Matahari pagi di Desa Cibalik tidak pernah datang dengan tergesa-gesa. Sinar keemasannya merayap pelan menembus lapisan kabut tebal yang menggantung di pucuk-pucuk bukit, menciptakan gradasi warna putih susu dan hijau tua yang menenangkan jiwa. Udara subuh masih menyisakan dingin yang menggigit kulit, membuat setiap embusan napas mengepulkan uap tipis di udara. Di teras depan pondok kayu kecilnya, Bara duduk bersila di atas balai-balai bambu yang reot. Ia mengenakan jaket rajut tebal berbulu domba kasar dan celana jins belel yang telah menemaninya melewati pekan-pekan penuh peluh di ladang.
Di tangan kanannya, sebuah cangkir kaleng berkarat berisi kopi hitam panas mengepulkan aroma harum yang khas—aroma biji kopi pilihan hasil panen lokal yang disangrai sendiri oleh Mang Karta. Tidak ada suara deru kendaraan bermotor yang memekakkan telinga, tidak ada deringan ponsel cerdas bernada tinggi, dan tidak ada lagi bayang-bayang rapat korporat yang mencekik. Yang terdengar hanyalah simfoni alam: derik jangkrik malam yang bersiap tidur, kicauan burung betet liar di dahan mahoni, serta desau angin lembah yang menyapu dedaunan kopi dengan lembut.
"Pagi sekali kamu sudah bangun, Bara," sapa Mang Karta yang berjalan mendekat dari arah dapur terbuka, membawa sebaki pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan tanah liat.
Bara menoleh, tersenyum tulus menyambut pria paruh baya itu. "Udara pagi di sini terlalu indah untuk dilewatkan dengan tidur, Mang. Di kota besar dulu, saya bahkan lupa kapan terakhir kali melihat matahari terbit tanpa terhalang gedung-gedung pencakar langit."
Mang Karta tertawa kecil, meletakkan baki pisang di atas meja kayu kecil lalu ikut duduk bersila di samping Bara. "Kota besar itu tempat orang-orang berlari mengejar bayangan mereka sendiri, Nak. Padahal semakin cepat mereka berlari, semakin jauh mereka dari diri mereka yang sebenarnya."
❖ ❖ ❖
Bara menyeruput kopi hitamnya pelan-pelan. Rasa pahit yang pekat langsung memenuhi indra pengecapnya, diikuti oleh sensasi hangat yang merambat turun ke dada. Selama berminggu-minggu hidup di tempat terpencil ini, tujuan hidupnya telah mengalami pergeseran yang radikal. Jika dulu ia bangun pagi dengan beban target finansial perusahaan dan tuntutan sang ayah, kini tujuannya jauh lebih sederhana namun bermakna: merawat tanaman kopi, menyelesaikan pekerjaan ladang dengan jujur, dan menikmati ketenangan batin yang selama dua puluh empat tahun dirampas darinya.
"Hari ini rencana kita apa, Mang?" tanya Bara, menatap lekat perkebunan kopi yang membentang luas di lereng bukit di hadapan mereka.
"Hari ini kita tidak ke ladang atas," jawab Mang Karta sambil mengambil sepotong pisang goreng hangat. "Hari ini giliran kita menyortir biji kopi hasil panen minggu lalu di gudang pengeringan, lalu sorenya kamu bisa ikut Rinjani ke pasar desa untuk membeli beberapa keperluan dapur."
Mendengar nama Rinjani disebut, seulas senyum tipis terbit di bibir Bara. Sejak insiden kedatangan pengawal ayahnya beberapa waktu lalu, hubungan Bara dengan warga desa semakin erat. Terutama dengan Rinjani, gadis desa yang tidak pernah lekat memandangnya dengan rasa ingin tahu sekaligus kekaguman atas keteguhan tekadnya. Bagi Bara, berada di dekat Rinjani memberikan rasa damai yang tidak pernah ia temukan dari para wanita sosialita kelas atas di ibu kota.
"Baiklah, saya akan selesaikan penyortiran biji kopi itu dengan teliti," ucap Bara mantap. "Saya ingin memastikan kualitas kopi Cibalik ini benar-benar sempurna sebelum dikirim ke pengepul distrik."
"Bagus kalau begitu semangatmu," puji Mang Karta menepuk bahu Bara pelan. "Dulu kukira kamu cuma anak manja kota yang numpang lewat untuk cari sensasi pelarian. Tapi sekarang, kamu sudah jadi bagian dari denyut nadi desa ini, Bara."
Bara mengangguk pelan. Pujian sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada berlembar-lembar bonus eksekutif atau penghargaan bisnis yang pernah diraihnya di bawah bendera Grup Adhitama. Di sini, pengakuan didapatkan dari keringat dan ketulusan, bukan dari silsilah keluarga atau jumlah saldo rekening di bank.
❖ ❖ ❖
Selesai menikmati sarapan sederhana berupa pisang goreng dan kopi hitam, Bara dan Mang Karta bergegas menuju gudang pengeringan kayu yang terletak di samping rumah. Gudang itu berbau harum khas biji kopi kering yang berpadu dengan aroma kayu pinus. Di dalam ruangan yang diterangi cahaya matahari pagi melalui celah-celah dinding bilik bambu, tumpukan biji kopi berkualitas tinggi tersusun rapi di atas nampan-nampan besar.
"Pekerjaan menyortir ini butuh kesabaran ekstra, Bara," kata Mang Karta sambil mencontohkan cara memilah biji kopi yang cacat atau berukuran terlalu kecil. "Kamu harus teliti memisahkan yang prima dari yang rusak, karena kualitas secangkir kopi ditentukan dari ketelitian di meja sortir ini."
Bara mengangguk, duduk di bangku kayu kecil lalu mulai memilah biji-biji kopi tersebut dengan kedua tangannya. Meskipun telapak tangannya masih menyisakan bekas luka kapalan dan jaringan parut dari batu cadas beberapa waktu lalu, gerakan jarinya kini jauh lebih cekatan dan terarah. Setiap biji kopi yang ia sentuh seolah menyampaikan cerita tentang kerasnya perjuangan tanah dan ketekunan para petani lokal.
Sambil bekerja dalam keheningan yang damai, pikiran Bara sempat melayang sejenak ke dunia lamanya. Di ibu kota sana, sang ayah mungkin sedang menatap layar monitor dengan amarah yang membara, merencanakan langkah-langkah korporat berikutnya untuk menariknya kembali ke sangkar emas. Namun, anehnya, bayang-bayang itu kini terasa begitu jauh, seolah berasal dari kehidupan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya saat ini.
"Ada apa, Bara? Kenapa tiba-tiba melamun?" tanya Mang Karta menyadarkannya dari lamunan.
Bara menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa, Mang. Saya cuma merasa... hidup ini ternyata jauh lebih luas dan tenang dari apa yang selama ini saya bayangkan di balik tembok beton pencakar langit."
❖ ❖ ❖
Menjelang siang hari, pekerjaan penyortiran biji kopi di gudang selesai dengan sempurna. Ratusan kilogram biji kopi unggulan kini tersusun bersih di dalam karung-karung goni siap kirim. Bara meregangkan otot punggungnya yang sedikit kaku, lalu memutuskan berjalan menuju mata air di dekat kaki bukit untuk menyegarkan diri sebelum sore menjelang.
Perjalanan menuju mata air melewati jalan setapak berbatu yang dikelilingi semak belukar rimbun. Suara gemercik air yang jernih dan dingin langsung menyambut telinganya begitu ia mendekati sumber air alami tersebut. Namun, saat ia hendak membasuh wajahnya di tepi kolam kecil, langkahnya terhenti seketika.