan lebih kepada pemuda asal ibu kota tersebut untuk mulai belajar mengelola administrasi kebun secara langsung.
"Bara, hari ini saya ingin kamu ikut mendampingiku mengecek hasil pencatatan logistik gudang sekaligus menghitung distribusi pupuk organik untuk kelompok tani bawah," ucap Pak Abidin dengan nada bicara yang tegas namun penuh kehangatan.
Bara tampak sedikit terkejut mendengar tawaran tersebut, namun secercah binar antusiasme langsung terpancar dari kedua matanya. "Sebuah kehormatan bagi saya, Pak. Tapi apakah saya sudah cukup mampu memegang urusan pencatatan penting seperti itu?"
❖ ❖ ❖
"Kepercayaan tidak datang begitu saja, Nak. Kamu mendapatkannya karena kejujuranmu selama dua pekan terakhir di kebun," jawab Pak Abidin sambil berdiri dan mengambil sebuah buku besar bersampul kulit hitam dari atas rak kayu.
Bara mengangguk perlahan, merasakan beban tanggung jawab baru yang mulai terpikul di pundaknya. "Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang telah Bapak berikan kepada saya."
Keduanya kemudian berjalan bersama menuju gudang penyimpanan hasil tani yang terletak di pusat dusun. Bangunan berdinding kayu jati tua itu tampak kokoh, dipenuhi aroma khas getah gambir kering dan pupuk kompos organik. Di dalam gudang, beberapa pekerja sedang menata karung-karung hasil panen yang siap dikirim ke luar kecamatan.
"Lihat buku catatan ini, Bar," kata Pak Abidin sambil membuka lembar demi lembar halaman buku besar tersebut di atas meja kerja kayu yang diterangi cahaya lampu gantung. "Setiap kilogram hasil panen yang masuk harus tercatat dengan teliti, tidak boleh ada selisih angka antara timbangan fisik dan laporan tertulis."
Bara mengamati setiap detail tulisan tangan di buku tersebut dengan seksama. Pengalamannya bekerja di bagian administrasi perusahaan besar di ibu kota membuat dirinya tidak merasa asing dengan sistem pembukuan, meskipun skala di desa ini jauh lebih sederhana dan tradisional.
"Saya mengerti, Pak Abidin. Prinsipnya tetap sama dengan pembukuan modern, hanya saja di sini kita mengandalkan asas kepercayaan antarwarga yang jauh lebih kuat," tanggap Bara cepat.
"Tepat sekali! Kepercayaan adalah mata uang utama di Wanasari. Jika mata uang itu rusak, maka seluruh tatanan kehidupan sosial kita akan ikut runtuh," tegas Pak Abidin memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga bagi Bara.
❖ ❖ ❖
Menjelang siang hari, aktivitas di sekitar gudang semakin padat. Beberapa ketua kelompok tani dari dusun sebelah datang membawa laporan hasil panen mingguan mereka. Bara diminta langsung oleh Pak Abidin untuk melayani pencatatan dan verifikasi data tersebut di hadapan para petani senior.