Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Kenangan masa lalu sesekali menghampiri

Kabut pagi di Dusun Gambir tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya bergeser, menyelimuti pepohonan mahoni tua sebelum turun membasahi permukaan dedaunan gambir yang lebar. Pukul lima lebih lima belas menit. Udara pegunungan yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun bagi Bara, aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari tungku pengolahan adalah wewangian paling menenangkan yang pernah ia hirup.

Bara berdiri di ambang pintu gubuk kayunya, menyesap kopi hitam tanpa gula dari cangkir batok kelapa. Di hadapannya, lembah terbentang luas, sebuah permadani hijau yang perlahan mulai menampakkan diri seiring matahari mengintip dari balik punggung bukit. Suara kicauan burung hutan dan derit bambu yang tertiup angin menjadi satu-satunya musik yang ia dengarkan selama berbulan-bulan ini.

Dulu, dunianya adalah deru mesin AC di lantai empat puluh gedung pencakar langit, lampu neon yang menyilaukan mata, dan denting jam antik yang senantiasa menuntut efisiensi waktu. Sekarang, dunianya adalah ritme alam. Ia tidak lagi peduli pada kenaikan harga saham atau agenda rapat direksi yang membosankan. Di sini, waktu tidak diukur dengan angka di layar monitor, melainkan dengan seberapa jauh matahari telah bergeser dari puncak pohon.

"Pagi, Bara! Mau ke lereng barat hari ini?" teriak Pak Joko dari kejauhan, suaranya memecah kesunyian pagi.

Bara mengangkat cangkirnya, memberi isyarat setuju. "Tentu, Pak Joko! Saya menyusul sepuluh menit lagi!"

Ia meletakkan cangkir itu di meja kayu yang kasar, lalu meraih parang tajam yang tersandar di dinding. Saat ia menatap bayangannya di permukaan air dalam ember, ia melihat seorang pria yang sangat berbeda. Wajahnya yang dulunya halus dan bersih kini terlihat lebih keras, dengan rahang yang tegas dan kulit yang lebih gelap terbakar matahari. Namun, tatapan matanya—yang dulu penuh dengan ambisi dingin—kini menyimpan kedamaian yang tak pernah ia sangka akan ia temukan di tempat sejauh ini dari peradaban kota.

❖ ❖ ❖

Berjalan menyusuri jalan setapak yang licin, Bara merasakan otot-otot kakinya bekerja dengan harmoni yang sempurna. Tujuan utamanya hari ini bukan lagi memenangkan tender atau mengamankan posisi pewaris korporasi, melainkan memastikan pasokan daun gambir untuk kelompok tani di lereng barat terjaga kualitasnya.

"Kenapa kau begitu bersemangat membantu kami, Bara?" tanya Pak Joko saat mereka mulai mendaki jalur yang lebih curam. "Padahal kau bisa saja duduk tenang dan menunggu kiriman uang dari orang-orang kota itu."

Bara menghentikan langkahnya sejenak, menatap rimbunnya semak gambir di depannya. "Saya tidak ingin uang dari sana lagi, Pak Joko. Saya ingin memastikan bahwa hasil keringat kalian mendapatkan harga yang layak. Jika kita bisa mengolah kualitas gambir ini agar lebih murni, kita bisa memotong jalur tengkulak yang selama ini menekan harga kalian."

Itu adalah tujuannya sekarang: kemandirian. Ia ingin membuktikan bahwa dusun ini bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus-menerus disuap oleh modal besar yang sering kali hanya membawa kehancuran. Setiap langkah yang ia ambil, setiap dahan yang ia potong, adalah bagian dari visi untuk membangun ekonomi dusun yang tangguh.

"Tapi orang-orang di kota tidak akan tinggal diam," gumam Pak Joko khawatir. "Mereka punya kuasa, punya hukum, dan punya banyak uang."

"Kuasa mereka berhenti di gerbang hutan ini, Pak," jawab Bara mantap. "Selama kita kompak, selama kita mengolah hasil bumi kita dengan standar yang lebih baik, mereka tidak bisa memainkan kita sesuka hati. Saya sudah melihat bagaimana mereka bekerja di sana. Mereka lemah jika kita tidak bergantung pada mereka."

Bara tahu bahwa ia sedang bermain api. Namanya mungkin masih tercatat dalam dokumen-dokumen penting di ibu kota, dan ayahnya mungkin masih mencarinya. Namun, setiap hari yang ia habiskan di dusun ini memperkuat tekadnya. Ia telah jatuh cinta pada tanah ini. Ia mencintai cara penduduknya bekerja dengan jujur, cara mereka saling berbagi makanan di saat sulit, dan cara mereka menghargai setiap tetes keringat yang jatuh ke bumi.

Tujuan Bara kini adalah menjadi bagian dari desa ini sepenuhnya. Ia ingin menetap, membangun sistem koperasi yang adil, dan memastikan tidak ada lagi campur tangan korporasi yang merusak tatanan hidup masyarakat pegunungan yang sederhana ini.

❖ ❖ ❖

Saat mereka berdua sampai di titik tertinggi lereng, pemandangan kota di kejauhan tampak seperti titik-titik cahaya kecil yang memudar di balik kabut tebal. Sesekali, memori tentang kehidupan masa lalunya menyerbu benaknya tanpa diundang. Ia teringat suara ketukan sepatu di atas lantai marmer, wajah dingin ayahnya di balik meja kerja mahoni, dan tatapan penuh perhitungan Kirana yang selalu menuntut loyalitas.

"Kau melamun, Bara?" Pak Joko menyenggol lengannya.

Bara tersentak dari lamunannya. "Hanya terpikir sesuatu yang tidak penting, Pak."

Memori itu adalah racun. Setiap kali ia teringat kehidupan lamanya, ia merasakan sensasi sesak di dadanya, seperti ada tali yang menariknya kembali ke lubang hitam yang telah ia tinggalkan. Namun, ia segera menepisnya. Ia menutup matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan udara dingin pegunungan membersihkan pikirannya.

Ia menatap tangannya yang kasar, penuh dengan kapalan hasil kerja keras. Ini adalah tangannya sekarang. Bukan tangan yang menandatangani kontrak bernilai miliaran, bukan tangan yang memegang pena emas, melainkan tangan yang memegang parang dan mencangkul tanah. Ia merasa jauh lebih hidup dengan cara ini.

"Dulu, saya pikir kebahagiaan itu ada di puncak pencapaian," ucap Bara pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

"Dan sekarang?" Pak Joko bertanya sambil mulai menebas dahan gambir yang tidak produktif.

"Sekarang saya tahu, kebahagiaan itu ada di puncak bukit saat matahari terbit, dan saat kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan hari ini memberi makan banyak orang," jawab Bara tersenyum.

Transisi dari seorang eksekutif menjadi buruh perkebunan memang drastis, tapi baginya, itu adalah proses penyembuhan. Ia tidak lagi merasa perlu membuktikan siapa dirinya kepada siapa pun. Di dusun ini, ia hanya Bara. Bukan pewaris, bukan target pengintaian, bukan pion dalam permainan catur ayahnya. Ia adalah seseorang yang dihargai karena kerja keras dan kemauan baiknya. Dan itulah yang membuatnya betah. Ia telah jatuh cinta, bukan pada seseorang, melainkan pada ketenangan yang ia temukan di sini.

❖ ❖ ❖

Ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat mereka sedang asyik memanen daun, seorang anak dusun bernama Tono berlari mendaki lereng dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi, menunjukkan ketakutan yang luar biasa.

"Bara! Pak Joko!" teriak Tono dari kejauhan. "Di bawah! Ada orang-orang berseragam datang ke dusun! Mereka membawa mobil besar dan senjata!"

Bara langsung meletakkan parangnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu siapa yang datang. "Berapa banyak?"

"Banyak! Mereka mengepung pos administrasi!"

Bara segera menoleh ke arah Pak Joko. "Bawa semua orang masuk ke dalam hutan lebat. Jangan lewat jalan setapak. Pergilah ke gua batu di balik tebing!"

"Lalu kau?" tanya Pak Joko dengan nada cemas.

"Saya harus melihat siapa yang datang. Saya tahu mereka mencari saya," jawab Bara dengan suara yang tetap tenang, meski ia tahu nyawanya sedang dipertaruhkan.

Bara segera berlari turun, namun ia tidak mengikuti jalur utama. Ia bergerak lincah melewati celah-celah pohon besar, memanfaatkan pengetahuan medan yang telah ia pelajari selama berbulan-bulan. Ia harus memastikan apakah ini memang suruhan ayahnya atau pihak lain yang ingin menghancurkan dusun ini.

Dari balik semak-semak di pinggiran dusun, Bara melihat pemandangan yang membuatnya murka. Beberapa pria berjas hitam sedang menginterogasi warga dusun dengan kasar. Mobil-mobil mewah mereka memarkir seenaknya di tengah lapangan desa, merusak tanaman hias milik warga. Salah satu pria, yang tampak seperti pemimpin mereka, memegang foto dirinya yang dicetak besar.

Lihat selengkapnya