Penyamaran Bara

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Ujian Tanah Timur

Matahari baru saja merayap naik di balik punggung bukit Lembah Selatan, menyisakan kabut tipis yang merayap lambat di antara barisan pohon gambir. Udara pagi itu terasa dingin, menggigit kulit siapa saja yang belum terbiasa dengan iklim pegunungan. Di kebun bagian timur, tanahnya tidak sesubur wilayah barat atau selatan tempat Bara biasa bekerja selama beberapa bulan terakhir. Di sini, kontur tanahnya bergelombang curam, penuh dengan bebatuan cadas yang tersembunyi di balik semak belukar liar, serta aliran air bawah tanah yang membuat permukaan tanah menjadi sangat licin dan labil.

Bara berdiri di tepi jurang kecil sambil mengenakan sarung tangan kain yang sudah usang dan robek di bagian jempolnya. Di tangannya, sebuah parang panjang berkilau terkena pantulan cahaya matahari pagi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan aroma getah gambir dan tanah basah yang pekat. Perubahan fisik yang dialaminya selama tinggal di desa begitu nyata; otot-otot lengannya kini tampak lebih padat, telapak tangannya dipenuhi lapisan kapalan tebal, dan sorot matanya tidak lagi menyiratkan keraguan seperti saat pertama kali ia datang sebagai pemuda manja dari kota besar.

"Jangan melamun, Bara! Medan di timur ini tidak seramah kebun dekat pondok utama," suara serak Pak Senen memecah keheningan pagi. Buruh tani senior itu berjalan mendekat sambil memanggul cangkul bermata tajam, diikuti oleh Rian yang membawa keranjang bibit tambahan.

"Aku tidak melamun, Mbah. Hanya sedang membaca kontur tanahnya," jawab Bara tersenyum tipis, menatap hamparan lahan curam di hadapannya.

"Membaca kontur tanah di atas kertas gambar itu gampang, Mas. Tapi membaca kemarahan alam di lereng curam ini butuh keringat dan ketulusan," timpal Rian sambil tertawa kecil, melemparkan sebotol air kendi ke arah Bara yang langsung disambkapnya dengan sigap.

❖ ❖ ❖

Hari itu, tantangan terbesar yang harus dihadapi Bara dan tim kecilnya adalah membuka lahan baru seluas dua hektar di lereng timur yang terkenal rawan longsor. Pak Abidin memberikan kepercayaan penuh kepada Bara untuk memimpin pengerjaan pembukaan jalur drainase dan penanaman seratus bibit unggul gambir di area tersebut sebelum musim hujan puncak datang menghantam wilayah lembah. Bagi Bara, misi ini bukan sekadar tugas harian dari pemilik perkebunan, melainkan sebuah ujian akhir bagi integritas dan kemampuannya memadukan teori arsitektur tata ruang dengan kearifan lokal.

"Dengar baik-baik, anak muda," ujar Pak Abidin yang tiba-tiba muncul dari balik rimbunnya pohon pisang hutan, mengenakan topi jerami lebar dan tongkat kayu di tangannya. "Kebun timur ini adalah ujian terberat bagi kesabaranmu. Kalau kamu membangun saluran air sembarangan di sini, air hujan pertama akan merontokkan seluruh tebing dan menghanyutkan kerja keras kita selama berbulan-bulan."

"Aku paham, Pak Abidin," jawab Bara mantap, menatap lurus ke dalam mata pria tua itu. "Aku sudah merancang sistem terasering sederhana yang mengikuti kontur alami lereng, bukan melawannya. Kita akan mengalirkan air ke kantong-kantong resapan alami di bawah."

"Bagus kalau kamu sudah berpikir sampai ke sana," puji Pak Abidin dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. "Tunjukkan bahwa keputusanmu bertahan di desa ini bukan hanya pelarian kekanak-kanakan, tetapi awal dari kelahiran seorang pria sejati."

Setelah Pak Abidin berlalu meninjau sektor lain, Bara langsung mengumpulkan Rian, Pak Senen, dan beberapa buruh tani senior untuk membagi tugas secara terperinci. Ia merentangkan seutas tali rafia di atas tanah miring untuk menandai batas jalur terasering yang akan mereka cangkul bersama.

"Kita mulai dari bagian paling atas lereng ini," instruksi Bara dengan suara tegas namun tetap bersahabat. "Pak Senen dan Mbah Marto pegang kendali di sektor tengah, sementara aku dan Rian akan membuka jalur aliran air di sisi barat tebing."

"Siap, Komandan Kota!" kelakar Rian mencairkan ketegangan, disusul tawa kecil dari para buruh senior yang langsung mengambil posisi kerja masing-masing.

❖ ❖ ❖

Aktivitas pembukaan lahan pun dimulai dengan penuh semangat. Suara hantaman cangkul ke tanah keras dan gesekan parang memotong semak belukar berirama konstan di bawah terik matahari pagi yang semakin meninggi. Namun, baru dua jam bekerja, ujian sesungguhnya mulai menunjukkan taringnya.

Tanah di sektor barat tebing yang dikerjakan Bara ternyata jauh lebih rapuh dari perkiraan semula. Di bawah lapisan humus tipis, terdapat gundukan batu cadas besar yang mengunci aliran air bawah tanah, menciptakan kantong lumpur isap yang tersembunyi. Ketika Bara mencoba menghujamkan linggisnya ke dalam tanah untuk memecah batu tersebut, tiba-tiba tanah di bawah pijakannya amblas seketika.

"Awas, Mas Bara!" teriak Rian panik sambil melompat menerjang ke depan untuk menarik lengan Bara.

Bruk! Bara terjatuh ke samping, sementara bongkahan tanah basah dan batu-batu besar meluncur deras ke bawah jurang, menimbulkan suara gemuruh tertahan di antara pepohonan. Napas Bara memburu, keringat dingin bercampur debu tanah mengalir deras di pelipisnya. Ia menatap ke dalam lubang amblas yang kini mengeluarkan rembesan air keruh.

"Kamu tidak apa-apa, Mas?" tanya Rian cemas, membantu Bara berdiri dan membersihkan lumpur di celana lapangan temannya itu.

"Aku tidak apa-apa, Rian... Terima kasih," jawab Bara dengan suara tercekat, menatap ngeri ke arah longsoran kecil di hadapannya.

Pak Senen dan Mbah Marto yang mendengar keributan itu segera berlari mendekat. Wajah buruh tua itu tampak tegang ketika melihat kondisi tanah yang baru saja runtuh.

"Tanah di sini seperti monster tidur, Bara," ucap Pak Senen serius. "Kalau kamu salah langkah sedikit saja, bukan cuma saluran air yang hancur, nyawamu pun bisa melayang terbawa longsor."

❖ ❖ ❖

Kejadian amblasnya tanah itu mengubah suasana kerja di kebun timur menjadi jauh lebih tegang. Matahari kini tepat berada di atas kepala, memancarkan panas menyengat yang membakar punggung dan membuat tenggorokan terasa kering seperti gurun. Tantangan fisik tidak lagi sekadar rasa lelah otot, melainkan pertarungan mental melawan rasa takut dan keputusasaan di tengah medan yang berbahaya.

Lihat selengkapnya